Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 111


__ADS_3

"Ha-hamil?" Bisiknya tidak rela.


Betapa besar harapannya Ustad Vano segera menarik kata-katanya kembali bahwa Ai sedang tidak mengandung. Namun, harapan hanyalah sebuah harapan. Harapannya pupus di tengah jalan sebelum bisa melambung tinggi untuk mengudara.


"Iya Rani, istriku benar-benar hamil. Beberapa bulan lagi kamu akan melihat keponakan mu yang lucu-lucu dan manis." Ustad Vano secara halus menikam hati Rani, menghujani hati Rani dengan berbagai macam rasa sakit yang begitu pedih.


Terluka, Rani menatap kosong wajah merah Ai yang kini berkubang dalam hidup kebahagiaan bersama laki-laki yang ia idam-idamkan. Ya Tuhan, betapa iri hatinya ingin menggantikan posisi Ai, betapa cemburu dirinya ingin berdiri di sana menggantikan posisi Ai. Ia ingin melakukan semua keinginan egois itu tapi semuanya langsung menguap saat melihat wajah tampan Ustad Vano tersenyum begitu lebar berada di dekat Ai. Kedua matanya tidak pernah berpaling dari wajah cantik Ai, menatapnya penuh kasih seolah-olah di dunia ini tiada lain dan tiada seorangpun selain Ai yang paling berharga.


Rasanya begitu aneh. 


Hatinya memang sakit melihat kedekatan dan mendengar kabar bahagia dari mereka berdua. Hanya saja ada sesuatu yang datang mengetuk pintu hatinya seolah-olah berteriak nyaring di dalam hatinya dengan nada mencemooh,


Hey, tidakkah kamu melihat bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja sekalipun manusia itu terlahir berbeda?


Tidakkah kamu melihat kuasa Tuhan di dalam kejadian ini?


Dia hamil, gadis yang kamu remehkan sebelumnya saat ini sedang hamil! Dia sedang mengandung seorang anak di dalam rahimnya!


Tidakkah kamu merasa malu karena telah meremehkan kekuasaan Tuhan?


"Aku..." Rani menyentuh dadanya menahan sesak.


Dia terlihat linglung dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Informasi besar ini sangat sulit dicerna kepalanya. Di tambah lagi suara-suara penuh cemooh yang masih betah berteriak nyaring di dalam hatinya seolah menyiksa Rani untuk menyadari kesalahannya.


"Oh, selamat untuk Kak Vano dan Kak Ai. Aku harap keponakan ku segera lahir dalam keadaan sehat dan selamat." Dia akhirnya mengatakan ini di tengah-tengah rasa sakitnya yang mengembara.

__ADS_1


Ustad Vano dan Ai menerima baik ucapan selamat dari Rani. Mereka berbicara ringan beberapa kali di depan Rani, entah disadari atau tidak keintiman mereka semakin menyakiti hati Rani.


Rani lalu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, menyiapkan ruang untuk dirinya sendiri agar bisa memenangkan diri. Begitu sampai di dalam kamar mandi, Rani segera menjatuhkan dirinya ke atas lantai dingin. Ia menutupi wajahnya yang mulai terisak menangis.


Ia tidak ingin menjadi manusia yang munafik, jujur, ia sangat mencintai Ustad Vano. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh di dalam hatinya. Akan tetapi ketika melihat senyuman bahagia dan tatapan penuh cinta Ustad Vano kepada Ai, ia tiba-tiba merasa malu pernah memiliki keinginan untuk merusak rumah tangga mereka.


Apalagi pernah terbesit pikiran gila di dalam benaknya bahwa kekurangan Ai adalah peluang yang Tuhan ciptakan untuknya agar bisa bersatu dengan Ustad Vano.


Klise memang, pikirannya itu segera dibantah oleh Tuhan hari ini juga. Tuhan hadirkan makhluk hidup ke dalam rahim Ai- rahim yang awalnya Rani remehkan.


Ah, betapa sakit hatinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ia bertanya dalam isak tangis penyesalannya.


"Aku mencintai Kak Vano tapi Kak Vano tidak mencintaiku. Dia sudah mencintai Ai, mencintai gadis yang lebih baik dariku. Tapi ..tapi aku tidak bisa melepaskan Kak Vano, aku masih belum bisa merelakannya hidup dengan gadis selain diriku."


Dia tidak bisa melupakan Ustad Vano dan belum bisa melepaskannya hidup bahagia dengan Ai, akan tetapi terlepas dari egonya ini dia menyadari bahwa Ustad Vano tidak akan bahagia bila hidup bersamanya. Jadi, haruskah ia menyerah saja?


Menyerah untuk mengejar Ustad Vano yang telah hidup bahagia dengan rumah tangga kecilnya bersama Ai. Tapi bila dia benar-benar menyerah, apakah ia sanggup merelakan Ustad Vano berdana Ai?


Jujur, mungkin dia tidak akan sanggup karena perasaan yang dia miliki kepada Ustad Vano tidak sebulan atau dua bulan, tapi ini sudah lebih dari 1 tahun lamanya.


Ini lebih lama dari yang semua orang bayangkan.


"Aku tidak tahu..aku tidak tahu harus melakukan apa." Bisiknya kesakitan, merasakan setiap detak jantungnya yang meninggalkan perasaan perih tidak berdarah. 

__ADS_1


Ugh, patah hati nyatanya sesakit ini.


...🍃🍃🍃...


Sementara itu di ruang tamu, Arka dan Riani memulai pembicaraan mereka. Awalnya, Arka memulai dengan topik ringan tanpa menunjukkan niat untuk melanjutkan topik yang sama hingga akhirnya Arka beralih membicarakan topik pembicaraan yang sangat serius.


Di bawah pengawasan semua orang ia mulai mengintrogasi Riani yang masih bisa tersenyum ceria tanpa merasa curiga sedikitpun.


Hah, malangnya. Usianya masih sangat kecil tapi kenapa mulutnya sangat lihai menciptakan kontradiksi di dalam rumah tangganya? Arka bertanya-tanya dengan heran.


"Riani, apa boleh aku bertanya masalah apa yang kamu miliki dengan istriku?" Tanya Arka dengan nada suara datarnya yang khas.


Seharusnya tidak ada yang aneh dari hal ini- yah, ini bila Riani tidak bertemu pandang dengan sorot dingin mata Arka. Bila nada suara terdengar datar itu adalah hal yang tidak terlalu menakutkan untuk Riani, tapi lain halnya dengan sorot mata dingin. Ada arti khusus yang dimiliki bila Arka memiliki sorot mata dingin.


Ketika mendengar pertanyaan ini, Riani awalnya sangat terkejut. Kedua matanya bertindak secara alami menatap wajah kecil Asri yang tidak menunjukkan tanda-tanda kejutan. Muncul cemoohan di dalam hati Riani. Ia tahu sekarang, Asri pasti telah mengadu kepada Arka untuk semua masalah yang ia timbulkan.


Memikirkan tindakan 'suka mengadu' ini, ketidaksukaan Riani kepada Asri semakin berlipat ganda. Ia benar-benar tidak suka Asri terus menerus menempeli Pamannya.


Tapi semua ketidaksukaannya terhadap Asri terpaksa ia telan terlebih dahulu. 


"Masalah apa yang bisa aku memiliki dengan Bibi Asri? Aku merasa hubungan ku dengan Bibi Asri selama ini baik-baik saja." Riani menjawab polos- tentu saja ia mengelak dengan ekspresi polos yang dibuat-buat di wajahnya.


Padahal faktanya ia sudah merutuki Asri dengan berbagai macam kata-kata kasar yang tidak patut diucapkan. 


Dia sudah tidak menyukai Asri dan ketidaksukaannya ini kini berevolusi menjadi sebuah kebencian karena Asri berani mengadu domba hubungannya dengan Arka.

__ADS_1


__ADS_2