Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 92


__ADS_3

Ustad Azam juga merasa aneh, tapi pasti ada alasannya kenapa kedua sahabatnya itu tidak segera turun ke bawah.


"Aku juga heran istriku karena biasanya mereka berdua tidak pernah absen. Tapi mungkin untuk Arka sendiri kita berdua sudah tahu jika hubungannya dengan Asri sedang diuji, sedangkan Ustad Vano sendiri aku tidak bisa menebak alasan kenapa ia tidak turun ke bawah untuk sholat." Ujar Ustad Azam agak heran.


Mega membawa pandangannya mengintip ke belakang untuk memastikan bila Ai dan Ustad Vano menyusul, namun dari batang hidung sampai suara langkah kaki mereka tidak masuk ke dalam pendengarannya. Hem, kalau diingat-ingat Mega sempat mendengar bila Ai akhir-akhir ini mulai merasa pusing dan wajahnya pun juga memucat. Mungkin karena alasan inilah Ai dan Ustad Vano tidak turun ke bawah.


Ai pasti masih kurang sehat dan sebagai suami yang baik, Ustad Vano pasti akan merawat Ai dan tidak akan membiarkan istrinya sholat sendirian di kamar mereka. Hem, ini bukan tidak mungkin terjadi karena ia tahu betul bila Ustad Vano sangat mencintai Ai, dia bahkan sempat merinding saat mengetahui sifat posesif Ustad Vano kepada Ai.


"Aku pikir Ustad Vano sedang merawat Ai, Mas. Karena tadi sore Ai sempat mengaku kepadaku jika akhir-akhir ini kepalanya suka pusing."


Jika istrinya tidak menyebutkan masalah ini maka Ustad Azam tidak akan mengingatnya. Memang benar dia juga sempat mendengar bila Ai akhir-akhir sempat pusing saat pulang bekerja tadi.


"Aku pikir alasan ini cukup masuk akal. Kita doakan saja supaya kondisi Ai segera membaik. Ya udah, sekarang kita sholat saja berdua karena iqamah sudah mulai terdengar dari masjid."


Ustad Azam berdiri lurus menghadap kiblat dengan pandangan merendah menatap sajadah. Sedangkan sang istri dengan patuh berdiri di belakang mengikuti Ustad Azam yang bertindak sebagai imam sholat.


"Allahuakbar~" Takbir pertama pertanda dimulainya sholat bergema nyaring di dalam musholla, menyeru untuk meneguhkan niat agar sholat dapat didirikan dengan khusyuk.


...🍃🍃🍃...


Setelah selesai sholat magrib, Ustad Vano tidak melakukan apa-apa kepada Ai karena ia tahu saat ini kondisi istrinya sedang tidak baik-baik saja. Lagipula tadi itu hanya bercanda karena ia suka sekali melihat wajah cantik istrinya merona terang sudah seperti kepiting rebus yang siap disantap.

__ADS_1


Mereka kini sedang duduk di atas sajadah sambil menatap langit gelap diluar sana yang mulai menampilkan cahaya minim dari bintang-bintang. 


Suasana ini begitu nyaman bagi mereka berdua yang sedang dimadu kasih padahal gelar pengantin baru seharusnya sudah tidak melekat lagi di dalam pernikahan mereka. Terbuai oleh suasana manis, Ustad Vano mengubah posisinya menjadi tidur menyamping di atas paha istrinya. Dari jarak sedekat ini ia bisa menghirup wangi istrinya yang sangat manis dan juga menyentuh perut istrinya yang tidak lagi terasa seperti permukaan jeli. 


Ustad Vano heran, ia membawa tangannya mengusap perut Ai yang tampak jauh lebih berisi dari sebelumnya. Tidak hanya berisi, namun perut Ai juga agak kencang seolah-olah ada benda keras di dalam perutnya.


"Mas Vano, hentikan." Ai buru-buru mengambil tangan suaminya menjauh dari perutnya.


Bagaimana tidak geli jika suaminya tidak hanya memijat namun juga menekan-nekan perutnya seperti seorang dokter saja.


"Ai, perut kamu lebih berisi dan pipi kamu juga agak gembil dari bulan sebelumnya, aku pikir ini karena nafsu makan kamu secara bertahap mulai membaik." 


Ai terlihat bingung, ia pikir nafsu makannya justru menurun akhir-akhir ini tapi kenapa Ustad Vano mengatakan bila ia jauh lebih berisi?


"Oh ya, apa Mas tahu kenapa Paman Arka dan Asri bertengkar? Tadi sore aku dan Mega melihat jika Asri pulang dengan keadaan menyedihkan." Ai mengubah topik pembicaraan dengan mudahnya.


Dia tidak ingin membahas masalah kenaikan berat tiba-tiba ini dulu.


"Hem, soal mereka. Aku pikir ada kesalahpahaman diantara mereka berdua karena setahuku Paman Arka bukanlah orang yang suka berbohong, apalagi jika menyangkut masalah serius seperti pernikahan. Paman Arka tidak- eh," Ustad Vano tiba-tiba bangun dari acara rebahan nya. 


Ia menatap perut Ai bingung dengan ekspresi penuh kejutan yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" Ai bertanya was-was.


Ustad Vano tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya lagi, mendekatkan kedua telinga di depan perut Ai sembari mengusapnya hati-hati untuk memastikan sesuatu.


"Mas...Mas Vano kenapa?" Tanya Ai kelimpungan ketika melihat tindakan suaminya.


"Ya Allah..." Kedua mata Ustad Vano menunjukkan binar terang dari sebuah harapan.


Ia berkali-kali mengusap perut Ai untuk memastikannya, tidak lama kemudian terbentuk sebuah senyuman lebar di wajahnya yang tampan.


"Mas Vano jangan membuatku takut..." Ai tidak mengerti dengan tindakan suaminya- atau lebih tepatnya ia tahu tapi tidak berani memikirkannya.


"Ai... wahai Aishi Humaira, istriku tercinta!" Ustad Vano mengecup berkali-kali perut bawah Ai sebelum beralih memeluk erat Ai, memeluknya sekuat mungkin untuk menunjukkan betapa bahagianya ia saat ini.


"Mas Vano kenapa?"


Ustad Vano kali ini menjawab,"Istriku tercinta baru saja...baru saja aku merasakan sebuah gerakan di dalam perutmu. Meskipun tidak keras tapi gerakan itu terjadi berulang-ulang di dalam sana...tepat di posisi rahimmu.."


Ai tercengang, jantungnya berdegup kencang menghidupkan sebuah harapan tapi juga ketakutan.


"Mas...aku..." Ai ragu.

__ADS_1


"Inshaa Allah, kamu hamil istriku!"


Bersambung...


__ADS_2