Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
12. Awal


__ADS_3

"Dengan mengucapkan bismillah, ia lalu dibawa oleh Ibu dan Bibi keluar dari kamar. Berjalan ringan dengan wajah tertunduk di depan pasang mata para tamu undangan yang menatap takjub.


Tidak sedikit dari mereka yang menyayangkan akan pernikahan mendadak ini, mereka agaknya tidak mau Arka menikah dengan gadis selain putri atau keturunan mereka.


Namun sayang, Arka telah melangkah maju dan kini tengah duduk berhadapan dengan Bapak untuk segera menghalalkan Asri, gadis desa yang ia tiba-tiba jadikan sebagai calon istri.


Di seberang sana, tepatnya di atas pelaminan Arka benar-benar tidak bisa berpaling dari wajah cantik Asri. Ia benar-benar tidak menyangka jika gadis desa berpenampilan norak dan kotor itu adalah gadis cantik yang kini tengah berjalan mendekatinya.


Ah, pantas saja keponakannya rela membatalkan pertunangan.


Gadis ini memang sangat cantik dan ditambah lagi cukup lucu. Arka tidak bisa membayangkan bagaimana rumah tangganya nanti.


"Prosesi akad akan segera kita mulai." Kata Pak penghulu setelah Asri duduk di samping Arka.


Acara diawali dengan pembacaan Ayat-ayat tentang pernikahan dari Al-Qur'an, lalu kemudian beralih pada ijab kabul.


Tangan tua Bapak yang tidak sekuat dulu lagi dan kapalan terulur menjabat tangan kuat Arka di hadapan para tamu undangan.


Besar harapan Bapak bila putrinya hidup bahagia di sini bersama pemuda asing yang telah berjasa menyelamatkan hidup mereka dari warga desa.


"Saudara Muhammad Arka Alamsyah bin Muhammad Alamsyah saya nikah dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Asri Rahmawati Dewi dengan mas kawin berupa 77 gram emas dibayar tunai." Kata Bapak lancar sambil menyentak tangan Arka.

__ADS_1


Arka menggunakan suara lantang dan serius menyambut ijab Bapak dengan kabul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Asri Rahmawati Dewi binti Muhammad Suherman dengan mas kawin berupa 77 gram emas dibayar tunai."


"Sah?" Teriak sang penghulu.


"SAH!"


Semua orang berteriak dengan semangat tinggi, membuat suasana menjadi riuh sementara sang pasangan pengantin baru membeku di tempat. Tidak menyangka jika mereka sekarang sudah sah menjadi suami-istri. Padahal mereka adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain dan baru bertemu beberapa jam yang lalu.


Suasana canggung semakin terasa ketika mereka berdua diminta untuk saling memakaikan cincin pernikahan, dan berlanjut Asri mencium punggung tangan Arka yang kemudian disambut kecupan hangat di kening Asri oleh Arka.


Acara terus saja berlanjut sampai akhirnya semua tamu undangan pulang ke rumah masing-masing sementara Asri dan Arka masih duduk di tempat tidak tahu harus melakukan apa- ah, mungkin lebih tepatnya mereka tahu melakukan apa tapi canggung.


"Kak Asri kok gitu sih jadi istri. Harusnya Kak Asri menawarkan diri kepada Mas Arka untuk masuk ke dalam kamar pengantin. Jadi istri kok gak pengertian banget." Ujar Fina cemburu.


Ia menatap iri Kakaknya yang berpakaian baju pengantin bagus nan mewah, menikah laki-laki tampan dan kaya raya, jujur...dia menginginkan tempat itu tapi Asri menolak memberikan.


"Hus, hati-hati kalau ngomong kamu. Kakak kamu pasti canggung menikah dengan laki-laki asing dan juga Kakak kamu pernah sekolah di pondok pesantren, ilmu yang ia terima di sana membuat Kakak kamu menjadi pribadi yang pemalu." Kata Ibu menasehati putrinya.


Dia tidak tahan melihat mata laser penuh kecemburuan Fina kepada Asri, jadi dia menarik Fina ikut bersamanya keluar.

__ADS_1


"Kemana, Bu?" Tanya Fina jengkel.


Ibu menjawab,"Pulang! Tuan Arka bilang rumah ini adalah rumah pribadinya. Kita tidak bisa tinggal berlama-lama di sini." 


Fina kian masam saja rasanya.


"Tapi Fina masih belum mau pulang, Bu. Fina masih mau tinggal di sini."


Ibu menghentikan langkahnya, dia menatap Fina tajam sarat akan kemarahan.


"Jangan membuat masalah untuk Kakak kamu! Dia ada di posisi ini semua karena kamu tidak ingin menikah dengan Rodi. Sekarang setelah melihat Kakak kamu menikah dengan orang kaya, kamu menjadi iri. Nak, sikap ini tidak baik dan kamu harus segera mengubahnya." 


Fina malu karena niat hatinya diketahui oleh Ibu. Dia semakin cemberut, menghentakkan kakinya marah dan pergi meninggalkan Ibu sendirian. Dia ingin meluapkan kekesalan hatinya di dalam kamar yang baru semalam di tinggali.


Benar rumah yang mereka tinggali ada di samping kanan rumah Arka, mereka terhalangi tembok besar dan tidak bebas masuk ke sini. Arka selalu memiliki penjaga yang ketat, tidak perduli apa hubungan mereka dengan Asri, selama Arka tidak mengizinkan masuk maka mereka tidak akan pernah masuk.


Inilah yang membuat Fina kian kesal. Kakaknya di sini tinggal di rumah yang besar dan mewah, sedangkan mereka di sebelah tinggal di rumah yang lebih kecil dari ini. Selain itu Fina merasa tidak terima karena Asri bisa menikah dengan Arka, padahal Asri adalah orang desa yang putus sekolah, tidak memiliki pendidikan tinggi dan agak bodoh.


Sementara Fina sendiri adalah gadis desa yang cerdas dan memiliki banyak prestasi, sekolah di tempat yang tinggi dan tidak murah. Jadi, dibandingkan dengan Asri, seharusnya ia lebih pantas menikah dengan Arka.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2