
Berbeda dengan keraguan Bapak dan Ibu di sana, Asri justru semakin berteriak keras memanggil kedua orang tuanya setelah tahu Arka sudah ada di sini dan bahkan ia kini sudah ada di atas bahunya.
Ketika belum menyadari situasinya, dia merasa pusing karena pandangannya tiba-tiba terbalik berhadapan dengan tanah. Bingung dengan perubahan yang tiba-tiba ini, Asri lalu mencium wangi maskulin dari seseorang yang telah tinggal bersamanya hampir 1 bulanan ini. Wangi dari laki-laki yang ingin ia jauhi, Arka!
"Hiks... Bapak tolongin, Asri!" Teriaknya mulai menangis sesenggukan di atas bahu Arka.
Tidak hanya berteriak dan membuat kuping Arka sakit, tapi Asri juga tidak bisa diam di atas sana. Ia menggeliat ingin turun dari bahu Arka namun tidak bisa karena tangan Arka sangat kuat.
"Hush..." Arka menepuk betis Asri beberapa kali, lalu berkata,"Masalah rumah tangga kita tidak seharusnya dicampuri oleh Bapak dan Ibu, apalagi ini hanya masalah salah paham saja jadi tidak perlu dibesar-besarkan."
Bapak yang semula berbicara segera menutup rapat mulutnya begitu mendengar kata-kata Arka. Memang benar, sebagai orang tua tidak seharusnya mereka ikut campur dalam pernikahan Asri. Akan tetapi, lagi-lagi sebagai orang tua, Bapak tentu saja tidak sampai hati melihat putrinya menangis sekeras ini. Seolah-olah ada luka berdarah yang membuat putrinya begitu sangat kesakitan.
"Tapi...tapikan aku mau cerai, Mas. Jadi... tidak ada yang perlu kita bicarakan-"
"Siapa yang bilang bercerai?" Potong Arka dengan nada ringannya- yang terdengar begitu dingin.
__ADS_1
Gelisah, Asri memejamkan matanya menahan takut, pasalnya Asri bisa merasakan bila Arka saat ini pasti sedang sangat marah kepadanya. Menurut Asri pribadi, kemarahan Arka jauh lebih besar daripada sebelumnya. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa menyimpulkannya seperti ini akan tetapi yang pasti, Asri tidak mau terlalu dekat dengannya dan dia juga tidak mau terlalu membuat masalah- seharusnya memang seperti ini tapi sayang sekali ia tidak bisa mengerti situasinya.
"Aku ingin bercerai." Bisik Asri tidak terlalu memiliki banyak keberanian.
Habisnya Arka terlalu menakutkan, ah!
Mendengar ini, Arka sontak tersenyum dingin. Ia meremat pinggang ramping Asri dengan makna tertentu di dalam hatinya..
"Hem, aku ingin lihat apakah kamu masih ingin bercerai setelah ku 'hukum' nanti." Balas Arka terdengar janggal di dalam pendengaran Asri.
Arka telah mengingkari janjinya, membuat kebohongan besar agar bisa pergi berkencan dengan cinta lamanya- argh... setiap kali memikirkannya hati Asri rasanya pahit.
"Tuan... Tuan Arka, putriku pasti telah membuatmu kerepotan." Niatnya Bapak ingin mengambil Asri dari Arka akan tetapi dia tidak bisa menyampaikan kata-kata itu- atau mungkin Bapak bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada Arka.
"Bapak tidak perlu khawatir karena Asri tidak pernah membuat ku merasa kerepotan kecuali hari ini. Tapi ini juga bukanlah hal yang perlu untuk dikhawatirkan karena kesalahpahaman yang terjadi diantara kami akan segera diselesaikan dengan 'baik-baik'." Arka menjawab dengan mudah di depan mertuanya.
__ADS_1
Dia tentu saja mengetahui Bapak ingin membantu Asri dan Arka tidak bisa membiarkan itu terjadi karena masalah ini cukup 'sepele' untuknya. Jadi tidak seharusnya mereka menarik Bapak maupun Ibu untuk ikut campur, bukan?
"Kalau begitu kami harus pulang dulu agar kesalahpahaman ini bisa diselesaikan dengan cepat. Bapak, Ibu, assalamualaikum."
Setelah itu Arka lalu membawa istrinya pergi dari hadapan kedua mertuanya.
Bapak dan Ibu yang masih belum bereaksi,"...." Apakah baik-baik saja membiarkan Asri bersamanya?
Tidak lama kemudian Fina keluar dari rumah dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Walaupun pakaian yang ia kenakan tidak ketat lagi tapi pakaian itu masih belum cukup longgar.
"Lho, Mas Arka kemana, Bu? Bukannya tadi dia masih ada di sini ya sama Kak Asri?" Fina tadi sempat mendengar suara Arka diluar dan buru-buru mengintip dari jendela.
Ternyata Arka memang ada di sini sehingga ia tergesa-gesa mengganti pakaiannya di dalam kamar menjadi pakaian yang lebih longgar- dari pakaiannya yang sebelum.
"Kemana lagi Tuan Arka pergi? Tentu saja dia di sini untuk menjemput Kakak kamu pulang." Kata Bapak aneh.
__ADS_1
"Pulang?" Fina langsung turun memakai sandalnya ingin menyusul mereka ke rumah tapi Ibu buru-buru mengambil tangannya.