
Ibu tersenyum hangat. Putrinya yang satu ini selalu tahu membuat hatinya menghangat.
"Nak, sudah beberapa bulan kamu menikah dengan Arka. Apakah masih belum ada kabar?" Tanya Ibu hati-hati.
Dia merindukan seorang cucu. Rumah selalu sepi sekarang. Ibu berharap ada cucu di tengah-tengah mereka yang bisa membuat rumah kembali ramai dan lebih hidup. Selain itu ibu juga tidak tahan dengan kata-kata orang yang ada di luar maupun di keluarga.
Mereka selalu mengingatkan Ibu agar mendesak Asri untuk segera hamil sehingga posisinya di rumah itu tidak tergoyahkan. Bahkan ada pula kata-kata yang sangat keterlaluan dari orang-orang di luar, tepatnya dari tetangganya yang ada di kampung. Mereka malah secara blak-blakan menanyakan apakah Asri sudah hamil atau tidak, jika tidak maka mereka bersedia membiarkan putri-putri mereka menjadi istri kedua untuk melahirkan anak-anak Arka, sehingga Arka memiliki pewaris di rumah itu.
Bagaimana bisa Ibu dan Bapak tidak marah ketika mendengar kata-kata ini?
Mereka sangat marah dan sedih, namun tidak berani menyampaikannya kepada Asri. Takutnya membuat Asri kepikiran dan merasa cemas.
__ADS_1
Dan hari ini Ibu tiba-tiba menanyakan masalah ini karena dia sudah tidak tahan dengan kata-kata orang di sini. Beraninya mereka mendekati Arka secara terang-terangan, membawa anak gadis mereka untuk dipamerkan di depan Arka. Yang melegakan adalah Arka tidak pernah tertarik ataupun melihat ke arah mereka. Dari awal perhatian Arka selalu tertuju kepada Asri.
Poin ini sangat melegakan, tapi tidak bisa meredam kecemasan yang dirasakan sebagai seorang Ibu. Takutnya posisi putrinya bisa direbut oleh orang lain kapan saja.
"Bu, aku belum memeriksanya. Aku nggak tahu... Tapi aku dan mas Arka... selalu berusaha, Bu." Jawabnya malu-malu.
Arka tidak pernah memaksa ataupun mendesaknya untuk segera hamil. Daripada memaksanya, Arka malah bersikap santai-santai saja. Menyerahkan semuanya kepada Allah. Artinya kalau Allah berkehendak mereka diamanahkan seorang anak, maka cepat atau lambat anak itu akan datang ke dalam kehidupan mereka.
Dia senang suaminya semakin baik dan mampu membimbingnya dalam berumahtangga.
"Iya, Nak. Ibu paham. Alangkah baiknya kalian terus berusaha. Jika kamu memiliki anak tergoyahkan, Nak." Kata Ibu bersemangat.
__ADS_1
Mendengar ini Asri merasa bahwa Ibunya agak aneh.
"Bu, mas Arka bukanlah orang yang seperti itu. Dia orangnya setia." Kata Asri sangat yakin.
Tidak hanya keluarga Arka yang mengatakan itu, tapi Asri juga merasakannya secara pribadi. Bagaimana Arka memperlakukannya, bagaimana Arka berusaha memperbaiki diri untuknya, bagaimana Arka selalu berusaha meluangkan banyak waktu untuknya, bagaimana Arka memandang seolah-olah di dalam mata itu hanya dirinya seorang. Asri bisa merasakan semua itu. Itulah alasan kenapa dia tidak takut atau merasa cemas, karena kepercayaan yang diberikan suaminya kepadanya sungguh sangat dalam di hati.
"Ibu tahu, Nak. Tapi tidak ada salahnya jaga-jaga." Kata Ibu keras kepala.
Dia melakukan ini demi putrinya sendiri.
Asri tersenyum. Memegang erat tangan Ibunya untuk memberikan kenyamanan.
__ADS_1
"Percayalah, Bu. Mas Arka tidak pernah berpikir seperti itu. Dia selalu bilang untuk jangan terburu-buru dan serahkan saja semuanya kepada Allah. Kalau memang sudah waktunya, anak itu akan hadir dengan izin Allah, Bu." Ujarnya lembut.