Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 137


__ADS_3

Sejak dia memasuki rumah ini dia menanamkan pemahaman di dalam kepalanya jika dia tidak boleh mengecewakan kedua orang tuanya. Dia memiliki trauma yang sangat besar karena kejadian menyakitkan di masa lalu. Namun kedua orang tuanya dengan penuh kasih mengupayakan berbagai macam cara agar dia bisa terlepas dari trauma itu.


Dia memahaminya. Dengan tekad tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya dia memaksakan diri mencoba bercampurnya dengan keramaian. Berusaha terbuka dengan orang-orang di sekitarnya.


Hasilnya?


Dia sadar jika tidak semua orang jahat kepadanya. Orang-orang yang datang menemuinya selama ini selalu memberikan berbagai macam hadiah kepadanya dan memberikan sebuah pelukan hangat yang tidak pernah dia impikan sebelumnya. Dia bahagia dan perlahan mulai terbuka dengan orang-orang.


Tapi dia juga mendapatkan pemahaman jika tidak semua orang sebaik orang-orang yang menemuinya. Salah satu contohnya adalah anak-anak yang tinggal di komplek perumahan ini.


"Alsi hari ini gak mau keluar main sama teman-teman yang lain?" Suara lembut Ai menyadarkan Alsi dari lamunannya.


Alsi mendongak ke atas, melihat wanita cantik dan lembut yang kini telah resmi menjadi 'uminya'.

__ADS_1


Kelembutan hati wanita ini membuatnya berjanji tidak akan pernah mengecewakannya.


"Alsi mau menemani Umi." Katanya tidak sepenuhnya berbohong.


Dia mungkin ingin menemani Ai tapi dia juga takut keluar bermain dan bertemu dengan anak-anak komplek yang lain.


Dia takut dijauhi dan di dorong untuk pergi. Rasanya sangat tidak nyaman karena dia bukanlah seorang monster.


"Hem, Umi hari ini agak mengantuk jadi Alsi bebas kok main sama teman-teman yang lain asalkan jangan main terlalu jauh." Kata Ai tidak melihat keanehan putrinya.


"Umi..." Alsi ragu mengatakannya.


"Kenapa, Nak?" Dia bukan Bunda Safira, yang memiliki mata tajam dan intuisi akurat jadi beberapa keanehan putrinya terlewati begitu saja tanpa meninggalkan petunjuk.

__ADS_1


"Alsi gak mau main ke luar." Kata Alsi setelah ragu-ragu.


Ai mengernyit. Pikiran pertamanya adalah mungkin Alsi masih belum bisa beradaptasi dengan orang-orang di luar sana. Maka dia tidak akan memaksanya pergi karena mental putrinya sendiri belum siap.


"Alsi belum siap yah, ketemu sama teman-teman yang lain? Gak apa-apa, sayang. Alsi bisa menghadapinya secara perlahan." Kata Ai menghiburnya.


Tapi Ai salah. Kata-kata ini tidak bisa menghibur putrinya sama sekali. Bukannya menghibur, Alsi malah mengubah ketakutannya menjadi sebuah keberanian yang orang-orang sebut sebagai 'nekat'. Yah, dia tidak mau melihat Ai sedih memikirkan kondisinya terus jadi dia memilih untuk memaksakan dirinya bertemu dengan anak-anak itu.


"Alsi mau main sama teman-teman ya, Umi." Sekarang Alsi mengatakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.


Ai heran tapi masih mengizinkan putrinya pergi. Sebelum pergi dia menyiapkan tas bekal putrinya. Memasukkan beberapa makanan ringan yang sehat dan buah-buahan segar ke dalam tasnya. Ini Ai lakukan untuk mengantisipasi bila putrinya sewaktu-waktu haus atau lapar saat bermain. Dan semua bekal ini juga bisa dibagi-bagi dengan anak-anak yang lain sehingga hubungan putrinya dengan mereka semakin baik.


Alsi mengeraskan hatinya berjalan ke luar rumah. Di luar dia kebetulan melihat anak-anak sedang berkumpul di lapangan basket. Malu bercampur takut, Alsi perlahan mendekati mereka.

__ADS_1


"Angga, pulang! Jangan bermain dengan monster ini!" Suara ketus seorang gadis remaja segera membuat tubuh Alsi mematung.


__ADS_2