Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
11. Permintaan Fina


__ADS_3

"Kamu mau ngomongin apa?" 


Fina tersenyum malu. Ia tidak sengaja membawa pandangannya menatap ke arah lemari kaca di kamar ini. Kedua matanya segera membola ketika melihat gaun pengantin putih yang tergantung hati-hati di dalam lemari.


Ia berdiri dari duduknya, tanpa sadar ia sudah berdiri di depan kemari kaca.


"Gaun ini pasti cocok banget di badan aku." Kata Fina percaya diri.


Tangan kanannya sudah bersiap membuka pintu lemari kaca tapi segera dihentikan oleh Asri.


"Jangan main-main, dek." Peringat Asri tidak ingin menambah masalah lagi.


Gaun pengantin ini adalah karya desainer terkenal yang Arka datangkan langsung dari Ibu kota dan Asri tidak bodoh untuk tidak tahu jika gaun ini memiliki harga yang fantastis.


Mereka orang miskin yang berasal dari desa tidak akan mampu membelinya sekalipun mereka menjual sisa tanah yang terjual.


"Kak Asri, pelit." Wajah Fina menjadi masam.


Ia menatap gaun pengantin itu tidak rela sebelum duduk kembali di atas ranjang.


"Kamu mau bicara apa sama, Kakak?" Tanya Asri untuk yang kesekian kalinya.


Mood Fina sudah jatuh merosot sehingga ia tidak perlu berbasa-basi lagi.


"Aku mau nikah sama Mas Arka, Kak.." Kata Fina tidak masuk akal.


"Kamu ngomong aneh." Asri tiba-tiba merasa posisinya terancam karena Fina.


Dia tidak mau membiarkan adiknya menikah dengan Arka karena Fina tidak boleh putus sekolah. Di samping itu Arka pasti akan merasa dipermainkan bila Fina menjadi pengantin pengganti besok sore.


"Aku serius kok, Kak. Aku mau menikah dengan Mas Arka agar Kakak tidak usah terpaksa menikah-"


"Kenapa baru sekarang kamu mau?" Tanya Asri sudah kehilangan senyum.

__ADS_1


Benar, mengapa baru sekarang ia ingin berganti posisi? Mengapa di desa tadi pagi ia tidak melakukannya jika benar-benar tidak ingin melihat Asri melakukan semuanya dengan terpaksa?


"Kenapa kamu tidak mau menikah dengan Rodi dan diam saja melihatku naik ke atas pelaminan?" Tanyanya tidak habis pikir.


Baiklah, mungkin alasannya tidak ingin menikah dengan Rodi karena tidak mau putus sekolah, Asri bisa mengerti. Tapi kenapa kali ini dia tidak menolak dan malah menawarkan diri untuk berganti posisi?


Fina menggaruk pipinya malu,"Itu karena Mas Arka memiliki segalanya-"


"Cukup." Potong Asri tidak mau mendengar.


Adiknya telah benar-benar berubah dan mirisnya lagi, Fina tidak berubah menjadi pribadi yang baik tapi semakin buruk.


"Jangan main-main, dek. Keluarga Mas Arka tidak akan mungkin menyetujui ide ini." Kata Asri mengingatkan.


Fina tidak mau mendengar,"Kak, ini demi kebaikan-"


"Keluar." Usir Asri tidak mau mendengar lagi.


"Kakak ngusir aku?" Tanya Fina tidak percaya.


"Keluar atau aku akan menelpon Bapak untuk datang ke sini dan menyeret kamu pergi." 


Fina mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Tidak terima, ia sungguh tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Kakaknya. Tapi dia tidak punya pilihan selain pergi.


"Kak Asri jadi sombong semenjak ditolong Mas Arka! Padahal niat aku kan baik. Jika aku menikah dengan Mas Arka maka Kakak juga bisa menikah dengan keponakan Mas Arka." Fina masih saja bicara meskipun sudah berada di depan pintu.


Ia harus bisa membujuk Asri karena ini adalah kesempatan yang sangat penting untuknya. Dia harus mendapatkan kesempatan ini.


Asri benar-benar tidak berdaya dibuatnya. Tanpa bertanya pun ia sudah bisa menebak bila adiknya menguping pembicaraan tadi sore.


"Jangan asal bicara di rumah ini jika kamu tidak ingin menambah masalah untuk keluarga kita lagi!" Dan,


Bom

__ADS_1


Asri menutup pintu tepat di depan wajah Fina. Mengunci pintu beberapa kali sebelum menjatuhkannya dirinya ke atas ranjang.


Dia sungguh heran darimana adiknya mendapatkan ide gila ini dan kenapa adiknya berlipat-lipat lebih menjengkelkan daripada sebelumnya?


"Astagfirullah..." Gumamnya mulai mengenang beberapa kejadian yang datang dalam waktu berdekatan hari ini.


Mulai dari gagalnya pernikahan di desa, pertolongan Arka dan kebaikannya membawa ia sekeluarga tinggal di sini, lalu kedatangan Kevin dengan kabar buruk di tangannya.


Semuanya terlalu cepat dan Asri cukup sulit mempercayainya.


"Bismillah, semoga hari esok semuanya akan lebih baik dan pernikahan ku...kali ini berjalan dengan lancar, Aamiin Allahumma Aamin ya Allah." Doanya sambil berusaha memejamkan mata.


Ia harus segera tidur.


...🍃🍃🍃...


Beberapa jam kemudian, rumah kembali hidup dan ramai. Banyak orang berlarian hilir mudik untuk menyempurnakan acara akad. Entah itu dari dekorasi, catering, maupun persiapan yang lainnya. Berulangkali kali mereka mengeceknya untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan nanti.


Lalu, beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 4 sore akad akan segera dimulai. Tamu-tamu undangan telah datang, bahkan penghulu dari KUA pun sudah hadir di acara. Semua orang sudah siap.


Di sisi lain ada seorang gadis cantik yang kini tengah terbalut gaun pengantin indah berdiri di depan sebuah cermin. Penampilannya yang cantik menyegarkan begitu berbeda dengan gadis desa yang terlihat begitu kacau kemarin.


Dia sangat cantik, tatapannya sarat akan kerendahan hati, dan kedua pipinya merona terang karena perasaan malu.


Cklack


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, membuat gadis cantik itu berjenggit kaget. Untuk saat-saat ini ia begitu mudah terkejut karena hatinya sangat gugup dan gelisah.


"Ayo, Nak. Semua orang sudah menunggu kamu di luar." Ibu dan Bibi masuk dengan pakaian yang sangat bagus.


Mereka terlihat jauh lebih muda dengan make up di wajah dan pakaian yang mahal.


Ragu melangkah, Asri kembali membawa pandangannya menatap cermin. Terpejam, ia menguatkan hatinya untuk melangkah ke depan.

__ADS_1


"Allahurabbi, bila ini adalah takdirku yang sudah Engkau tetapkan, maka luaskan lah hatiku dalam menerimanya dan ridhoi lah setiap langkah yang ku ambil untuk lebih dekat dengan suamiku." Bisiknya berdoa kepada Sang Maha Romantis.


__ADS_2