
Duduk termenung menatap air gelas di tangannya, berbagai macam pikiran telah menggerogoti kepalanya. Sesekali, ia akan mendesah panjang memikirkan bertapa tak mampu nya ia hingga berakhir pada titik ini dan sesekali ia akan melambungkan sebuah pertanyaan di dalam kepalanya yang tidak akan pernah bisa memiliki jawaban.
"Bapak... bagaimana jika suatu hari kita harus kembali ke desa, ke rumah kita yang seharusnya. Apa Bapak siap meninggalkan semua ini dan kembali ke desa?" Pertanyaan ini akhirnya keluar dari mulutnya.
Bagaimana bila hari itu datang, hari dimana ia dan Arka harus berpisah karena tidak mampu mempertahankan pernikahan ini. Apa yang harus ia katakan kepada kedua orang tuanya?
Apa yang harus ia katakan kepada Paman-pamannya?
Apa yang harus ia katakan kepada semua keluarganya?
Mungkinkah terukir sebuah kekecewaan di dalam hati mereka?
"Nak, apa hubungan mu dan Tuan Arka mengalami masalah?" Bapak tidak menjawab, namun malah melemparkan balik sebuah pertanyaan.
Mata tuanya yang mulai melihat tidak terlalu jelas bersinar terang memandangi wajah sendu putrinya. Sebagai orang tua ia mengerti bila putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Putrinya memiliki masalah dengan menantunya itu, laki-laki kaya raya yang telah berjasa besar menolong mereka.
__ADS_1
Asri tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya ringan di depan Bapak. Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan keluh kesah perahara rumah tangganya kepada Bapak?
Asri tentunya tidak mau membuat Bapak menjadi sedih dan kepikiran gara-gara masalah rumah tangganya.
"Bapak tahu hasil akhirnya akan begini." Yang mengejutkan adalah Bapak telah mengetahuinya.
"Bapak?" Asri merasa ragu dan cukup terkejut.
"Bapak sudah menduganya, Nak. Bapak sudah menduganya jika pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Bagaimana mungkin Bapak tahu? Nak, bukankah semua ini sudah jelas? Kamu dan Tuan Arka menikah tanpa saling mengenal dulu. Memungkinkan untuk saling memahami cukup sulit karena gaya hidup kita dengannya berbeda. Kamu harusnya mengerti, Nak, bila kita adalah orang miskin dan dari desa sedangkan Tuan Arka adalah orang kaya. Kita tidak bisa bersanding dengannya dan Tuan Arka pun tidak bisa bersanding dengan kita. Tidak menutup kemungkinan bahwa keluarga Tuan Arka juga keberatan mengenai pernikahan ini. Mereka pasti berpikir bahwa kita tidak layak untuk mereka secara kelas sosial. Nak, Bapak tidak ingin merendah atau berburuk sangka, Bapak hanya ingin mengatakan kebenarannya. Pertimbangan lainnya yang membuat pernikahan ini tidak akan bertahan lama adalah karena usiamu, Nak. Usiamu masih muda, masih sangat muda. 18 tahun adalah masa remaja yang sangat menyenangkan tapi kamu malah terjebak di dalam pernikahan ini, pernikahan yang penuh akan kekurangan ini. Bapak dan keluarga yang lain sudah membicarakannya bahwa bila suatu hari pernikahan ini tidak bisa dipertahankan maka kami tidak akan ragu membawa mu pulang ke desa."
Mereka tidak bisa meneruskan pernikahan ini lebih lama lagi, mereka tidak bisa memperjuangkan pernikahan ini lebih lama lagi bila Arka sendiri yang ingin berpisah. Sebab mereka selalu ada di pihak yang kalah, mereka selalu ada di pihak yang pantas menerima kekalahan.
"Bapak... tapi Asri takut dengan keluarga yang lain, Bapak. Asri takut membuat mereka semua kecewa."
Keluarganya sangat beruntung bertemu dengan Arka. Mereka semua dibawa pindah dari desa ke kota ini, tinggal di perumahan mewah dengan masing-masing kepala keluarga mendapatkan rumah sendiri. Ini adalah sebuah keberuntungan jadi bagaimana mungkin keluarganya mau melepaskan keberuntungan ini?
__ADS_1
"Apa yang Bapak bilang tadi, Nak? Kami sudah membicarakan semuanya bersama-sama dan kami sepakat akan membawa kamu pergi dari kota ini bila sudah waktunya kalian berpisah. Bapak tidak mau kamu terjebak dalam kesulitan sementara kami di sini baik-baik saja. Bapak tidak mau, Nak."
Asri terisak sedih. Ia sungguh tidak mau hasil akhir ini tapi ia tidak menolak karena sedari awal ia harusnya telah mengetahuinya jika cepat atau lambat ia dan Arka mungkin tidak akan bisa bersama.
"Ikhlaskan, Nak. Jika Tuan Arka bukanlah jodoh mu, maka kamu hanya perlu melapangkan hatimu untuk menunggu jodoh yang telah Allah tetapkan kepadamu. Ingat, Nak, janji Allah itu pasti dan Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba yang berdoa kepada-Nya maupun hamba yang berserah diri kepada-Nya. Allah adalah hakim yang paling adil, Nak."
Asri berulangkali menganggukkan kepalanya. Mendengar setiap ucapan dan perkataan Bapak dengan bersungguh-sungguh karena ia tahu semua itu adalah kebaikan untuknya.
Tidak terasa, Asri telah menghabiskan banyak waktu bersama Bapak di rumah. Bapak memintanya untuk segera pulang tapi Asri menolak. Ia bilang malam ini ingin menginap di rumah Bapak dan Ibu.
Bapak maupun Ibu mengerti bila perasaan anak mereka sedang kalut. Asri tidak bisa pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini jadi mereka akhirnya memutuskan untuk membiarkan Asri tidur di sini. Malam ini Asri tidur di dalam kamar Fina karena adiknya itu sudah pergi ke kota B untuk melanjutkan sekolahnya.
Sepanjang malam Asri mengalami kesulitan tidur. Ia tidak bisa tidur lebih tepatnya. Berulangkali memejamkan mata untuk masuk ke dalam dunia mimpi, Asri tidak kunjung-kunjung berhasil masuk ke dalam dunia mimpi.
Ia menghela nafas panjang, bangun dari tidurnya dan segera mengambil air wudhu untuk mulai membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Malam itu, dalam sunyi yang membuat sepi, ia terisak tertahan melambungkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Berdoa dan melambungkan sebuah harapan bila esok semuanya akan lebih baik dari hari ini.
__ADS_1
Yah, dia mengharapkan bahwa semuanya akan membaik.