
Pagi ini aku langsung menyiapkan sarapan di dapur bersama Mega dan Asri. Sepanjang bekerja entah mengapa aku merasa telah melupakan sesuatu tapi aku ragu tentang apa itu. Pasalnya aku yakin telah membersihkan kamar dengan baik, menjemur semua cucian di halaman belakang, dan sekarang aku akan memasak. Semua tugas sehari-hari telah aku kerjakan dengan runtut tapi hatiku seolah telah melupakan sesuatu yang penting.
"Kamu kenapa, Ai?" Asri bertanya kepadaku.
"Aku sepertinya telah melupakan sesuatu tapi aku tidak yakin telah melupakan apa." Jawabku.
Dia menaruh teflon panas ke dalam wastafel dan mengalirinya dengan air keran agar panas segera menguap.
"Jika kamu merasa ada sesuatu yang hilang maka itu pasti sangat penting sehingga hatimu mengingatkan mu." Kata Asri ada benarnya.
Bila hati sampai terlibat maka itu pasti sangat penting dan berharga untukku. Tapi aku tidak tahu apa yang telah aku lupakan.
"Kenapa kamu tidak melihat ke atas saja untuk memastikan, takutnya itu adalah hal yang sangat penting untukmu." Mega menyarankan ku untuk kembali ke kamar.
Aku ingin tapi semua hidangan baru saja matang belum dipindahkan ke atas piring saji.
"Nanti saja setelah semua makanan di atas meja." Kataku menimbang.
"Pergi saja Ai, masalah di sini biar kami saja yang mengurusnya. Toh kami hanya perlu memindahkannya ke atas meja makan saja." Kata Mega sekali lagi menyarankan aku untuk pergi.
Aku terdiam, memperhatikan semua makanan yang telah jadi dan seharusnya tidak membutuhkan banyak upaya untuk memindahkannya ke meja makan, maka aku memutuskan untuk mengikuti kata kedua sahabatku.
Aku mengucapkan pamit kepada mereka dan buru-buru keluar dari dapur. Saat melewati ruang keluarga aku melihat Paman Arka dan Ustad Azam sedang duduk membicarakan sesuatu tanpa kehadiran suamiku. Eh, apa Mas Vano sekarang ada di dalam kamar kami? Pikirku menerka-nerka.
__ADS_1
Keinginan ku untuk naik ke kamar semakin terpacu. Aku berlari kecil menaiki tangga secepat yang aku bisa.
"Mas Vano," Saat dipertengahan tangga aku melihat pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok tampan suamiku-
Ada sesuatu yang aneh dari Mas Vano pagi ini. Kedua mata tajam Mas Vano menatapku dengan sorot yang sulit dijelaskan. Mungkin jika aku tidak salah lihat kedua mata Mas Vano tampak memerah dengan riak-riak tipis yang mulai mengepul di dalam.
Mas Vano menangis, tapi karena apa?
Aku sungguh panik melihat Mas Vano menangis sehingga langkah kakiku tanpa sadar semakin dipercepat.
"Mas Vano kenapa?" Tanyaku sambil berjalan cepat.
Tapi bukannya menjawab Mas Vano malah berlari kencang mendekatiku sambil memperingatkan ku agar jangan terlalu cepat berjalan di atas tangga.
Aku tahu Mas Vano mengkhawatirkan ku akan tetapi rasa cemas ku kepadanya tidak bisa ditahan.
"Mas-"
Grab
Sebelum aku bisa menyelesaikan panggilan ku, Mas Vano sudah lebih dulu menarik ku ke dalam pelukannya.
"Ai, aku bilang hati-hati berjalan di tangga karena kamu sedang hamil."
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Ustad Vano P. O. V
Pagi ini aku memulainya dengan sebuah kesalahpahaman. Karena ucapan ku yang tidak bisa langsung dipahami, istriku menjatuhkan air matanya merasa terluka. Ia pikir aku sedang membicarakan wanita lain padahal wanita yang aku bicarakan adalah Mama. Benar, melihat Ai begitu cemas dan gelisah mengenai kehamilannya yang belum pasti membuatku tiba-tiba teringat pada Mama. Sosok wanita hebat yang telah berjasa besar melahirkan dan membesarkan ku ke dunia ini.
Aku membayangkan bila posisi ku dan Ai juga dilewati oleh Mama dan Papa. Mereka harusnya cukup cemas mengharapkan kehadiranku yang belum jelas datang atau tidaknya.
Haah...rasa cintaku kepada Mama rasanya kian dalam saja. Aku rindu Mama dan ingin bertemu dengannya.
Anehnya,
Aishi Humaira adalah gadis yang penuh akan keajaiban. Tidak hanya mendekatkan ku dekat dengan Allah tapi dia juga membuat rasa cintaku kepada Mama semakin besar.
Sebelum turun ke bawah aku terlebih dahulu menatap beberapa kotak dan kemasan tespek yang ada di atas mejaku. Semua benda-benda steril ini akan digunakan oleh istriku untuk memastikan bahwa di dalam rahimnya sudah adakah atau tidak mahluk kecil yang kami harapkan.
"Mas Vano?" Panggilan lembut Ai menarik ku dari tespek tespek yang ada di atas meja.
"Iya, sayang." Teriakku tapi belum mau beranjak dari tempatku berdiri.
Aku memegang salah satu kotak tespek, menghela nafas, di dalam hatiku berhembus sebuah harapan yang seringkali ku lambung kan dalam diam.
"Bismillah, janji Engkau pasti ya Allah dan aku tidak akan meragukannya." Bisik ku berbicara dengan Allah, Dzat yang tidak pernah meninggalkan ku dan selalu bersamaku kemanapun aku melangkah.
__ADS_1