Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 147


__ADS_3

Ai tersenyum tipis, mengangguk malu, dia juga mengerti apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya. Hanya saja rasanya tetap tidak enak melibatkan mereka dalam masalahnya.


"Jangan katakan apa-apa lagi. Ayo naik. Aku dan Asri akan mengantar mu beristirahat di atas."


"Terima kasih, aku beruntung memiliki kalian." Ai juga merasa lelah dan tidak menolak.


"Apa sih yang kamu katakan. Kita semua beruntung memiliki satu sama lain." Ralat Asri menegaskan.


Ai dan Mega tersenyum, mereka menyetujui apa yang Asri katakan karena begitulah faktanya. Mereka bertiga saling membutuhkan dan melengkapi, bersama mengejar ridho Allah dan senantiasa berusaha untuk mendapatkan ridho Allah pula.


Mega dan Asri mengirim Ai kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah menyelimuti Ai, mereka kemudian keluar untuk memasak di dapur. Meninggalkan Ai yang perlahan-lahan diselimuti rasa kantuk dan berpindah ke dunia mimpi.


Lembut, sebuah usapan lembut nan hangat mengganggu tidur nyenyak Ai. Dia terganggu dengan kenyamanan ini di dalam tidurnya. Alisnya mengernyit, perlahan kelopak matanya bergetar, terbuka dengan gerakan lambat karena masih dikuasai oleh rasa kantuk.


"Mas?" Samar, dia melihat siluet tampan suaminya kini.

__ADS_1


Jarak mereka begitu dekat hingga Ai bisa merasakan hembusan nafas hangat suaminya. Wangi khas suaminya yang memanjakan juga memanjakan indera penciumannya. Ai segera menghirupnya dengan rakus agar tubuhnya yang lelah bisa mendapatkan pasokan energi dari suaminya.


"Maaf, aku minta maaf." Bisik suaminya rendah.


Ai menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya yang menganggur lantas terangkat untuk menjangkau leher suaminya, memeluk leher suaminya erat untuk menumpahkan rasa rindunya.


"Ini ujian untuk rumah tangga kita. Tapi aku agak kesal karena dia melibatkan Alsi di sini." Curhat Ai menunjukkan rasa keberatannya.


Ustad Vano langsung muram, dia tahu apa yang istrinya khawatirkan. Sama seperti istrinya, dia juga marah ketika mengetahui anak kecil yang tidak bersalah harus dilibatkan dalam masalah rumah tangga mereka. Tidak seharusnya Alsi dilibatkan dalam urusan orang dewasa. Takutnya masalah ini meninggalkan trauma yang dalam untuk putrinya terkasih.


Ai belum tahu langkah apa yang diambil oleh suaminya. Kedua sahabatnya tidak menceritakan keputusan apa yang Ustad Vano ambil dalam masalah ini dan Ai pun tidak memiliki tebakan apa-apa selain hanya menegur tindakan gadis itu agar jangan mengulanginya lagi.


"Lupakan. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja?"


Ustad Vano mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


Ai mengangguk lemah dan menjawab,"Sedikit lelah."


Ustad Vano mengernyit tidak senang. Dia bangun dari atas tubuh Ai dan duduk dengan benar di atas ranjang. Kedua tangannya yang kuat dan besar meraba kedua kaki ramping Ai di dalam selimut. Lalu dengan gerakan lembut dan berhati-hati dia mulai memijatnya. Memberikan rasa kenyamanan untuk istrinya.


Sebab Mama berulangkali menekankan agar dia rajin memijat kaki Ai. Terutama bagian betis dan pergelangan kakinya yang akan membengkak seiring bertambahnya usia kandungan.


"Jangan terlalu banyak bekerja." Peringat Ustad Vano.


Ai tersenyum geli melihat sikap sigap suaminya dan merasa jauh lebih hangat di dalam hatinya.


"Aku tidak pernah bekerja." Karena semuanya sudah ditangani oleh para pembantu harian.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Ingat emosi yang kamu rasakan juga dirasakan oleh bayi kita." Ustad Vano mengingatkan dengan suara yang sangat lembut.


"Aku benar-benar menjaga emosi ku tapi hari ini rasanya sedikit melelahkan karena putriku diganggu..." Akui Ai tidak menutupi ketidaknyamanannya.

__ADS_1


__ADS_2