
"Tapi kamu harus tahu, tidak baik menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan sahabat kami karena suaminya bukanlah orang yang bodoh. Ditambah lagi dengan kelakuan kasar mu untuk menyakiti istri dan anaknya, apa kamu yakin dia akan mau melirik kamu? Atau apa kamu yakin dia akan berbalik menyukai kamu? Hahaha... Sayang sekali kamu terlalu banyak bermimpi. Kamu harus tahu bila suaminya sudah dikejar oleh banyak wanita yang lebih cantik dan lebih baik daripada kamu, tapi hasilnya? Mereka semua hanya mendapatkan bahu dingin saja. Padahal mereka adalah wanita berakhlak baik juga bermandikan ilmu agama, namun masih saja belum dilirik oleh suamiku sahabatku. Dan kamu? Apa bedanya kamu dengan tikus di dalam got bila dibandingkan para wanita-wanita itu? Pertama kamu tidak cantik, kulit wajahmu sangat berminyak dan yang paling penting adalah kamu memiliki akhlak yang sangat buruk. Jadi mana mungkin Ustad Vano bersedia melihat mu? Di saat yang sama pula kamu juga menyakiti istri dan anaknya, apakah kamu masih yakin dia memandang kamu? Hei, aku ingatkan baik-baik yah. Suami sahabat ku adalah orang yang bertemperamen dingin dan cuek, tapi sekalinya marah, kamu akan menyesalinya. Jika kamu tidak percaya, mari dengarkan apa yang akan dia katakan setelah dia menjawab panggilan ku." Kata Mega tanpa ampun tepat menusuk tempat tersakit di dalam hati gadis itu.
Dia menyukai Ustad Vano, yah, dia menyukainya sejak pertama kali dia melihatnya. Saat itu Ustad Vano, Ustad Azam, dan Arka baru saja pulang sholat subuh dari musholla kompleks perumahan. Karena mereka adalah pengantin baru dan berasal dari keluarga yang sangat dihormati, para tetangga keluar untuk menyapa mereka. Semua orang langsung terkesan dengan ketampanan mereka semua tidak terkecuali Ibu gadis ini.
Mendengar mereka berasal dari pondok pesantren, Ibu gadis itu berpendapat jika mereka bisa menikah lagi atau berpoligami karena orang yang belajar agama biasanya melakukan ini. Jadi saat mereka lewat di depan halaman, Ibu gadis ini buru-buru menyapa dan ingin memperkenalkan gadis itu kepada mereka. Tapi Ustad Vano dan yang lainnya menolak tanpa dua kali, mereka langsung pulang ke rumah setelah membeli bubur untuk istri masing-masing.
__ADS_1
Gadis itu tidak bisa melupakan wajah tampan Ustad Vano dan diam-diam mulai mengidamkan nya. Dari saat itu, setiap pagi gadis itu membuka gerbang rumahnya selebar mungkin dan berpura-pura menyapu halaman agar bisa bertemu dengan Ustad Vano saat pulang dari musholla.
Bangun setiap pagi berdandan untuk mencari perhatian Ustad Vano, inilah tujuannya. Tapi apa yang dia dapatkan justru hanya kehampaan. Tiap kali Ustad Vano lewat dia sama sekali tidak meliriknya atau bahkan melambatkan langkah kakinya untuk sekedar menyapa.
Gadis itu patah hati dan karena ini dia berusaha mencari tahu tentang istri Ustad Vano. Sampai akhirnya dia tahu bila istri Ustad Vano lahir cacat dan tidak sempurna. Mendapatkan informasi ini membuat gadis itu mengembangkan harapan lagi untuk mendapatkan perhatian Ustad Vano.
__ADS_1
"Halo, assalamualaikum. Istriku baik-baik saja kan, Ga?"
Dan hal pertama yang selalu ditanyakan oleh Ustad Vano adalah Ai, Ai, dan Ai. Bahkan Alsi, putri terkasihnya tidak bisa merebut tempat Ai.
"Waalaikumussalam. Ustad Vano, untuk sekarang Ai baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa menjaminnya di masa depan." Kata Mega memancing.
__ADS_1
"Hah, maksud kamu apa? Memangnya ada apa dengan istriku?!"