
Malu, ia tahu bahwa istrinya pasti sudah sangat malu saat ini. Wajah cantiknya merona terang dipadukan dengan kedua mata berbentuk persik yang masih basah, parasnya yang pemalu bagaikan godaan yang membuat langkah yang ia ambil tersandung berkali-kali.
Dia adalah seorang laki-laki normal, dia juga sama seperti laki-laki di luar sana. Dia memiliki hasrat dan keinginan seperti laki-laki pada umumnya- akan tetapi hasrat dan keinginannya ini hanya bereaksi pada satu orang saja. Dia bisa menjamin, tubuhnya tidak akan pernah tergoda pada wanita seksi ataupun menggugurkan di luar sana, dia bisa menjaminnya dengan mudah.
Akan tetapi ceritanya akan berbeda bila dia dihadapkan pada Aishi Humaira, gadis pemalu nan lembut yang telah menduduki tahta tertinggi di dalam hatinya. Pada Aishi Humaira- godaan itu sungguh tidak tertahankan. Dia tidak bisa jauh darinya, berada di dekat pun membuatnya semakin tersiksa. Rasa-rasanya ia ingin membawa Aishi hanya untuk dirimu sendiri, menguncinya di dalam kamar dan menghabiskan malam-malam indah tanpa perlu takut kehabisan waktu.
Dia ingin melakukan itu semua, akan tetapi..
"Ibadah... ekhem.." Dia terbatuk canggung, warna telinganya menunjukkan sebuah perubahan menjadi merah muda.
Tidak hanya Ai, sebagai seorang laki-laki sekaligus suami pun ia sangat malu.
"Bila Mas Vano tidak..tidak puas, maka..katakan saja. Ai tidak akan marah, kok."
__ADS_1
Puas?
Bagaimana mungkin ia tidak puas. Ustad Vano selalu puas bersama istrinya dan bahkan kepuasannya ini malah menjurus kepada keserakahan. Ia ingin memonopoli Ai untuk dirinya sendiri.
"Astagfirullah, aku sungguh sangat puas, istriku." Ustad Vano segera membantah keraguan istrinya.
"Tolong jangan salah paham dulu, istriku. Aku selama ini punya alasan tersendiri kenapa aku jarang meminta kamu melakukan 'ibadah'." Mengambil nafas panjang, ia membawa istrinya duduk kembali di atas sofa dengan atensi yang tidak pernah teralihkan.
Mata almond nya tidak ada henti-hentinya menatap Ai, menatapnya penuh kasih dan penuh akan perhatian lembut.
Pipi Ai menjadi panas, ia segera menundukkan kepalanya tidak berani menatap suaminya. Jujur saja, tatapan Ustad Vano terasa begitu dalam dan Ai tidak kuat melihatnya. Ia merasa tubuhnya akan memanas ditatap seperti oleh sang suami, membuatnya membayangkan hal-hal intim yang mereka lewati dimalam-malam tanpa tidur.
Ai tidak mau munafik atau berlagak sok suci, toh ini adalah masalah rumah tangganya, masalah penting yang harus ia dan suaminya bicarakan. Sekalipun tidak terbiasa, Ai harus bisa membiasakan diri karena ia bukan lagi Aishi Humaira putri Bunda dan Ayah, tapi kini ia juga telah mendapatkan gelar mulia yaitu Aishi Humaira istri dari Ustad Vano.
__ADS_1
"Tapi aku menahan diri, Ai. Aku sengaja menahan diri karena Papa dan Mama pernah berpesan kepadaku agar jangan terlalu menyulitkan mu dalam urusan ranjang. Mereka bilang kamu tidak bisa terlalu lelah ataupun terlalu banyak beraktivitas, jadi...jadi selama ini aku mencoba untuk menahan diri dan tidak ingin terlalu bersikap buas di depan mu. Bila suatu malam kamu mendapati ku ingin melakukannya, maka itu artinya aku telah mencapai batas ku. Ai," Ustad Vano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan gerakan canggung.
"Aku jarang meminta bukan karena tidak puas, tapi ini murni karena aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit dan aku juga lebih tidak ingin kamu tersakiti. Jadi, jangan salah paham lagi, lain kali... kamu hanya perlu menanyakannya kepadaku agar semuanya jelas."
Dia menahan diri dengan susah payah, hanya menatap rindu dengan candu disaat sang istri telah masuk ke dalam mimpi. Hanya Allah yang tahu, betapa ingin diri ini mendekapnya dan hanya Allah pula yang tahu, betapa dia sangat menginginkan istrinya.
"Mas Vano, tolong dengarkan aku." Ai memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
Dengan gugup ia mengangkat tangannya menyentuh wajah sang suami, bahkan kedua kakinya sampai harus naik ke atas sofa agar bisa sejajar dengan kepala sang suami.
Dia menekuk kedua lututnya di atas sofa sembari membawa wajah sang suami bertatapan dengannya. Bertatapan dengan Mas Vano itu berat, tapi Ai tidak menyerah. Ia berusaha membalas tatapan sang suami.
"Istriku." Ustad Vano menyentuh punggung tangan istrinya di wajah.
__ADS_1
Mengelusnya lembut dengan kedua mata terpejam sebelum kelopak mata itu kembali terangkat menatap sayang wajah merah istrinya.
.