Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 188


__ADS_3

Mengusap puncak kepalanya sayang.


"Oke, cukup ini aja. Tunggu aku balik. Sementara aku pergi kamu enggak boleh pergi kemana-mana ataupun keluar rumah. Kalau enggak kamu akan mendapatkan hukuman dariku setelah balik nanti. Dengar?" Arka mengambil kunci mobil sambil berbicara serius dengan istrinya.


Asri berulang kali menganggukkan kepalanya. Tanpa perintah dari suaminya pun dia juga tidak mau keluar dan malah lebih suka rebahan di dalam kamar. Dia mageran dan enggak mau kemana-mana.


Kalau bisa tinggal di kamar saja karena dia mudah mengantuk sekarang. Mungkin karena kecapekan setelah perjalanan jauh makanya dia sampai drop. Ini bukan masalah besar. Tidur sehari saja dia pasti akan pulih kembali. Cuman suaminya aja yang terlalu paranoid sampai bawa-bawa dokter pribadi ke sini. Padahal jalan ke sini luar biasa makan hati. Masih bergelombang dan belum tersentuh bantuan dari pemerintah. Maklum namanya juga kampung.


"Ngomong dong, jangan ngangguk aja." Arka gemas.


Asri tertawa kecil.


"Iya, mas. Aku janji enggak akan kemana-mana. Kalau enggak percaya minta aja Bapak sama Ibu awasi aku di sini." Asri meyakinkan.


Arka tersenyum dalam,"Pasti." Sebelum keluar dari rumah ini dia akan meminta kedua mertuanya mengawasi Asri selama dia pergi.


"Okay, kalau gitu aku jalan dulu. Nanti kalau kamu butuh apa-apa langsung telpon aja aku biar bisa dibeliin diluar." Arka mengecup kening Asri singkat, lalu merendahkan kepalanya agak ke bawah untuk mencuri ciuman di bibir Asri.


Lembab dan manis, seperti biasa selalu membuat Arka kecanduan.


"Jangan main-main." Asri mendorong suaminya menjauh.

__ADS_1


Tembok di sini rapuh dan tipis, poin yang paling penting adalah tembok ini tidak memiliki kedap suara yang bagus. Otomatis apapun yang mereka lakukan di dalam kamar ini pasti akan terdengar diluar.


Asri malu.


"Aku enggak main, cium istri sendiri juga." Arka tidak malu.


Asri geram.


"Langsung pergi mas!" Desaknya.


Arka tertawa kecil. Istrinya kali ini beneran marah. Dia tak berani membuat ulah lagi.


Asri mengambil tangan suaminya untuk dicium, sentuhannya sarat akan rasa hormat dan tunduk kepada suaminya tercinta. Satu-satunya pria yang selalu membayangi hatinya.


"Waalaikumsalam. Hati-hati, mas."


Setelah itu Arka keluar dari kamar dengan kunci mobil ditangannya. Dia tak pergi sendiri tapi ditemani oleh supir dan salah satu keluarga istrinya yang hapal jalan menuju ke kota.


Kini hanya Asri yang ada di dalam kamar. Tanpa suaminya dia seolah kehilangan tenaga. Jatuh merosot di atas kasur kapas yang tidak terlalu empuk karena terlalu sering dipakai.


"Aku kangen mas Arka." Kata Asri mulai merindukan suaminya.

__ADS_1


Belum ada 10 menit suaminya pergi, dia sudah merindukannya.


Yang paling aneh adalah dia tidak merasa mengantuk lagi. Padahal tadi dia berencana menghabiskan waktunya menunggu Arka dengan tidur tapi setelah pergi, rasa kantuknya malah menghilang.


Ini membuatnya heran dan frustasi ada saat yang sama.


"Ya Allah, kalau aku tahu begini kenapa aku enggak maksa aja ikut mas Arka keluar?" Dia sangat menyesalinya.


Tok


Tok


Tok


"Asri, ini Ibu." Suara Ibu di luar.


Asri langsung berdiri dan membuka pintu kamar.


"Masuk, Bu. Aku sendirian di sini, suamiku lagi keluar." Katanya sambil mempersilakan Ibunya masuk ke dalam kamar.


Ibu tersenyum. Dia datang sambil membawa nampan makanan untuk Asri sarapan.

__ADS_1


__ADS_2