Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 99


__ADS_3

"Aku...aku yang salah paham, Mas. Aku terlalu mudah berpikiran negatif." Ini salahku dari awal.


Jika aku bisa menangkap apa yang Mas Vano maksud dari awal maka aku tidak akan terlihat memalukan di depannya. Mas Vano juga tidak akan merasa bersalah seperti ini karena tangisanku. Astagfirullah, betapa memalukannya aku.


"Inilah yang aku rasakan ketika melihatmu, istriku." Kata Mas Vano yang tidak ku mengerti.


"Apa yang Mas Vano rasakan?" Tanyaku kini jauh lebih baik dari sebelumnya.


Aku menyandarkan seluruh tumpuan tubuhku ke dalam dekapan Mas Vano. Suara detak jantung Mas Vano yang berpacu cepat bagaikan senandung manis di dalam kedamaian. Aku suka mendengarnya dan hatiku tidak bisa tidak merasa bahagia setiap kali memikirkan jantung Mas Vano berpacu cepat karena diriku. Mashaa Allah, cinta rasanya sangat manis bila disertai dengan ridho Allah SWT.

__ADS_1


Lalu, alunan lembut ayat-ayat cinta yang berasal dari masjid membuatku merasa bila Allah turut hadir diantara ku dan Mas Vano. Melimpahkan ridho dan rahmat-Nya yang dirindukan oleh setiap hamba.


"Kecemasan mu, kekhawatiran mu, dan ketakutan mu juga kurasakan, Aishi. Aku mengerti semua kegundahan hati mu hari ini namun tidak berdaya mengusir rasa sesak itu dari dalam hatimu. Aku berdoa agar Allah melapangkan hatimu wahai istriku. Ketika aku melihat betapa gugupnya kamu hari ini tiba-tiba aku membayangkan apa yang Mama rasakan saat berharap-harap cemas akan kehadiranku. Mama pasti gundah, cemas, khawatir seperti yang kamu rasakan dan aku juga membayangkan semua upaya Papa membebaskan Mama dari perasaan sesak itu. Aishi Humaira, aku dan kamu kini ada di posisi ini. Posisi dimana rasa cintaku kepada Mama kian bertambah besar dan posisi dimana cintaku kepada mu semakin tidak terbendung. Sungguh, aku tidak heran mengapa Allah sangat memuliakan kaum mu wahai Aishi. Tidak heran Allah begitu menyanjung keberadaan kaum perempuan wahai Aishi. Tidak heran bakti seorang anak 3 kali lipat harus diutamakan kepada kalian para wanita. Perjuangan kalian tidak sebatas mengandung dan melahirkan saja karena sebelum hamil pun kalian dibuat resah oleh para calon bayi yang masih belum jelas keberadaannya. Aishi Humaira, istriku tercinta di dunia dan di akhirat, Ibu dari anak-anak ku kelak...aku berdoa agar Allah senantiasa melimpahkan Kasih Sayang-Nya kepadamu. Aku berdoa semoga Allah senantiasa mengiringi setiap langkah yang kamu ambil di dunia ini. Aku berdoa semoga Allah senantiasa meridhoi setiap waktumu di dunia ini. Dan aku berharap semoga Allah ridho surga untukmu wahai kekasihku. Aishi Humaira, betapa aku berharap Allah tidak akan pernah meninggalkanmu dan meninggalkan kita."


Setiap kata yang Mas Vano ucapkan, setiap ungkapan yang Mas ungkapan, dan setiap harapan maupun doa yang Mas lambung kan telah merasuki hati terdalam ku. Ada perasaan hangat yang tidak biasa, merambat perlahan-lahan mengikat hatiku dalam rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya Allah, betapa bahagia diri ini dapat Engkau sandingkan dengan laki-laki sehebat Mas Vano. Ia adalah laki-laki yang tidak pernah melonggarkan keteguhannya terhadap setiap garis yang telah Engkau tetapkan ya Allah, ia adalah laki-laki yang berpasrah diri kepada-Mu dalam curahan ilmunya yang tidak sedikit. Ya Allah, sungguh ingin diri ini membahagiakan laki-laki hebat ini, sungguh ingin diri ini menyempurnakan kehidupan laki-laki luar biasa, sungguh...rasa syukur di hati membuatku menumbuhkan keinginan yang menggebu-gebu untuk membahagiakannya.


"Berhenti menangis, istriku. Bila kamu menangis terus aku tidak akan tega pergi meninggalkan mu ke masjid." Aku tahu suamiku hanya mengancam saja.


"Aku sudah tidak menangis, Mas." Kataku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melihatnya.

__ADS_1


Tangan Mas Vano tiba-tiba memegang daguku sebelum menariknya ke atas untuk bertatapan dengan wajah tampan mempesonanya. Belum sempat aku membuka mulutku untuk berbicara Mas Vano tiba-tiba menundukkan kepalanya mencium lembut bibir ku.


Ah lembutnya, tanpa sadar aku memejamkan kedua mataku menahan perasaan bahagia yang mulai meluap lagi di dalam hatiku. Ciuman kami memang tidak sedalam dan sepanjang ciuman ketika sedang 'beribadah' namun rasanya tidak memiliki perbedaan.


Ini masih rasa yang manis dan memiliki rasa ketulusan yang tidak terkira, mashaa Allah sungguh indah rasanya.


"Aku mencintaimu Aishi Humaira." Bisik Mas Vano setelah mengakhiri ciuman kami.


Pipi menjadi panas lagi tapi kali ini aku tidak berpaling darinya, dengan berani aku menatap langsung ke matanya yang memiliki sorot lembut.

__ADS_1


"


__ADS_2