
Ia menarik kain jilbab Asri menjauh, perlahan Arka menurunkan tangannya dari kepala Asri seraya membawa atensinya menatap wajah tertunduk Asri.
Jujur, Asri selalu tampil cantik di sisi manapun. Entah itu dengan jilbab atau tidak, dia selalu cantik. Hanya saja menurut Arka jika Asri berlipat-lipat cantik bila jilbabnya dilepas. Karena dengan begitu rambut hitam panjangnya bisa terpampang, menambah keindahan wajah tertunduk Asri.
"Aku..aku akan membersihkan diri terlebih dahulu." Asri melarikan diri ke dalam kamar mandi.
Meninggalkan Arka di tempat yang lagi-lagi gatal ingin tertawa.
Derd
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Arka tanpa berpikir panjang membukanya dan melihat pesan dari seseorang yang pernah menjadi tokoh utama di kehidupan masa lalunya.
Lisa
Sayang, sebentar lagi aku akan pulang! Katakan hadiah apa yang kamu inginkan dan aku akan membawanya langsung kepadamu!
Diam, Arka langsung mematikan layar ponselnya tanpa niat untuk membalas. Wajahnya menjadi muram, suasana hati menyenangkan yang ia miliki sebelumnya telah pergi entah kemana. Dia mengusap wajahnya kasar, menatap tidak puas pada hamparan kelopak bunga mawar yang telah tersebar di area kamarnya.
Beberapa menit kemudian Asri keluar dari kamar mandi dan cukup shock melihat kelopak bunga mawar yang tadinya tersebar merata kini berterbangan dimana-mana, meninggalkan sisi botak di beberapa tempat.
"Aku sudah selesai, Mas." Kata Asri pada suaminya yang kini tengah terduduk di atas lantai.
"Oh," Dia bangun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Asri merasa ada sesuatu yang aneh karena ekspresi muram di wajah Arka terlihat sangat jelas. Seolah-olah ia sangat marah.
__ADS_1
"Apa ini ada hubungannya denganku?" Gumam Asri gugup.
Tidak mau ambil pusing, Asri buru-buru mencari sajadah untuk melaksanakan sholat sunah bersama Arka nanti tapi ia tidak menemukannya dimana pun.
Pasrah, Asri memutuskan untuk duduk di kasur menunggu suaminya keluar sambil berzikir ringan untuk menenangkan perasaan gugupnya.
"Lho, kamu belum tidur?"
Tanya Arka begitu keluar. Ekspresi wajahnya sudah menjadi normal. Malah ada senyum aneh yang selalu membuat Asri geli setiap kali melihatnya.
"Kita..." Asri ragu mengatakannya.
Arka tiba-tiba memasang ekspresi pengertian. Dengan langkah kaki besar ia berjalan mendekati Asri, membuat Asri mengambil gerakan antisipasi.
Arka tanpa aba-aba peringatan mendorong Asri ke kasur, kemudian mengungkungnya di bawah tubuh Arka. Posisi tubuh mereka terlihat sangat intim dan intens, seolah-olah ini adalah langkah pertama mereka melakukan hal-hal yang menggairahkan.
Diam, Arka tidak menjawab apa yang dikatakan Asri. Kedua mata Arka hanya fokus memandangi wajah cantik Asri selama beberapa waktu, memandanginya untuk alasan yang tidak diketahui.
Asri mengangkat kepalanya ingin bangun,"Mas kita harus sholat dulu-"
"Kita tidak akan melakukan apapun malam ini." Kata Arka seraya menjetik kening Asri.
"Apa?" Asri memasang ekspresi konyol di wajahnya.
Arka tertawa rendah. Dia lalu menyingkir dari atas tubuh Asri dan ikut berbaring di samping.
__ADS_1
"Kenapa? Apakah kamu tidak terima?" Tanya Arka bercanda.
Asri gelagapan,"Tidak...tidak, kok! Siapa yang tidak terima."
Asri lega namun pada saat yang bersamaan juga kecewa. Entahlah, perasaannya benar-benar tidak menentu malam ini.
"Aku tahu." Kata Arka mulai terlihat serius.
"Kamu telah memiliki Kevin di hatimu dan aku juga telah memiliki seseorang di dalam hatiku." Kata Arka membuat Asri terkejut.
Dia tidak menyangka jika Arka ternyata telah memiliki seseorang- ah, akan aneh rasanya jika orang seperti Arka tidak memiliki kekasih. Hanya saja kedengarannya agak menyebalkan karena status mereka sekarang adalah suami-istri.
"Hanya saja karena ada beberapa alasan kita tidak bisa bersatu dengan orang yang kita cintai itu. Mungkin karena mereka telah menyukai orang lain, atau mungkin karena mereka telah terikat perjodohan dengan orang lain, dan mungkin saja itu karena mereka tidak benar-benar tulus terhadap kita. Semua itu mungkin saja terjadi tapi yang pasti mereka sekarang tidak ada hubungannya dengan kita." Arka masih terus berbicara di samping Asri.
"Aku adalah seorang laki-laki, jujur melewati malam pertama denganmu bukanlah sebuah masalah untukku tapi...aku tidak bisa melakukannya karena di hati kita masih belum sepenuhnya hilang jejak dari masa lalu. Aku tidak ingin menyentuhmu di saat hatiku menginginkan gadis lain dan aku juga tidak mungkin menyentuhmu di saat hatimu menginginkan laki-laki lain. Aku tidak bisa...tapi anehnya, aku juga tidak bisa melepaskan kamu, Asri. Padahal jika aku mau pernikahan ini tidak akan terjadi sehingga hati kita tidak akan terganggu untuk satu sama lain, kamu bisa menikah dengan Kevin dan aku bisa memulai hubungan lagi dengan gadis itu. Akan tetapi lagi-lagi aku tidak bisa. Aku menikahi mu murni karena aku ingin, meskipun aku maupun kamu masih belum bisa sepenuhnya terlepas dari masa lalu. Akan tetapi dengan pernikahan ini aku sangat berharap jika kita berdua bisa melepaskan diri dari masa lalu dan memulai hubungan yang serius bersama seperti pasangan suami-istri di luar sana, Asri, maukah kamu?" Ujar Arka seraya membawa pandangannya menatap sang istri yang juga entah sudah sejak kapan melihatnya.
Arka tidak tahu. Dia baru sehari bertemu dengan Asri tapi hatinya sudah merasa sangat nyaman. Ia memiliki keinginan untuk lebih dekat lagi dengannya, ia memiliki keinginan untuk bisa terikat dengannya dan anehnya...rasa ini baru ia rasakan setelah bertemu dengan Asri.
Bahkan Lisa, gadis dari masa lalunya saja tidak pernah membuatnya merasa seperti ini.
"Aku mau, Mas." Asri tidak menolak.
Apa yang dikatakan Arka memang benar.
Mereka masih belum terlepas dari masa lalu tapi bukan berarti tidak mau melepaskan diri. Justru dengan adanya pernikahan ini memberikan mereka peluang untuk mulai membangun sebuah hubungan yang serius dan jauh dari masa lalu, untuk itu Asri tidak ragu untuk menyambut uluran tangan Arka.
__ADS_1
"Sungguh?" Arka tersenyum lebar.
Asri menjawab lembut,"Aku mau memulai semuanya dari awal bersama dengan Mas Arka, melepaskan diri dari masa lalu dan membangun hubungan yang serius diantara kita berdua. Mas Arka, aku mau!"