
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas, untuk menyelesaikan masalah ini? Aku khawatir kejadian ini akan terulang kembali dan menimbulkan trauma untuk anak putri kita. Karena aku tahu betul apa yang Alsi rasakan dalam posisi ini sebab aku juga pernah berada di posisi ini dulu. Dijauhi teman, dicap sebagai monster dan tidak punya teman main, aku pernah merasakannya. Bahkan sampai dengan detik ini aku belum bisa melupakan pengalaman pahit waktu itu."
Ai pernah berada di posisi ini. Saat itu dia memiliki persimpangan dengan Mega dan anak-anak di kelasnya. Identitas pribadinya yang dijaga rahasia oleh sekolah dibocorkan oleh Bu Dinda, menghasut Mega untuk menyebarkan kebencian kepada anak-anak di kelas. Jujur saja, Ai sangat sedih saat itu karena tidak memiliki teman dan dicap sebagai monster, tapi dia tidak bisa mengatakannya kepada Bunda Safira dan Ayah Ali karena takut membuat mereka sedih. Sama seperti Alsi yang tidak berani berbicara, dia juga memilih untuk bungkam dan menghadapinya sendirian.
"Kamu tidak usah khawatir karena aku sudah membuat keputusan untuk menyelesaikan masalah ini. Dan aku berjanji Alsi tidak akan mengenang situasi buruk ini di dalam hidupnya, ini terakhir kalinya masalah ini merenggut kebahagiaan putri kita. Setelah masalah ini selesai, in sya Allah dia tidak akan menemukan masalah yang sama lagi." Janji Ustad Vano serius dengan tekat yang kuat.
Mendengar cerita masa lalu istrinya saja Ustad Vano ikut merasakan sakit apalagi membayangkan bila posisi istrinya kini juga dialami oleh putrinya yang murni juga polos. Ustad Vano tidak mampu membayangkannya. Dia terlalu marah dan sakit hati untuk putrinya yang telah terlalu banyak melewati penderitaan hebat.
"Dengan Mas Vano sebagai Abi nya, Ai yakin dia akan menjalani kehidupan yang baik."
Ustad Vano tersenyum, dia mengecup kening istrinya lama dengan mata terpejam seraya melambungkan sebuah doa ke pemilik langit.
__ADS_1
"Dan dengan kamu sebagai Umi nya, dia pasti akan tumbuh menjadi gadis yang hebat dan membanggakan kita kelak."
Ustad Vano tidak pernah lupa hari dimana Ai menangis hebat ketika pertama kali bertemu dengan Alsi yang mengalami pelecehan. Tangisan sedih istrinya memicu tekat Ustad Vano untuk membawa Alsi pulang dan menjadikannya sebagai putrinya bersama Ai. Itu adalah pengalaman yang sangat berharga bagi mereka berdua karena pada saat itu mereka baru saja menikah, belum memiliki pengalaman untuk membesarkan anak.
"Baiklah, Mas. Dengan kita berdua in sya Allah putri kita akan tumbuh menjadi gadis yang kuat dan hebat, membuat para bidadari surga merasa cemburu kepadanya."
Ustad Vano terkekeh geli,"Yah, tidak hanya merasa cemburu kepada putri kita tapi dia juga merasa cemburu kepadamu."
Ai tersenyum malu. Dia menenggelamkan wajahnya yang memerah ke dalam dada bidang suaminya. Merasakan suara detak jantung suaminya yang menggebu-gebu bahkan disaat suaminya tidak melakukan apapun.
"Mas..Mas Vano?" Panggil Ai dengan suara teredam dari balik dada kuat Ustad Vano.
__ADS_1
"Hem?" Ustad Vano menutup matanya, menikmati wangi lembut tubuh istrinya.
"Lalu bagaimana cara Mas menyelesaikan masalah ini?"
Ustad Vano perlahan membuka matanya, tampak dingin dan tidak tersentuh,"Masalah ini.."
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Ada ketukan pintu dari luar kamar mereka.
"Maaf mengganggu waktu kalian, tapi orang tua gadis itu datang berkunjung ke rumah dan ingin bertemu dengan kalian berdua." Suara malas Arka menjelaskan secara singkat dari balik pintu.