
Mas Vano, sungguh semakin dalam rasa cintaku kepadamu, Mas. Kamu adalah laki-laki kedua setelah Ayah yang selalu mengatakan kepadaku bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan ku. Dia selalu bersamaku dalam suka maupun duka, jadi bagaimana mungkin aku tidak bertambah cinta kepadamu, Mas?
Kamu adalah laki-laki bermandikan ilmu, memegang teguh agama sebagai pedoman dalam menjalankan hidup. Cinta, hatimu tidak terkira tulusnya. Menerima diriku apa adanya tanpa ragu sedikitpun, ya Allah, betapa luar biasa laki-laki yang Kau kirimkan kepadaku ini. Betapa luas hati laki-laki yang Kau kirimkan kepadaku ini.
Betapa aku sungguh beruntung menjadi istri dari laki-laki yang sangat mencintai-Mu dengan tulus ya Allah, sungguh aku sangat beruntung.
"Sekarang bagaimana, apa kamu bahagia?" Mas Vano menarik daguku ke atas agar bisa berhadapan langsung dengan wajahnya.
Aku sangat malu berada dengan jarak sedekat ini dengan Mas Vano, tapi aku tidak malu mengakui kepadanya bahwa aku sangat bahagia.
"Hanya Allah yang tahu betapa aku sangat bahagia, Mas." Jawabku dengan pipi yang mulai terasa panas.
Mas Vano tertawa kecil, ia menggesekkan puncak hidungnya ke hidungku, membuat ku spontan menutup mata merasakan sentuhan ringan di antara hidung kami. Lalu, dia menjauh dari hidungku seiring kedua mataku yang sempat terpejam tadi kembali menatapnya malu.
"Apa yang kurasakan juga sama dengan apa yang kamu rasakan, istriku. Hanya Allah yang tahu betapa bahagia aku saat ini." Katanya diakhiri dengan senyuman lembut.
Sorot matanya yang lembut, senyuman lebar di wajahnya, dan perhatian penuh kasih yang ia tujukan kepadaku hari ini benar-benar membuatku terpesona untuk yang kesekian kalinya. Aku tersihir, mulutku tertutup rapat membuat garis senyuman malu-malu, dan wajahku mulai memanas...aku tidak tahu seperti apa tampang ku saat ini namun yang pasti aku sadar bila saat ini aku sedang tersipu.
Apalagi ketika Mas Vano mulai merendahkan kepalanya mendekati wajahku, salah satu tangannya melingkari pinggangku dengan posesif sedangkan tangan yang lain menahan tengkukku agar lebih dekat dengannya.
Gugup, aku spontan menutup kedua mataku bersiap menerima sentuhan lembut di bibirku. Hem,
__ADS_1
Hembusan nafas Mas Vano menerpa wajahku tanpa bisa dicegah, wajahku yang sedari awal panas menjadi semakin panas karenanya. Jarak kami begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan bibir penuh Mas Vano sudah ada tepat di depan bibirku.
Masya Allah,
Sentuhan lembut itu akhirnya menyentuh daging bibirku. Mas Vano mengecupnya ringan berulang kali sebelum perlahan mengigit nya main-main. Mas Vano sangat suka mempermainkan bibirku hingga aku benar-benar kewalahan menghadapinya. Lihat saja sekarang, setelah menggigitnya, Mas Vano kini mulai mengisap-
"Ekhem!"
"Ekhem!"
Suara Ustad Azam dan Paman Arka sontak mengejutkan kami. Aku sangat ketakutan dan spontan memeluk Mas Vano untuk menyembunyikan wajahku dari mereka.
Ya Allah, betapa malunya aku saat ini. Aku tidak memiliki keberanian lagi untuk bertemu dengan mereka di masa depan nanti.
"Kalian menakuti istriku." Kata Mas Vano tiba-tiba terdengar galak.
"Salah sendiri kenapa berciuman di sini." Ini adalah suara Paman Arka.
Ah...aku akui ini adalah kesalahan ku dan Mas Vano karena bersikap intim di sembarang tempat.
"Benar, ini adalah tempat umum jadi jangan marah bila kami mengganggu kesenangan kalian." Suara datar Ustad Azam membuatku bergidik ketakutan.
__ADS_1
Ugh, aku membayangkan seperti apa wajah dinginnya tadi saat berbicara.
"Hem, ini adalah rumah ku jadi kenapa aku tidak bisa berciuman di dalam rumah ku sendiri?"
Ugh, aku tidak pernah tahu bila Mas Vano juga bisa berbicara dengan nada seperti ini. Em, bila aku tidak salah nilai Mas Vano tadi terdengar agak mengejek, tapi... apakah perasaanku ini benar.
"Ini memang rumah kamu juga tapi bukan milikmu sepenuhnya, lihat masih ada aku dan Azam di rumah ini sehingga kami memiliki hak yang sama!" Astagfirullah, bahkan aku juga berpikir bila Paman Arka baru saja menggunakan nada mengejek kepada suamiku?
Apa hari ini aku terlalu bawa perasaan semenjak Mas Vano memberitahu bahwa aku sedang hamil?
Pasalnya saat Bunda hamil pertama juga sikapnya berubah 180 derajat, ia selalu bawa perasaan setiap kali melihat atau mendengar sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Bahkan Ayah saat-saat terlihat sangat kewalahan menghadapi Bunda.
Hem, apa aku juga mengalami hal yang sama dengan Bunda?
Lalu apakah Mas Vano siap menghadapi perubahan ku di masa depan nanti?
Ya Allah, aku tidak ingin membuat Mas Vano tidak nyaman dan menderita bila itu benar-benar terjadi.
"Kalian memang memiliki hak yang sama jadi kenapa kalian tidak melakukannya bersama istri kalian agar tidak menggangguku dengan Ai. Oh, jangan-jangan kalian berdua iri melihat ku bisa berduaan dengan Ai karena kalian sendiri tidak bisa berduaan dengan istri kalian!"
Mas Vano ngomong apa sih, kenapa dia malah berdebat seperti anak kecil?
__ADS_1
"Siapa bilang? Aku bukannya tidak bisa berduaan dengan istriku di rumah ini. Tidak kamu salah besar, aku dan istriku memiliki rasa malu yang tinggi jadi kami tidak mungkin melakukan hal memalukan-"
"Sampai kapan Mas Azam terus berdebat?"