
"Lalu...lalu foto dan video itu?"
Arka mengecup punggung tangan Asri sayang,"Aku ingin dia berbicara langsung kepada kita besok darimana dia mendapatkan bukti-bukti palsu itu dan mengapa ia melakukan itu kepada kita. Yakinlah, bila dia bermaksud jahat aku akan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya." Arka membuat janji.
Asri kini menjadi lega. Meskipun masih belum terbukti tapi ia memiliki keyakinan besar di dalam hatinya bahwa Arka pasti mengatakan yang sebenarnya.
"Asri, dengarlah baik-baik." Kata Arka tiba-tiba.
Dia menangkup wajah istrinya, memperpendek jarak di antara mereka sedekat mungkin.
"Aku menyukai mu." Kata Arka mengakui.
Asri tercengang, dia menatap Arka tidak percaya dan mulai meragukan pendengarannya.
"Aku sungguh menyukaimu. Mungkin...ini masih belum bisa dikatakan cinta karena perasaan ini baru saja tumbuh. Tapi jujur, kamu adalah gadis pertama yang membuatku seperti ini. Pernikahan kita baru berusia dua bulan berjalan tapi kamu sudah berhasil meluluhkan hatiku. Sedangkan Lisa, aku memerlukan banyak waktu untuk menyukainya dan yang lebih aneh lagi adalah aku tidak memiliki keinginan yang serius dengannya. Tidak seperti kamu... Hanya dalam waktu dua bulan hatiku sudah dimiliki oleh mu dan anehnya lagi, aku telah memiliki niat serius kepadamu padahal saat itu adalah pertemuan pertama kita. Membuatku bertanya-tanya hal spesial apa yang kamu miliki hingga membuatku menumbuhkan keinginan itu. Lalu muncul sebuah kesimpulan di dalam hatiku bahwa kamu... Kamu mungkin tulang rusukku, kamu mungkin jodohku di dunia dan di akhirat, jujur...aku berdoa semoga kesimpulan ini memang benar adanya karena hatiku sungguh nyaman bersamamu."
Arka mengatakan banyak hal kepada Asri, membuat sang istri berkali-kali menahan nafas untuk mencerna baik-baik setiap kata yang Arka ucapkan. Rasanya begitu...
__ADS_1
Dia bahagia!
Asri sungguh bahagia karena Arka juga menyukainya- ah, maksudnya dia juga mulai menyukai Arka. Dia mulai menumbuhkan perasaan kepada suaminya. Dan sekarang ketika mengetahui suaminya juga menyukainya, Asri merasa sangat bahagia.
"Sungguh, Mas?" Asri bertanya dengan rona merah mengembang di kedua pipinya yang putih.
Arka mengelus lembut pipi Asri.
"Sungguh, aku menyukaimu. Lalu bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu sudah mulai menumbuhkan perasaan ini di dalam hatiku?" Tanya Arka harap-harap cemas.
Dia berharap, sungguh sangat berharap bila perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
Mas Arka tersenyum lebar, dia membawa Asri ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh ramping itu seerat mungkin untuk menunjukkan bahwa betapa bahagia hatinya saat ini. Euforia aneh yang sudah lama tidak membasahi hatinya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih. Aku sangat senang mendengarnya."
Asri membalas pelukan suaminya dengan erat pula. Jujur ia saat ini kesulitan bernafas tapi dia tidak mengeluhkannya. Ia malah senang Arka memeluknya erat, seolah-olah Arka takut kehilangan dirinya.
__ADS_1
"Allahuakbar Allahuakbar~"
Suara azan magrib mulai berkumandang, menandakan bila waktu sholat magrib sudah masuk. Arka dan Asri segera berpisah dengan senyum malu-malu di wajah masing-masing. Mereka tidak lagi berbicara seperti tadi melainkan diam menyimak azan dan menjawab azan di dalam hati.
Setelah azan magrib selesai, Arka lalu membawa Asri masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandi junub bersama-sama. Mereka tidak melakukan hal-hal yang aneh selama di dalam kamar mandi sebab mereka tahu bahwa kamar mandi dipenuhi oleh jin dan setan. Oleh karena itu sepanjang di dalam kamar mandi mereka berdua mandi dengan patuh dan dengan senyum malu-malu.
Mandi telah selesai, mereka kini merasa jauh lebih segar dan bersih. Menggunakan pakaian terbaik dan mukena bersih untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Mereka hari ini tidak turun ke bawah untuk melaksanakan sholat berjamaah bersama yang lainnya karena situasi Asri sedang tidak mendukung. Di samping itu yang lain mungkin sudah melaksanakan sholat dari beberapa menit yang lalu karena Iqamah sudah berkumandang sebelum mereka berdua keluar dari kamar mandi.
"Apa kamu baik-baik saja berdiri?" Tanya Arka agak malu karena perbuatannya lah istrinya seperti ini.
Asri menyentuh pinggang dan lehernya yang terasa agak tidak nyaman.
"Aku baik-baik saja, Mas. Ini...tidak akan menjadi masalah." Jawab Asri dengan suara yang cukup kecil.
Arka tersenyum malu,"Baiklah. Kita akan segera memulainya." Ujar Arka seraya meluruskan berdirinya menghadap kiblat, menatap kain sajadahnya seraya melambungkan niat sholat magrib.
__ADS_1
"Allahuakbar." Takbir pertama mulai bergema, Arka mengangkat kedua tangannya sembari mengharapkan ridho Allah yang diikuti dengan patuh oleh sang istri di belakang.