
"Sakit..." Asri menggosok kedua pipinya yang memerah karena cubitan Mega.
Menunduk sedih, kedua mata Asri menimbulkan riak-riak tipis seperti akan menangis.
"Astagfirullah...ini, aku sungguh tidak berniat melukaimu." Mega panik melihat air mata yang mulai mengepul di dalam kelopak mata Asri.
Ia yakin sebelumnya bila tenaga yang ia gunakan untuk mencubit pipi sahabatnya itu tidak besar. Meskipun yah... menjadi merah, tapi itu terjadi pasti karena kulit putih Asri yang sensitif.
"Bukan begitu," Asri menggelengkan kepalanya sedih,"Ini rasanya sakit karena aku dan Mas Arka tidak perlu melewati malam pertama, jadi bagaimana mungkin aku bisa mengancamnya dengan tidak memberikan 'jatah'?"
"Oh, jadi seperti itu. Aku pikir rasanya sakit karena cubit- apa! Kamu...kamu dan Paman Arka tidak pernah melakukan apa-apa...ini maksudku, kalian tidak pernah tidur bersama?" Bisik Mega diakhir kalimatnya.
Ia takut ada yang mendengarkan perkataannya- tapi hei, ini adalah berita yang sangat mengejutkan!
Jadi rasanya wajar saja ia terkejut!
Asri menggelengkan kepalanya, beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Kami selalu tidur bersama setiap malam tapi...kami tidak melakukan 'itu'."ย
Mega mengusap wajahnya tidak percaya,"Kenapa kalian tidak melakukannya? Bukankah kalian adalah suami-istri? Apa kamu tahu... setiap pasangan suami-istri pasti melakukan ini sekalipun kalian tidak saling menyukai."ย
Mega tidak bisa mengerti ini.
__ADS_1
"Aku dan Mas Arka tidak akan melakukannya sampai kami benar-benar bisa melupakan masa lalu diantara kami. Aku pikir ini adalah yang terbaik untuk kami berdua-"
"Ini baik tapi disaat yang bersamaan ini juga buruk, ya Allah. Jika kalian menikah tanpa pernah saling menyentuh maka pernikahan kalian masih lemah!" Potong Mega tidak tahan.
Dia benar-benar ingin menyiapkan waktu luangย dimana ia bisa menggurui sahabatnya ini untuk urusan rumah tangga.
"Be-benarkah?" Asri tahu rumah tangganya tidak akan bertahan lama, tapi pada akhirnya ia masih saja bertanya.
Mega menggelengkan kepalanya membuat keputusan besar,"Malam ini aku, kamu, dan Ai harus tidur bersama di ruang tamu! Ini penting, jika kita tidak segera membicarakannya maka masalah ini tidak akan pernah menemukan titik penyelesaian!"
...๐๐๐...
Suasana makan malam hari ini sedikit berbeda karena apapun yang Rani lakukan akan menarik perhatian Ustad Vano dan Arka. Mereka memberikan apapun ke dalam piring Rani agar malam ini ia bisa makan dengan lahap.
Sesekali, Ustad Vano akan mengawasi istrinya, menawarkan beberapa makanan yang akan langsung ditolak oleh Ai. Penolakan berkali-kali ini segera menghancurkan suasana hati Ustad Vano yang baik. Dia menjadi lebih lambat merespon setiap apa yang dikatakan oleh Rani dan Riani karena pikirannya kini tengah fokus pada Ai.
"Mas," Bisik Mega di samping.
"Hem?" Ustad Azam menunduk dengan perhatian agar sang istri bisa berbicara dengan mudah.
Perhatian kecil ini tentu tidak luput dari Riani, gadis sombong itu telah menaruh perhatian pada Ustad Azam sejak pertemuan tadi. Sayang sekali Ustad Azam telah menikah dan memiliki sikap yang dingin, namun bagi Riani sudah menikah belum tentu ia tidak memiliki kesempatan. Peluang akan selalu ada selama ia berusaha, jadi tumbuh sebuah pemikiran di dalam hatinya jika ia juga bisa merebut Ustad Azam sama seperti yang Rani lakukan kepada Ustad Vano.
Dunia selalu seperti ini, okay, dunia berjalan sesuai dengan arus yang manusia itu ciptakan sendiri.
__ADS_1
"Ayo, Mas. Lakukan seperti yang aku minta." Desak Mega tidak sabar.
Mata dinginnya sesekali akan melihat Ustad Vano di seberang sana yang terlihat kewalahan menghadapi sikap penolakan Ai. Sementara Rani, si biang masalah justru tidak berhenti bicara, mengatakan apapun sesuka hatinya agar direspon oleh Ustad Vano.
"Kamu... benar-benar ingin aku melakukannya?" Ustad Azam bertanya heran, ada nada keberatan di dalam suaranya.
Bagaimana ia tidak keberatan bila istrinya sendiri yang memintanya untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Iya, Mas. Lagipula Mas Azam kan sudah menganggap Ai dan Asri sebagai adik sendiri? Masa iya seorang Kakak diam saja melihat adiknya diganggu?" Ujar Mega heran.
Asri dan Ai telah dianggap sebagai adik sendiri oleh Ustad Azam. Ini bukan tanpa alasan ia melakukannya. Selain karena usia mereka, Ustad Azam juga seolah melihat Sasa di dalam diri mereka yang masih di usia remaja. Tentu saja dia tidak akan tahan bila adik-adiknya diganggu.
Hanya saja, ide istrinya terlalu gila dan ia enggan untuk melaksanakannya.
"Ayolah, Mas. Kalau enggak nih ya 'ja-"
"Ai," Ustad Azam memberikan Ai udang besar yang telah dikupas bersih dan tampak begitu lezat.
Dagingnya yang putih kemerah-merahan anehnya membangkitkan selera makan Ai kembali. Padahal sebelumnya Ustad Vano telah memberikannya beberapa udang besar tapi ia tolak karena enek melihatnya.
"Rasanya sangat enak, ini adalah restauran kesukaan Mega jadi kamu tidak perlu meragukan rasanya."
Katanya sambil memberikan Asri udang yang sama di atas piring. Ustad Azam hebatnya melakukan semua itu tanpa memperhatikan ekspresi Ustad Vano dan Arka- ah, lebih tepatnya ia sengaja melakukan itu karena dia pun sebenarnya agak kesal dengan mereka berdua.
__ADS_1
Biarlah, tidak apa-apa memberikan sedikit pelajaran kepada mereka.