Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 62


__ADS_3

Ai dan Ustad Vano tinggal di rumah sakit selama beberapa hari untuk mengurus identitas anak itu dan mengurus kasus anak itu ke kantor polisi. Demi menegakkan keadilan untuk anak itu, Ustad Vano dan Ai menggunakan pengacara dari dua keluarga untuk menanganinya. Mereka juga menggandeng Komnas perlindungan anak untuk menjamin keadilan anak itu.


Kasusnya sudah mulai bergulir sejak anak itu dikirim ke rumah sakit.


Tidak hanya itu saja, Ai dan Ustad Vano juga melakukan langkah besar untuk anak itu. Mereka memutuskan untuk mengadopsi anak itu setelah mendapatkan persetujuan dari Mega, Ustad Azam, Asri, dan Arka. Mereka semua sepakat akan merawat anak itu bersama-sama dan berjanji akan memberikan fasilitas kehidupan terbaik untuk anak itu.


Arka telah menyiapkan kamar rawat inap di rumah untuk anak itu, di dampingi oleh dokter keluarga berpengalaman, anak itu kemudian dipindahkan ke rumah. Kedatangannya segera disambut dengan baik oleh orang-orang rumah dengan beraneka ragam hadiah yang telah disiapkan untuk anak itu.


"Assalamualaikum?" Salam Ai sembari mendorong kursi roda anak itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, Ai!" Mega dan Asri segera mengelilingi anak itu, wajahnya kecilnya yang memerah nan pemalu sontak saja membangunkan jiwa keibuan mereka berdua.


Pantas saja sahabatnya bersikeras ingin membesarkan anak itu karena faktanya tatapan polos anak itu tampak begitu menyentuh hati seperti anak kucing yang membutuhkan pelukan hangat.


"Mashaa Allah, dia cantik banget, Ai." Takjub Mega seraya mencoba menyentuh tangan anak itu tapi segera ditolak oleh anak itu.


Anak itu menarik tangannya menjauh seraya melihat Mega dengan tatapan tak pasti. Kedua bola besarnya menimbulkan riak-riak tipis ketakutan tidak ingin terlalu dekat Mega atau siapapun selain Ai dan Ustad Vano.


"Ini adalah hadiah aunty untuk Alsi, semoga kamu suka yah hadiah dari Aunty." Ucap Mega seraya menaruh kotak kado itu di atas pangkuan Alsi.

__ADS_1


Benar, nama anak itu adalah Alsi, hanya Alsi tanpa ada nama panjang berikutnya. Ketika pertama kali mendengar nama ini keluar dari bibir mungil anak itu, Ai tahu bila nama ini adalah satu-satunya hal yang paling berharga di dalam kehidupan Alsi. Sebab, nama itu adalah satu-satunya nama pemberian orang tuanya sebelum Alsi dibuang ke jalanan.


Dia dibuang di jalanan 2 tahun yang lalu. Saat itu ia masih berusia 2 tahun, ingatan akan kedua orang tuanya tampak samar dan tidak jelas. Usianya masih begitu muda saat itu, tapi untungnya dia ditemukan oleh seorang Kakek pemulung. Bersama Kakek, Alsi dibesarkan dengan kasih sayang tulus dan kehidupan yang sangat sederhana. Terkadang mereka bisa makan dan terkadang pula mereka tidak makan sama sekali selama seharian, sampai akhirnya tepat 7 bulan yang lalu Kakek meninggal dunia. Meninggalkan Alsi sebatang kara di dunia ini. Kemudian kehidupan Alsi berjalan dengan tak pasti, ia terombang-ambing di beberapa tempat tanpa rumah untuk disinggahi dan tanpa uang untuk dibelanjakan.


Pakaian yang ia kenakan pun adalah pakaian Kakek, satu-satunya hal tersisa dari Kakek yang telah berbesar hati membesarkannya.


Tidak ada hal baik yang ia temukan selama langkah tidak pastinya itu sampai suatu hari ia tiba di kota C, ah, atau lebih tepatnya tiba di pinggiran kota C yang masih belum diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Di sanalah segala mimpi buruknya berawal, ia bertemu dengan seorang laki-laki tua pemabuk dan di sod*mi tanpa belas kasih, kemudian ia bertemu dengan beberapa pengangguran dan di bawa ke tengah kebun untuk di perk*sa beramai-ramai, lalu ia bertemu dengan beberapa anak SMA dan berakhir seperti hari-hari sebelumnya.


Dia disiksa, diperlakukan selayaknya sampah dan digunakan sebagai alat pemuas hasrat. Penyiksaan ini terjadi berulang-ulang tanpa ada yang mau mengulurkan tangan untuk menyelamatkannya. Padahal ia telah berulangkali memohon tapi tidak ada yang mau mendengarkan, menoleh, ataupun sekedar bertanya kepadanya,"Apakah kamu tidak apa-apa?"

__ADS_1


Dia masih kecil, masih 4 tahun tapi kekejaman dunia sudah menyapanya sedini ini. Alsi hampir saja melupakan apa itu namanya kebaikan sampai akhirnya Allah mempertemukannya dengan pasangan suami-istri yang begitu tulus hatinya.


__ADS_2