Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 193


__ADS_3

Ibu lagi motong sayur di teras luar bersama bibi ketika melihat Asri akhirnya keluar dari kamar. Mereka berdua tadinya berpikir jika dia tidak akan pernah keluar dari kamar sampai Arka pulang ke rumah. Atau seenggaknya mungkin nanti malam setelah cukup beristirahat.


Bibi mengangkat kepalanya ke arah Asri dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Bibi sangat menyukai Asri. Dibandingkan dengan adiknya, Bibi sebenarnya lebih setuju anaknya bersama dengan Asri.


Karena Asri memiliki sikap yang lembut juga ceria. Dia tidak pemilih dan mensyukuri apapun yang ada, ditambah lagi Asri pernah sekolah di pondok pesantren. Sangat cocok dengan putranya yang bekerja sebagai guru mengaji di sini. Hanya saja sangat disayangkan kalau putranya berjodoh dengan Fina.


Fina sangat manja dan sangat pemilih pula. Bibi sebenarnya membatin melihat kelakuan Fina. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Mungkin saja suatu hari nanti dia akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik seiring pernikahan berjalan.


"Sudah merasa baikan?"


Asri tersenyum malu. Dia cuma mengantuk dan tidak ada yang sakit, tapi reaksi suaminya sangat berlebihan.


"Alhamdulillah sudah, Bi. Badan ku jauh lebih nyaman setelah banyak beristirahat di dalam kamar." Jawabnya tersenyum.


Bibi terkekeh.


"Tadi malam paman bilang dia mendengar suaramu dan suamimu di luar. Sepertinya kalian bangun untuk makan malam. Kenapa tidak membangunkan ku saja agar aku bisa membuatkan sesuatu untuk kalian berdua?" Semua orang sangat lelah setelah bekerja mengurus pernikahan.

__ADS_1


Asri tiba-tiba teringat tentang semalam ketika dia bangun tidur dalam keadaan lapar.


"Aku lapar, mas. Beneran lapar. Aku mau makan nasi...em, telur ceplok buatan mas Arka paling enak. Aku mau makan itu...mas Arka buatin, yah?" Nada manjanya semakin mendesak dan membuat hati Arka tergelitik.


Hanya saja..


"Ini sudah tengah malam, sayang. Aku nggak mungkin masak tengah malam, takutnya nanti aku bisa membangunkan semua orang di rumah. Kamu makan apa yang ada di dapur aja, ya? Ibu bilang kalau kamu mau makan, makanannya sudah ada di dapur dan hanya perlu di angetin aja." Arka mencoba menawar.


Dia belum pernah masuk ke dalam dapur rumah ini tapi dia tahu bahwa peralatan dapur di sini tidak sebaik yang ada di rumahnya. Dia belum tentu terbiasa dan tidak ingin mencoba juga.


Asri cemberut. Dia merasa kalau Arka terlalu banyak membuat alasan. Padahal permintaannya kan sepele. Hanya diminta untuk membuatkan telur ceplok. Masaknya pun gampang. Tapi kenapa Arka menolak untuk mengabulkan permintaannya?


Dia menarik selimut dan akan menutupi kepala, tapi tangan besar Arka dari dulu menghentikan. Arka menghela nafas panjang coba bersabar dengan permintaan sang istri.


Dia tidak mungkin membiarkan istrinya tidur dengan keadaan perut lapar. Apalagi kondisi sedang tidak fit.


"Okay, aku akan masakin kamu telur ceplok. Selain ini kamu butuh apa lagi?" Tanyanya dengan nada perhatian.

__ADS_1


Asri merasa senang. Suasana hatinya yang tadi down kini perlahan naik.


"Enggak ada, mas. Cukup ini aja."


Ugh mengingatnya membuat Asri sangat malu. Pipinya langsung bersemu merah seiring suhu di wajahnya mulai memanas.


"Apakah di sini terlalu panas?" Ibu melihat wajah anaknya memerah terlalu cepat.


Bibi juga melihat pipi merah Asri yang tidak biasa.


"Mungkin di sini terlalu panas buat kamu soalnya di kota kamu sudah terbiasa pakai AC." Bibi sok tahu.


Asri menggelengkan kepalanya malu.


"Enggak, kok. Di sini enggak panas. Ngomong-ngomong aku sama mas Arka sengaja enggak bangunin bibi karena kami tahu bibi pasti capek setelah acara kemarin." Dia buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.


Baik Paman ataupun bibinya pasti sangat membutuhkan istirahat. Asri mana tega membangunkan mereka. Selain itu dia tidak mau di masakin oleh orang lain selain suaminya. Nggak tahu kenapa dia cuma mau Arka saja yang masak. Sederhana tapi sangat memuaskan untuknya. Kalau nggak mau melihat Arka yang memasak sendiri, dia bisa saja memakan makanan dari acara kemarin dan tidak perlu membangunkan Bibi untuk memasak. Tinggal panaskan saja di kompor, semuanya selesai.

__ADS_1


Tapi dia tidak mau melakukan itu karena yang dia inginkan hanyalah memakan masakan suaminya.


__ADS_2