Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 167


__ADS_3

"Assalamualaikum, Sasa. Aku senang kamu hari ini tidak pergi ke kampus. Jika kamu pergi, aku tidak tahu harus melakukan apalagi." Firda masuk ke dalam kamar tanpa dipersilakan dan duduk di atas ranjang tempat tidur Sasa.


Besok adalah hari terakhir ustadz Azam di kota ini dan dia tidak tahu kapan lagi bertemu dengannya jadi dia akan berusaha semampu mungkin agar bisa bertemu hari ini atau kalau tidak besok. Dia percaya tidak ada usaha yang sia-sia selama orang itu mau berusaha.


"Kamu membutuhkan bantuanku?" Sasa membiarkan pintu kamarnya terbuka dan duduk di kursi meja belajar.


Bukannya dia ingin berprasangka buruk kepada Firda, tidak, dia bukan orang yang seperti itu. Hanya saja ketika melihat ketertarikan Firda kepada kakaknya, dia berpikir dan memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan Firda. Dia takut Firda menggunakan alasan pertemanan mereka untuk dekat dengan kakaknya.


"Iya, kamu tahu kan aku pernah bilang kalau waktu-waktu ini aku mungkin akan mencari kakakmu untuk menanyakan sesuatu. Dan beberapa hari ini aku sudah bolak-balik pergi ke hotel tempat dia menginap sebelumnya, nomor pelayan hotel mengantarkan bahwa dia sudah lama pindah dan aku tidak tahu harus mencari kemana lagi. Jadi aku pergi mencarimu. Apakah kamu tahu di hotel mana tempat kakakmu tinggal?" Mana mungkin adiknya tidak tahu, Firda diam-diam berbicara di hatinya.

__ADS_1


Pertanyaan ini akhirnya datang. Sasa tersenyum tipis berpura-pura tidak melihat atau mengerti tujuan Sasa mencari kakaknya.


"Kakakku baru saja kembali ke kota tadi pagi. Dia bilang semua urusan di kota ini sudah selesai jadi dia bisa langsung pulang ke rumah." Sasa menjatuhkan bom kepada Firda.


Firda sama sekali tidak tahu jika ustadz Azam telah kembali ke kota asalnya. Dia mengira jika perjalanan bisnis ustadz Azam akan memakan waktu selama 3 atau 4 hari karena untuk perusahaan sebesar itu pasti banyak urusan yang harus segera diselesaikan dan akan memakan banyak waktu. Tapi yang tidak dia sangka adalah ustadz Azam menyelesaikan semuanya dalam waktu 2 hari, dua hari lebih cepat dari yang dia harapkan.


"Sudah pulang? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Tanya Firda dengan nada tinggi.


Sasa masih tersenyumlah meladeninya.

__ADS_1


"Aku juga baru mengetahuinya tadi siang. Kak Azam bilang kak Mega sedang mengidamkan masakan buatan kak Azam. Kalau bukan kak Azam yang memasak, kak Mega tidak akan mau makan. Mama dan keluarga yang lain sangat cemas, jadi mereka buru-buru mendesak kakak untuk segera pulang. Untungnya kakak sudah menyelesaikan semua pertemuan penting, dan sisanya diserahkan kepada asisten yang dia bawa ke sini. Jadi dia bisa segera pulang dan memenuhi keinginan istrinya." Sasa dengan murah hati mengungkapkan kehamilan Mega kepada Firda. Jika Firda adalah wanita yang berpikir dengan kepalanya, dia pasti tidak akan memikirkan kakaknya lagi. Namun jika dia tipe wanita yang bersikeras dan tidak tahu malu, maka lupakan saja. Dia tidak akan berbicara dengannya lagi.


"Istri kakak kamu sangat manja.." Kata Firda masam.


"Namanya juga sedang hamil, kalau nggak diturutin Ibu dan anak tidak akan bahagia. Wanita manapun kalau sudah hamil pasti akan berada di fase ini, jadi ini wajar-wajar saja dan kita sebagai seorang wanita tidak boleh heran." Ujar Sasa tidak setuju dengan apa yang Firda katakan.


Firda menggigit bibirnya malu. Mengepalkan kedua tangan karena cemburu, dia langsung pergi tanpa mengucapkan pamit kepada Sasa.


"Kak Azam harus memberikan berkompensasi." Gumam Sasa tersenyum sumringah ketika melihat Firda pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2