
"Kenapa tidak?" Arka rupanya tidak menolak.
"Dia adalah adik ipar ku jadi mana mungkin aku tidak bisa meluangkan waktuku sedikit saja istriku?" Tanpa menunggu istrinya berbicara lagi, Arka langsung menyambung ucapannya.
Asri secara alami menutup mulutnya. Dia tidak ingin menyanggah ucapan suaminya. Dia diam dengan tenang, mendengarkan setiap ucapan lembut suaminya yang penuh kasih. Suaminya berbicara dengan nada rendah yang lembut, membuat Asri merasa seolah-olah suara bernada rendah itu kini tengah mengelus cuping telinganya. Panas, sensasi itulah yang dia rasakan saat ini. Tidak hanya wajahnya yang panas tapi juga telinganya. Aneh, AC di kamar mereka padahal selalu menyala tapi mengapa malam ini terasa begitu gerah?
Arka tidak memperhatikan keanehan istrinya karena dia sibuk berbicara.
"Lagipula aku pergi bersama kamu. Selama kita bersama kamu, sisanya tidak masalah. Maksudku semuanya akan baik-baik saja dan aku juga tidak akan merasa bosan. Anggap saja kita pergi liburan bersama. Toh, kampung itu juga dekat dengan kampung halaman mu, tempat kelahiran istriku jadi sejujurnya aku agak exited dengan rencana berpergian ini. Lalu jam berapa kita berangkat besok?" Tanya Arka sambil berpikir hadiah apa yang akan dia bawa besok untuk pengantin baru itu.
Sejujurnya dia tidak menyukai Fina sampai pada tahap tidak ingin melihatnya lagi. Namun dia adalah adik dari kekasihnya dan kabar baiknya dia telah menikah dengan laki-laki lain sehingga rumah tangganya tidak terancam lagi. Yah, setidaknya berikan wajah sedikit saja untuk gadis itu pikirnya. Toh ini demi istri dan mertuanya. Jika dia tetap bersikap dingin mertuanya pasti tidak menyukainya. Dan bila mertua tidak menyukainya lagi maka Asri secara alami akan lebih condong mendengar kedua orang tuanya. Bisa bahaya bila rumah tangganya goyah gara-gara masalah ini.
"Kita besok berangkat pukul dua siang, mas, setelah sholat Jum'at. Dan bapak juga bilang kita bisa saja mengajak Ai dan Mega dengan pasangan masing-masing agar kita bisa refreshing sedikit." Jawab Asri seraya berusaha menetralisir suhu panas di wajahnya.
Jangan sampai suaminya menyadari keanehannya.
"Ide bagus. Aku akan membicarakannya dengan mereka nanti. Kamu juga bisa bicara- sayang, wajah kamu kenapa?" Arka shock melihat wajah merah istrinya yang tak biasa.
Jika dia tidak merasakan suhu normal istrinya maka mungkin dia akan berpikir bila istrinya saat ini sedang demam. Namun untunglah tubuh istrinya memiliki suhu normal dan tidak mencurigakan.
"Aku..." Asri spontan mengangkat tangannya ingin menyembunyikan wajah merahnya.
__ADS_1
Tapi tangan besar sang suami lebih dulu menangkap pergelangan tangannya, mencegat tangan ramping nan kasar itu agar tidak menyembunyikan keindahan yang kini tengah merekah dibawah sengatan rona merah lembut yang menggelitik hati.
"Mas Arka!" Asri langsung berpaling tak memiliki keberanian menatap wajah tampan suaminya.
Arka tersenyum lembut. Tangan besar lainnya yang bebas kemudian menyentuh dagu istrinya, menarik dagu berdaging itu agar kembali menatapnya. Nyatanya mata istrinya tertunduk malu, kelopak matanya yang lebar bagaikan kelopak bunga menurun dengan getaran yang tidak disengaja sehingga menyebabkan bulu mata panjang itu bergetar mengayun lembut, terlihat cantik dan menawan.
"Kebetulan malam ini adalah malam Jum'at. Aku dengar ibadah suami istri baiknya dilakukan malam ini karena ada banyak berkah yang akan menyambut kita." Ucap Arka dengan suara rendahnya yang seksi.
Entah sejak kapan nada suaranya berubah, terdengar serak dan berat namun pada saat yang sama juga seksi. Suara ini cukup familiar untuk Asri karena seringkali hadir disaat mereka tengah dimabuk cinta di malam-malam penuh ibadah. Dia telah terbiasa mendengarnya tapi tetap saja setiap kali mendengarnya membuat tubuhnya langsung segera merinding.
Dia tidak tahan dengan cobaan ini.
"Mas Arka tidak bisa menggunakan alasan ini sebab waktu yang dimaksud adalah hari Jum'at dan bukannya malam Jum'at. Bahkan hadis nya pun masih lemah jadi tidak bisa dijadikan patokan untuk beribadah." Asri mengangkat kelopak matanya, berkedip ringan menatap wajah suaminya yang hanya berjarak beberapa inci lagi dengannya.
"Bahkan jika dalilnya diragukan kita akan mendapatkan ibadah bila melakukannya, apalagi aku sangat berharap melalui malam-malam yang kita lalui ini Allah meridhoi hubungan kita hingga ke tempat yang selalu kita mimpi-mimpikan. Dan jika memang Allah ridho, melalui malam-malam ini Allah hadirkan buah hati di dalam rahimmu. Istriku, bukankah kamu juga mengharapkan apa yang aku harapkan?" Bisik Arka membawa rasa candu.
Asri tanpa sadar menutup matanya, meresapi sentuhan tangan Arka di puncak kepalanya sedangkan tangan lainnya telah beralih memegang lehernya. Semua kata-kata suaminya ini, bagaimana mungkin dia tidak mengharapkannya. Malah dia selalu bermimpi menyusul kedua sahabatnya yang telah mengandung buah hati. Dia berharap, doa-doa ini tidak pernah lepas dari sujud nya di waktu-waktu sholat dan dinginnya malam. Bahkan sebelum tidur pun dia masih melangit kan harapan yang sama agar rumah tangganya lebih lengkap.
"Aku ingin suamiku, bahkan doaku tidak pernah luput dari harapan ini." Bisik Asri membalas seraya mengangkat kelopak matanya menatap wajah tampan sang suami.
Senyuman Arka langsung merekah lebar,"Aku tahu itu." Bisiknya puas. Ada arus hangat yang mengaliri hatinya saat ini.
__ADS_1
Asri tersenyum malu.
"Tapi...tapi ini masih pagi, mas. Mas Arka juga belum ngomong sama ustad Vano dan ustad Azam mengenai perjalanan besok." Kata Asri buru-buru sebelum suaminya menerkamnya.
Meskipun dia ingin tapi ini baru saja pukul 9 malam!
Arka tersenyum lebar,"Urusan mereka bisa menyusul tapi perencanaan masa depan kita tidak bisa diganggu, jadi sebagai seorang suami aku pasti lebih mendahulukan kepentingan rumah tangga kita daripada mereka." Arka menyahuti dengan mudahnya.
Benar saja, bila Arka sudah mau, segala sesuatu tidak akan bisa menghalanginya. Bahkan kepentingan perusahaan pun tidak bisa masuk ke dalam matanya. Asri mengerti ini tapi pada saat yang sama dia juga agak gentar karena suaminya terlalu... terlalu buas.
Namun melayani suami adalah ibadah sekaligus sebuah kebaikan yang dapat merayu perhatian Allah SWT. Bila suaminya ridho dan bahagia, maka Allah pun ridho kepadanya. Bagi istri manapun ridho suami adalah hal yang sangat penting dan berharga agar bisa mendapatkan pertolongan Allah. Bila ridho tidak bisa didapatkan, maka pertolongan Allah akan sangat sulit digapai, naudzubillah.
Suaminya sudah mengatakan begini maka Asri tidak akan menolaknya lagi sebab berhubungan suami-istri adalah ibadah yang sangat baik bila dilakukan atas nama Allah SWT.
"Melayani mas Arka adalah ladang ibadah untukku, maka aku...akan menyerahkan semuanya kepada Allah." Bisik Asri malu-malu.
Wajahnya kembali dilanda serangan panas. Anehnya, dia malah menikmati buaian panas ini.
Arka tersenyum lebar,"Benar-benar istri yang soleha. Semoga Allah meridhoi penyatuan kita, istriku. Dan semoga Allah menghadirkan benih kehidupan di dalam rahimmu melalui malam ini." Bisik Arka tidak lupa melambungkan sebuah harapan.
Asri menutup matanya penuh harapan yang tulus.
__ADS_1
"Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah."