
Mega merasakan pusing kembali melanda kepalanya. Perutnya yang baru saja terisi beberapa buah kue mulai bergejolak mengirimkan rasa asam dan pahit di mulutnya.
Tangan Mega otomatis menutup mulutnya, menghentikan gelombang mual dari perutnya merusak suasana damai semua orang yang datang bertamu hari ini. Mega berusaha bertahan agar jangan sampai muntah. Dia mengelus lembut perut datarnya yang baru memasuki kehamilan beberapa minggu. Berharap dengan menggosok-gosoknya, rasa mual di dalam perutnya bisa berkurang.
"Huek!" Usahanya sia-sia.
Mega tidak tahan lagi menahannya dan buru-buru bangun dari tempat duduknya dengan langkah sopan saat melewati tamu, dan segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi di lantai satu.
Begitu sampai di lantai satu, Mega memuntahkan semua isi perutnya yang tidak seberapa. Gelombang demi gelombang dia muntah kan hingga hanya tersisa cairan pahit.
"Kamu muntah lagi?" Ustad Azam melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah tergesa-gesa.
Dia pikir mungkin istrinya ingin muntah lagi karena sejak memasuki minggu kedua, istrinya seringkali muntah dan tidak terlalu berselera makan.
Ini membuat Ustad Azam khawatir. Jika istrinya tidak makan maka istrinya tidak akan memiliki cairan nutrisi di dalam tubuhnya. Anak mereka juga akan mendapatkan masalah jika Mega terus seperti ini.
__ADS_1
"Aku... muntah lagi, Mas." Kata Mega lemah.
Dia tidak melawan saat suaminya mengangkatnya dari lantai karena memang semua tenaganya seolah terkuras habis saat memuntahkan isi perutnya.
"Kamu terlihat pucat, sayang. Bagaimana jika kita ke rumah sakit saja?" Ustad Azam ikut sakit melihat kondisi istrinya yang lemah dan tidak bertenaga seperti saat ini.
Mega sangat lelah dan mulai mengantuk. Kepalanya yang pusing bersandar di dada bidang suaminya untuk mencari kenyamanan.
"Enggak perlu, Mas. Mama bilang umumnya wanita hamil akan mengalami fase ini." Tolak Mega lemah.
"Aku baik-baik saja, Mas." Bisik Mega mulai hilang kesadaran.
"Bagaimana bisa kamu masih mengatakan baik-baik saja sedangkan keadaan mu sendiri seperti ini."
Ustad Azam benar-benar tidak tega melihat istrinya seperti ini. Dia memperhatikan wajah pucat istrinya dengan tidak berdaya, menyalahi dirinya sendiri karena tidak mampu berbagi kesulitan dengan istrinya. Menghela nafas panjang, Ustad Azam lalu membawa Mega keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Saat akan naik tangga, langkah Ustad Azam tiba-tiba dicegah oleh Mama Ustad Vano. Dia bilang Ustad Vano dan Ai sudah menceritakan kondisi Mega kepadanya tempo hari lalu. Dan sebagai seorang dokter di rumah sakit, Ai secara pribadi meminta saran kepada Mama mertuanya, apakah ada solusi untuk menghentikan gelombang mual maupun muntah yang sedang Mega lalui.
"Minta Mega minum obat ini dua kali sehari agar periode muntahnya dapat berkurang." Kata Mama Ustad Vano sambil menyerahkan paper bag mini ke tangan Ustad Azam.
Ustad Azam sangat bersyukur tapi tidak menghilangkan ketelitiannya. Apalagi jika itu berkaitan dengan istri dan anaknya.
"Terima kasih, Tante. Tapi, apakah obat ini tidak memiliki efek samping untuk istri dan anakku?"
Mama Ustad Vano langsung membantah.
"Obat ini dibuat dengan hati-hati agar Ibu dan calon baik tidak mengalami efek samping yang berbahaya. Dan asalkan diminum sesuai aturan, in sya Allah, Mega dan anakmu akan baik-baik saja."
Ustad Azam lega mendengarnya. Dia bersyukur karena istrinya akhirnya mendapatkan jalan keluar dari masalah ini.
Setelah berterima kasih kepada Mama Ustad Vano, dia kemudian pamit kembali ke kamarnya untuk merebahkan istrinya yang sudah jatuh tertidur. Tidak lupa juga dia menyiapkan beberapa makanan yang mudah di cerna agar setelah bangun nanti Mega bisa langsung makan dan minum obatnya. Dengan begitu Ustad Azam akhirnya bisa tenang.
__ADS_1