Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 90


__ADS_3

Sholat magrib sudah berkumandang sementara istrinya belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Dia masih tertidur lelap dan nyaman di atas kasur mereka dengan bantal gulingĀ  empuk di dalam pelukan.


Apa cinta seaneh ini?


Mengapa ia selalu merasa bila istrinya terlihat menarik apapun yang ia lakukan? Entah itu sedang tidur atau tidak, sedang memasak atau tidak, sedang menyiram bunga atau tidak, apapun itu...dia selalu merasa bila apapun yang dilakukan istrinya terlihat sangat menarik dan penting.


"Aishi Humaira," Panggil suaminya lembut seraya mengelus pipi lembut Ai, wanita cantik yang kini tengah terlelap di dalam mimpi.


Sejujurnya tidur di waktu-waktu menjelang magrib maupun tengah magrib adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam Islam sebab dapat mengundang penyakit. Dan Ustad Vano tahu bila Ai tidak seharusnya melakukan ini. Akan tetapi ia tidak enak hati menghentikan istrinya tidur karena tidurnya begitu nyaman dan damai.


Hah,

__ADS_1


Cinta memang memiliki sisi baik bila mampu dikelola dengan baik, tapi jika tidak?


Inilah yang Ustad Vano rasakan sekarang. Karena terlalu mencintai Ai, dia sampai lalai terhadap perintah Allah dan anjuran Rasulullah Saw. Naudzubillah, Ustad Vano tidak ingin jauh dari ridho Allah, maka buru-buru ia membangunkan istrinya agar segera mendirikan sholat magrib, meraih kemenangan yang Allah janjikan untuk seluruh umat muslim.


"Wahai istriku, Allah telah memanggil kita untuk segera mendirikan sholat magrib, maka tidakkah kamu menginginkan sebuah kemenangan untuk hidup kita?" Bisik Ustad Vano dengan suara yang lembut tanpa tergesa-gesa namun ada nada tekanan di dalam kelembutan itu.


"Sudah magrib, Mas?" Ai terbangun dengan mudahnya, menatap bingung wajah tampan sang suami yang sangat dekat dengan wajahnya.


Dan sekarang, perhiasan terbaik dunia ini, gadis yang akan menjadi wanita surga kelak kini telah resmi menjadi miliknya, milik seorang Vano yang telah mendapatkan gelar 'Ustad' setelah memupuk ketekunannya untuk melewati setiap ujian agar bisa bersanding dengan Aishi Humaira, sang gadis pemalu dan berhati lembut.


"Mas Vano," Sebuah usapan lembut Ustad Vano rasakan di wajahnya, siapa lagi pelakunya selain Aishi Humaira?

__ADS_1


"Mas Vano kok ngelamun? Lagi mikirin masalah kantor, yah?" Tanya Ai lembut.


Pasalnya beberapa hari ini suaminya sangat sibuk mengurus urusan di kantor yang sangat rumit. Tidak cukup di kantor saja karena suaminya akan menyambung lagi pekerjaannya di rumah.


Ustad Vano selalu menjadi orang yang lembut, dia begitu berhati-hati dan penuh kasih saat berhadapan dengan Ai. Setiap malam Ustad Vano akan menunggu Ai jatuh terlelap dulu sebelum pergi ke meja kerja untuk bekerja. Sambil bekerja ia akan mengawasi istrinya yang sedang tertidur lelap di atas ranjang. Benar, meja kerja Ustad Vano memang ada di dalam kamar mereka, tidak terpisah ataupun berjauhan. Ini adalah permintaan Ustad Vano sendiri karena ia tidak ingin jauh dari istrinya.


Posesif memang tapi Ustad Vano tidak malu mengakuinya. Dia bahkan secara terang-terangan mengatakan kepada kedua orang tuanya, kedua mertuanya, dan kepada Ai terutama bahwa ia adalah laki-laki yang sangat posesif.


Dia sangat ketat bila menyangkut Ai dan tentu saja, ia sangat mudah cemburu.


Tapi Ai tidak pernah mempermasalahkannya dam justru merasa sangat bersyukur karena cinta suaminya sungguh sangat dalam. Ia lega mendengarnya.

__ADS_1


Lalu berbicara mengenai kesibukan suaminya setiap malam, sejujurnya Ai tahu bila sang suami kerap kali meninggalkan ranjang mereka begitu ia pura-pura tertidur. Suaminya sering begadang untuk menyelesaikan pekerjaan sehingga waktu tidurnya jauh lebih singkat dari malam-malam sebelumnya.


__ADS_2