
Asri merasa lelah dan pada saat yang sama pusing. Indra penciumannya dirangsang oleh berbagai macam bau yang tak sedap dan mengganggu. Perasaan ini sudah mulai dia rasakan ketika turun dari mobil. Saat itu dia dikelilingi oleh banyak warga desa yang ingin bertegur sapa kepadanya dan Arka. Saat terjebak di dalam keramaian berbagai macam wangi parfum bercampur hingga membuat kekacauan. Ditambah lagi bau keringat orang-orang. Lututnya menjadi lemas dan ada gelombang mual yang ingin menyeruak dari dalam perutnya. Asri menduga bahwa dia mungkin jenuh telah melakukan perjalanan jauh sehingga membuat reaksi sekuat ini. Kondisinya semakin memburuk saat masuk ke dalam rumah karena di dalam bau berbagai macam hidangan yang disajikan untuk para tamu memenuhi seisi rumah. Tubuh Asri seketika merosot lemas. Dengan sigap Arka menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Melihat istrinya seperti ini dia menjadi khawatir takut terjadi sesuatu yang tidak inginkan.
"Asri sedang tidak enak badan, Pak. Dia butuh istirahat di kamar." Sambil berbicara dia membopong tubuh lemas Asri menuju kamar yang diarahkan oleh Bapak.
Kondisi Asri membuat keluarga khawatir dan cemas, Mereka bertanya apa yang terjadi tapi Arka hanya mengatakan bahwa Asri tidak enak badan setelah melakukan perjalanan jauh. Dia kecapean dan butuh istirahat. Setelah Arka mengatakan ini, mereka tidak lagi khawatir dan mendesak Arka untuk menemani Asri di dalam kamar.
Arka tentu saja tidak menolak. Dia meletakkan Asri dengan hati-hati di atas kasur. Melonggarkan jilbab Asri setelah pintu tertutup rapat agar istrinya dapat bernafas dengan baik. Lalu dia menggeledah tas istrinya dan mengambil minyak kayu yang biasa digunakan Asri setiap kali merasa tidak nyaman. Dengan tangan telaten dia meraup sejumlah besar minyak kayu sebelum mengaplikasikannya ke bagian leher, perut, dan telapak tangan serta telapak kaki Asri se'merata mungkin. Setelah beres dengan tempat-tempat sensitif itu, Arka ikut membaringkan dirinya di samping Asri sambil menempelkan jari telunjuknya di depan hidung Asri. Dia berharap bila Asri segera membuka matanya.
__ADS_1
Dasarnya dia sangat khawatir dengan kondisi Asri. Dia hampir jantungan melihat istrinya tiba-tiba pingsan. Jika bukan karena pengendalian dirinya yang kuat maka mungkin dia pasti sudah melarikan Asri kembali ke kota untuk menjalankan pemeriksaan menyeluruh.
"Mas Arka... Sudah mas... Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma kecapean aja." Asri tidak tahu apakah dia pingsan tadi atau tidak karena saat dibopong oleh Arka tadi, dia saat itu masih tersadar dan mendengar suara kepanikan keluarganya.
"Kamu membuatku takut.... Jika tidak melihat wajah Bapak dan Ibu, aku pasti sudah membawamu kembali ke kota." Arka menyingkirkan tangannya dari wajah Asri dan beralih melingkarkan tangannya ke pinggang Asri, menarik gadis lembut itu lebih dekat dengannya hingga tidak menyisakan jarak.
"Lain kali biasakan minum obat dulu sebelum pergi. Em, tapi bertanyalah kepada dokter apakah obat itu bisa dimakan saat sedang melakukan perjalanan? Takutnya ada pantangan yang harus segera dihindari. Oke, karena maag kamu kambuh jadi sebelum tidur kamu harus minum obat dulu biar istirahatnya tidak terganggu." Dia mengambil tas istrinya untuk mengambil obat maag dan membantu istrinya untuk minum obat sebelum tidur.
__ADS_1
Asri menurut saja diatur oleh sang suami karena dia juga menyadari bahwa ini adalah kelalaiannya sehingga membuat penyakitnya kambuh dan menakuti sang suami.
Setelah selesai minum obat, barulah Asri merasa jauh lebih tenang. Rasa kantuk yang sempat tertahan kini datang melanda. Membuat kelopak matanya menjadi berat seiring kesadarannya yang mulai menghilang. Sebelum benar-benar jatuh tertidur dia melingkari punggung suaminya dan menenggelamkan wajah kecilnya di dada bidang sama suami. Entah mengapa wangi parfum atau badan suaminya membuat rasa mual di dalam perut Asri perlahan menguap. Rasanya begitu nyaman hingga akhirnya dia tertidur.
"Mimpi indah sayang. Jangan membuatku ketakutan lagi, dengar?" Bisik Arka di atas ke puncak kepala sang istri.
Namun sang istri hanya meresponnya dengan suara nafas teratur yang menunjukkan bahwa dia telah jatuh ke alam mimpi.
__ADS_1
"Hem." Melihat istrinya tertidur dengan damai dan mungkin karena terlalu capek setelah melakukan perjalanan jauh, Arka mulai mengantuk. Perlahan-lahan matanya tertutup menyusul sang istri ke alam mimpi.