Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
58. Bukan Duren


__ADS_3

"Aku mau, Mas." Bisik Asri menginginkan.


Dia harus mengukuhkan ikatan pernikahannya dengan Arka sebelum Lisa masuk kembali ke dalam kehidupan Arka dan mengambil Arka dari hidupnya. Asri tidak menginginkan hasil ini. Dia ingin pernikahannya dengan Arka bertahan hingga di Jannah nanti.


"Lalu pakailah pakaian ini." Bujuk Arka masih belum menyerah menjahili istrinya.


Asri melihat lingerie seksi di atas lantai, dalam sekejap kepalanya langsung bergerak liar menolak ide itu. Berkali-kali pun ia lihat pakaian itu tidak akan pernah bisa masuk di dalam matanya.


"Jadi kamu tidak menginginkan bayi?" Arka membuat Asri terpojok.


Asri gatal ingin mencubit telinga suaminya. Padahal sudah berkali-kali ia mengatakan bahwa ia ingin bayi tapi suaminya tetap saja memintanya menggunakan pakaian yang sudah jelas-jelas tidak ingin ia pakai.


"Aku mau, Mas Arka, tapi aku tidak mau menggunakan pakaian itu! Tidak bisakah kita melakukannya... dengan.. normal saja?" Lagi-lagi pipinya bersemu merah.


Arka menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia menolak permintaan istrinya,"Aku tidak mau." Tolaknya.


Asri cemberut. Padahal dia sudah menggunakan seluruh keberaniannya untuk meminta ini kepada suaminya, tapi bukannya langsung mau suaminya justru memintanya untuk menggunakan hal-hal yang sangat vulgar, uh!


"Tapi bila kamu bisa memenuhi syarat ini maka aku tidak akan memaksamu menggunakan pakaian ini dan bayi yang kamu inginkan akan segera ku berikan."


Asri mengernyit tidak suka, sebab ini adalah hubungan pribadi antar suami istri tidak seharusnya mereka menggunakan syarat atau apa pun itu. Tapi yah, karena mereka sejak awal tidak memiliki hubungan apa-apa maka anggap saja persyaratan ini sebagai metode pendekatan secara tidak langsung.


"Apa syaratnya, Mas?" Asri bertanya antusias.


Arka menyeringai lebar, dengan langkah ringan ia perlahan mendekati Asri di atas ranjang dan membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Duren?" Tanya Asri ragu.


"Bukan duren." Koreksi Arka sembari memutar bola matanya tidak berdaya, menunduk kembali untuk berbisik di dalam telinga Asri, ia menegaskan syarat yang harus istrinya penuhi.


Asri mengernyit bingung,"Dimana aku bisa mendapatkannya? Apakah ini juga dijual di toko buah sama seperti durian?"


Pasalnya Asri tidak pernah mendengar nama ini dan di tambah lagi, nama ini mirip dengan buah durian jadi pikiran pertamanya adalah bila syarat yang diminta suaminya ini adalah salah satu buah yang memiliki kemiripan dengan durian. Sebenarnya, aneh juga melihat suaminya meminta buah.


Tapi ya sudahlah, Asri tidak akan protes kali ini. Daripada menggunakan pakaian vulgar itu, lebih baik ia memenuhi syarat dari suaminya saja.


Toh, ini juga jauh lebih mudah.

__ADS_1


"Pfft...toko buah?" Arka sontak menutup mulutnya menahan tawa.


Asri pikir ini tidak lucu.


"Iya, Mas. Apa ini juga dijual di toko buah?" Asri mengulangi kembali apa yang ia tanyakan.


Arka kehilangan kendali. Ia tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutnya menahan kram. Sedangkan tangannya yang satu menutupi wajahnya yang memerah di bawah pengawasan mata Asri.


Asri berpikir lagi, apakah ini aneh?


Perasaan ini tidak aneh dan pertanyaannya pun tidak aneh, pertanyaan ini normal-normal saja pikir Asri. Tapi mengapa suaminya tertawa selepas ini?


Seolah-olah pertanyaan Asri sangat lucu.


"Tidak, aku tidak akan memberitahumu." Jawab Arka di sela-sela tawanya.


"Ini adalah tugas kamu sendiri dan aku tidak akan membantumu. Bila kamu memang benar-benar menginginkan bayi, maka kamu pasti bisa menemukan barang yang aku inginkan. Tapi jika tidak, maka bayi yang kamu inginkan tidak akan pernah terwujud."


Asri cemberut, ia menarik selimut dan merebahkan dirinya di atas kasur."Kamu harus tepati janjimu, Mas!" Ancam Asri sebelum memunggungi Arka.


Dini hari, pukul setengah 3. Mata almond itu bersinar terang dengan warna agak merah sisa-sisa dari dunia mimpi yang sempat ia singgahi sebelumnya. Terbangun mengikuti jam biologisnya, pemilik mata almond itu mengedarkan pandangannya menatap sekeliling sembari mengepaskan cahaya masuk ke dalam mata almond nya.


Samar, dengan cahaya lampu tidur perhatian mata almond itu ditarik oleh benda-benda yang berserakan secara terpisah di atas lantai- oh, itu adalah beberapa pasang pakaian yang tergeletak tidak berdaya di atas dinginnya lantai seolah sengaja dilempar karena terdesak-


Tidak berselang lama, ingatan manis nan penuh candu itu membanjiri kepala sang pemilik mata almond. Ia mengusap wajahnya dengan senyum sumringah yang entah sejak kapan terbentuk di sana.


"Ugh..." Suara lembut sang kekasih mengingatkan pemilik mata almond itu bila momentum manis itu baru saja terjadi dua jam yang lalu, dan sekarang ia di sini bersama sang kekasih yang tampak sangat imut menempeli nya.


Dia tidak menyangka semalam telah kehilangan kendali, menyiksa sang kekasih sampai kehilangan energi untuk bersuara. Sungguh, ia tidak bermaksud melakukan itu. Hanya saja semuanya terasa jauh lebih menyenangkan dari malam-malam yang lain ketika sang kekasih mengatakan 'jangan putuskan ladang amal ku, bahagia mu adalah jalan untukku meridhoi Allah.'


Maka setelah itu ia benar-benar bertindak gila, sangat gila.


"Mas Vano?"


Ustad Vano tersadar dari lamunannya dan baru menyadari bila sang istri telah bangun.


"Kamu sudah bangun?" Ustad Vano mengusap lembut wajah merah Ai.

__ADS_1


Ai tersenyum malu-malu, menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang sang suami. Rasanya begitu hangat, kuat, dan yang paling mendebarkan adalah ia bisa mendengar suara detak jantung suaminya.


Suara detak jantung yang sangat kuat, mengingatkan Ai bahwa penyebab detak jantung ini berdebar kencang adalah karena dirinya.


Ai sungguh bahagia ketika memikirkannya.


"Mas Vano, ayo kita membersihkan diri dan melakukan sholat malam." Ajak sang istri sudah tidak sabar ingin menceritakannya semua yang ia rasakan saat ini kepada Allah SWT.


Ia ingin menceritakan rasa syukur yang ia rasakan dan kebahagiaan yang telah menyapu bersih keraguan hatinya.


"Malam ini... apa kamu masih sanggup berdiri-"


"Mas Vano, ih! Ai masih kuat, kok!" Potong Ai malu.


Ustad Vano juga sama malunya dengan Ai, hanya saja sebagai seorang laki-laki ia lebih terang-terangan dari Ai.


"Tapi semalam kita melakukannya-"


"Mas Vano udah, ih! Ai malu!" Keluh Ai yang di sambut oleh suara tawa terendam Ustad Vano.


Ustad Vano mengusap puncak kepala istrinya sebelum bangun dan membantu istrinya bangun. Karena mereka tidak menggunakan apa-apa kecuali sebuah selimut yang menutupi hingga ke dada, Ustad Vano memutuskan untuk tidak membiarkan istrinya berjalan tanpa kain busana.


Ia turun ke bawah mengambil kemeja yang ia kenakan semalam dan memakainya. Kemudian ia merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya, melindungi istrinya seolah-olah takut ada orang yang ingin melihatnya.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas." Ai ingin turun dari ranjang namun Ustad Vano tidak membiarkan itu terjadi.


Ia mengangkat Ai dengan kekuatan penuhnya, membawa Ai ke dalam kamar mandi murni untuk membersihkan diri. Karena alangkah baiknya jika pasangan suami-istri mandi junub bersama-sama tanpa ada yang saling mendahului seperti yang pernah Rasulullah Saw lakukan dengan istri tercintanya, Aisyah RA.


نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوْ يَغْتَسِلَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang perempuan mandi dari sisa laki-laki atau seorang laki-laki mandi dari sisa perempuan. Namun hendaklah mereka mandi berbarengan (lewat wadah yang sama).” (HR. Abu Daud no. 81 dan An Nasai no. 239. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).


Bersambung...


Assalamualaikum semuanya, bagi yang mau baca novel CALON ADIKKU MENJADI SUAMIKU besok sudah ada di neveltoon, yah. Jadi, jangan sungkan untuk mampir 🍃


__ADS_1


__ADS_2