
Setelah kedatangan gadis itu, suasana rumah lebih banyak diwarnai ketegangan namun jauh lebih baik daripada kemarin saat gadis itu masih berulah membuat masalah untuk Ai dan Alsi.
Asri dan Mega bahkan tidak bisa beristirahat dengan tenang karena mengkhawatirkan psikologis Ai yang sedang mengandung serta Alsi yang baru saja bangkit dari luka lamanya.
Namun setelah Ustad Vano membuat keputusan terhadap masalah ini, semua orang langsung merasa rileks karena masalah ini mempunyai titik jalan keluar. Ini sangat bagus untuk Ai yang tidak boleh stres karena kehamilannya dan untuk si kecil yang baru saja bangkit dari keterpurukan masa lalu.
"Mas Arka bajunya udah aku siapin di luar, yah?" Teriak Asri dari dalam kamar.
Arka yang sedang mandi di dalam kamar mandi kemudian menyahuti,"Okay, sayang."
Asri segera menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
"Mas Arka enggak boleh ngomong kalau udah di kamar mandi, dosa lho." Peringat Asri murah hati.
Di dalam kamar mandi, Arka langsung meraung tak puas karena dikritik oleh istrinya.
"Katanya enggak boleh ngomong tapi masih aja ditanya, begitu mas jawab eh dikritik salah lagi. Tau gitu enggak usah nanya aja sekalian!"
Asri menutup mulutnya tertawa. Suaminya sangat lucu. Meskipun baru membiasakan diri dengan berbagai macam ilmu agama yang baru dipelajari, Arka sangat mampu mengamalkannya dengan baik walaupun dia terkadang lupa. Yah, lupa itu wajar saja apalagi bagi Arka yang sedang berusaha membiasakan diri.
"Mas Arka tinggal jawab pakai deheman aja biar enggak dosa. Kan Rasullullah Saw juga nyahut dari kamar mandi pakai deheman kalau ada yang memanggil." Asri masih sempat memperbaiki pemahaman suaminya.
Arka tidak menjawab lagi. Asri pikir suaminya marah di dalam kamar mandi karena yang terdengar hanya suara gemericik air kamar mandi saja, mengangkat bahunya tidak berdaya, dia awalnya ingin pergi ke luar kamar tapi niatnya langsung diurungkan saat mendengar deheman suaminya.
__ADS_1
"Hem!" Suara rendah Arka agak samar dibawah redaman suara air.
Asri tersenyum lembut. Hatinya langsung menghangat entah mengapa. Padahal ini bukanlah sesuatu yang romantis atau mengandung kata-kata cinta tapi sungguh bernilai tinggi di dalam hatinya.
Sambil menunggu Arka keluar dari kamar mandi, dia pergi menyiapkan air putih hangat untuk suaminya di atas nakas karena Arka biasanya minum air putih hangat dulu sebelum tidur.
"Astagfirullah, aku lupa gelasnya belum di ambil dari dapur." Asri spontan menepuk dahinya.
Tadi siang dia membersihkan kamar, menyapu, mengganti spray, mencuci pakaian rumah suaminya, dan pergi mencuci gelas yang biasa digunakan oleh suaminya. Gelasnya masih di dapur dan belum sempat diambil oleh Asri.
Jadi sebelum suaminya keluar, dia langsung turun ke dapur yang ada di lantai satu, mengambil gelas bening yang sudah lama kering dan bersih, lalu naik kembali ke lantai atas.
Jujur saja, kamarnya ada di lantai 4, cukup jauh dari kamar dua sahabatnya. Untuk sampai ke sana dia harus naik tangga yang sangat melelahkan. Awalnya dia senang karena baru pertama kali melihat tangga sepanjang ini yang sangat cantik. Sebab dia biasanya melihat tangga seperti ini di dalam televisi saja. Jadi dia langsung senang melihat rumahnya juga memiliki tangga sepanjang itu. Namun setelah berbulan-bulan jalan di tangga ini dia tiba-tiba merasa bosan dan jenuh, bukan karena sudah tidak sedap dipandang tapi karena terlalu melelahkan jalan bolak balik setiap hari di tangga ini.
"Kamu darimana saja?" Arka langsung bertanya saat melihatnya masuk ke dalam kamar.
Asri mengangkat gelas ditangannya untuk ditunjukkan kepada sang suami.
"Habis ambil gelas di dapur, mas. Tadi siang aku cuci dan belum sempat dibawa ke kamar jadi aku tadi turun buat ambil ke dapur." Lapor Asri sambil menumpahkan air hangat ke gelas itu dan memberikannya kepada sang suami.
Arka menerimanya begitu saja dan menarik tangan Asri agar ikut duduk di atas kasur bersamanya. Tangan kirinya dengan mudah melingkari punggung Asri sebelum menariknya agar bersandar di atas dada kirinya. Merasakan sensasi panas dari detak jantung Arka yang berdetak kencang karena tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya dekat dengan Asri.
Asri mengangkat kepalanya sedikit untuk memperhatikan suaminya minum. Jakun suaminya yang menonjol bergerak naik turun seiring dengan berkurangnya air di dalam gelas.
__ADS_1
"Rasulullah Saw kalau minum air enggak sekali nafas, mas. Hadis riwayat Bukhari menjelaskan bahwa "Jangan minum air hanya dalam satu nafas, tetapi minum dalam dua atau tiga nafas," sebab begitulah cara minum Rasulullah Saw. Ini sunnah lho, mas." Asri tidak lupa untuk mengingatkan suaminya tentang sebuah kebaikan.
Arka langsung berhenti minum. Dia lalu menatap air gelas yang tersisa setengah di dalam gelas, oh mungkin sepertiga dari jumlah sebelumnya. Tersenyum malu, dia dengan malu-malu melihat mata polos istrinya yang kini tengah menatapnya. Hatinya tergelitik oleh sinar kepolosan di mata itu dan tanpa sadar menundukkan kepalanya untuk mengecup keningnya.
"Mas Arka.." Asri terkejut dengan pergerakan tiba-tiba suaminya tapi dia tidak marah ataupun menghindar. Malah ada sentuhan manis yang sekali lagi membasahi hatinya.
"Maaf, aku sudah membacanya tapi tidak sengaja melupakannya." Kebiasaan hidupnya yang telah dipupuk sejak kecil sulit dihilangkan.
Asri tersenyum malu,"Enggak apa-apa, mas. Selama mas Arka berusaha untuk belajar maka ilmu akan dengan sendirinya datang memeluk kita. Yang penting mas Arka jangan berhenti berusaha, mas, karena dengan berusaha kita bisa merayu Allah yang mahakuasa dan maha pembolak balik hati."
Hati Arka melembut. Istrinya selalu seperti ini. Tak pernah melupakannya dalam hal kebaikan. Sekalipun terkadang bersikap konyol, tapi dia mengerti bila kekonyolannya itu datang dari kepolosan di matanya.
"Insya Allah, selama ada kamu, hatiku pasti akan berusaha mengingat Allah." Kata Arka tak bisa menahan emosi yang meluap dari dalam hatinya.
Allah lebih tahu betapa gersang hatinya selama ini. Sholat sekedar sholat, bahkan tanpa tahu apakah bacaannya benar atau gerakannya benar. Bahkan, mengaji pun dia jarang walaupun bisa membaca dengan lancar. Dalam hidup sebelumnya, kerja dan kerja adalah satu-satunya hal yang paling mewarnai hidupnya hingga dia akhirnya bertemu dengan Asri, semua sudut pandangnya langsung terbalik. Ternyata selama ini dia tidak bahagia, tapi ketika bertemu Asri hari-harinya dilalui dengan tawa konyol, senyum idiot, dan rasa manis yang tak terlupakan. Bahkan dia yang dulunya gila kerja kini mulai ogah-ogahan pergi ke kantor. Dia semakin betah di rumah dan ingin tinggal bersama istrinya.
"Enggak boleh gitu, mas." Rajuk Asri tidak setuju namun tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Siapa yang tidak senang disanjung oleh suami sendiri?
Arka tersenyum geli.
Tangan kirinya mencubit pipi lembut istrinya yang mulai gembil karena dirawat dengan baik akhir-akhir ini.
__ADS_1