Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
29. Apakah Kamu Layak?


__ADS_3

Bibi Mei menanyakan hal yang sangat sensitif untuk Ai, permasalahan anak. Ai tidak tahu apa maksud Bibi Mei menanyakan ini kepadanya karena seharusnya semua orang di dalam keluarga Ustad Vano harusnya tahu jika ia berbeda dan karena perbedaannya ini ia mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mengandung ataupun melahirkan seorang anak.


Tapi mengapa Bibi Mei masih menyinggungnya- ah, Ai tidak ingin berburuk sangka kepada Bibi Mei. Ia tidak ingin mendorong dirinya sendiri ke dalam perangkap setan.


"Itu sangat menyenangkan, Bibi." Ai menjawab singkat dalam nada canggungnya yang jelas.


Bibi Mei lagi-lagi tersenyum. Semua perhatiannya kini tertuju kepada Ai. Ia menatap Ai dengan senyuman yang anehnya tidak lagi membawa ketulusan. Ai pikir senyuman sudah tidak lagi memiliki rasa senyuman.


Diam, Ai meremat kedua tangannya di bawah meja untuk menyimpan kegugupan yang sedang ia rasakan saat ini. Di tatap seperti ini oleh Bibi Mei membuatnya merasa seperti sedang dihakimi. Sangat tidak nyaman, Ai tidak nyaman di tatap seperti olehnya.


"Lalu, tidakkah kamu ingin memiliki beberapa anak untuk Vano?" Dia melemparkan pertanyaan yang sangat mudah dijawab namun sangat berat di dalam hati Ai.


Ini adalah pertanyaan biasa, namun ketika sampai kepada Ai, rasanya sungguh sangat sulit untuk menjawabnya.


Karena hatinya... hatinya akan mengeluh kesakitan bila membuka mulutnya untuk menjawab.


Tapi mau bagaimana lagi, di sini Ai tidak memiliki keberanian untuk tidak menjawab sebab lawan bicaranya adalah orang tua dan yang lebih penting lagi, wanita ini adalah Bibi dari suaminya.


"Bibi.." Ai meremas tangannya menahan luka,"Aku sangat ingin, tapi.." Sangat sulit mengatakannya.


"Kamu tidak bisa, benar?" Lagi, Bibi Mei melemparkan pertanyaan yang tidak kalah sulitnya- oh, mungkin saja ini bukanlah pertanyaan melainkan sebuah pernyataan.

__ADS_1


"Maafkan aku," Bisik Ai menahan luka.


Bukan maunya menjadi seperti ini melainkan sudah takdirnya menjadi seperti ini. Perbedaannya adalah ujiannya di dunia ini untuk kampung akhirat namun perbedaannya juga menjadi hukumannya untuk dunia.


"Aku tahu kamu terlahir berbeda, Aishi. Aku juga tahu bila kamu adalah seorang putri adopsi dari pasangan Safira dan Ali. Namun Aishi, dibesarkan oleh keluarga kaya dan berkuasa tidak bisa membenarkan kamu bertindak serakah."


Serakah?


Bagaimana mungkin Bibi Mei tiba-tiba menuduhnya menjadi seseorang yang serakah?


"Bagaimana mungkin aku bisa serakah?" Ai selalu menanamkan sikap rendah hati ke dalam dirinya.


Bunda dan Ayah juga selalu mengatakan bahwa untuk urusan dunia, bersikaplah sederhana namun tidak untuk urusan akhirat.


"Kamu serakah, Aishi. Buktinya kamu masih saja menikah dengan Vano meskipun kamu tahu sendiri apa kekurangan mu. Kamu adalah seorang istri untuknya namun kamu tidak bisa memberikan keturunan untuknya, apakah kamu layak?"


"Mas Vano bilang tidak apa-apa untuk tidak memiliki anak dan kami juga bisa mengadopsi dari panti asuhan-"


"Apakah kamu masih layak?" Bibi Mei memotong lagi.


Apakah ia layak?

__ADS_1


Ai tidak tahu, namun suaminya selalu mengatakan bahwa tidak apa-apa jika tidak memiliki anak. Suaminya sudah menerima semua kekurangannya.


Jadi, jadi bagaimana mungkin ia masih ditanya apakah masih layak atau tidak disaat suaminya sendiri menerima semua kekurangannya.


Ai memejamkan matanya untuk menguatkan diri.


"Mas Vano menerimaku apa adanya." Jawab Ai singkat.


Bibi Mei tersenyum aneh,"Itu sekarang, tapi bagaimana dengan besok? Bisakah kamu menjamin dia masih menerima kamu apa adanya? Bisakah kamu menjamin bila suatu hari Vano tidak mengeluhkan perihal anak kepadamu, bisakah kamu menjamin itu semua?"


Ai tidak bisa, semuanya ada di tangan Allah. Hanya Allah yang tahu rahasia ini. Namun meskipun begitu Ai masih mempercayai bila ketulusan suaminya tidak akan pernah luntur, sebab cinta itu dipupuk bertahun-tahun lamanya dan Ai juga sangat yakin jika Allah menjaga hati mereka satu sama lain hingga mereka di surga nanti.


Yah, Ai masih meyakini itu.


"Kamu tidak bisa menjamin itu semua Aishi sealim apapun dirimu. Kamu tidak bisa menjamin suatu hari nanti Vano masih menerima dirimu apa adanya, kamu tidak bisa menjamin Vano tidak mengeluhkan permasalahan anak kepadamu kelak, kamu tidak bisa menjamin itu semua!" Bibi Mei langsung berbicara tanpa menunggu Ai berbicara, membuat Ai sepenuhnya bungkam.


"Lalu kenapa kamu masih memaksakan diri untuk menikah dengan keponakan di saat kamu tidak bisa menjamin kebahagiaan untuknya?"


Ai sadar diri bahwa ia memiliki banyak kekurangan dan mungkin tidak akan mampu memberikan kebahagiaan untuk suaminya, tapi semua orang dan bahkan suaminya mengatakan bahwa kekurangannya bukanlah suatu masalah.


Suaminya nyaman hidup bersama dengannya dan bahkan, meskipun tidak memiliki anak, suaminya tidak masalah mengadopsi anak.

__ADS_1


Artinya apa?


__ADS_2