
"Maafkan aku, Aishi, tapi wanita itu tidak pernah bisa terhapus kan dari dalam hatiku selama hidup ini."
Ah,
Sesak rasanya. Tubuh ku rasanya kehilangan kekuatan seolah-olah ada sesuatu yang tak kasat mata mengambilnya dengan rakus. Tiba-tiba pusing, aku merasa pandanganku menjadi miring dan hampir saja terjatuh jika saja Mas Vano tidak melindungi ku.
"Tolong lepaskan aku, Mas." Aku meronta ingin menjauh dari Mas Vano tapi kekuatan ku sudah tidak cukup untuk melepaskan diri darinya, bukannya melepaskan ku, Mas Vano malah semakin mengeratkan pelukannya kepadaku. Memelukku erat dan berulangkali mencium puncak kepalaku.
Namun perhatian ini tidak membuat semua rasa sakit ku menguap sama sekali. Aku tidak bisa mengenyahkan semua rasa sesak di dada ku karena sungguh ternyata rasanya jauh lebih menyakitkan mengetahui Mas Vano telah memiliki wanita lain dihatinya daripada mengetahui kelemahan ku membuatku tidak bisa melahirkan seorang anak.
Air mata di pelupuk mataku tidak bisa ku bendung lagi. Semuanya jatuh membasahi pipiku, aku menangis dalam diam di bawah pengawasan mata Mas Vano.
Mas Vano, orang yang telah berhasil menorehkan luka di awal pagi ini.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ingin tahu siapa wanita itu?" Dia masih saja bertanya.
Apa aku ingin mengetahuinya?
Tidak, aku tidak ingin mengetahuinya, tentu saja. Bukan Almaira putri Pak Kyai di pondok pesantren, bukan juga Rani sepupu Mas Vano yang telah lama tidak berjumpa, bukan, aku yakin bukan mereka berdua.
"Sudah cukup, Mas. Rasanya sakit." Mohon ku merasakan sebuah remasan kuat di dalam dadaku.
Debaran yang selalu menyenandungkan perasaan manis itu kini telah berubah menjadi debaran penuh sesak yang menyebarkan perasaan sakit di dada. Aku tidak bisa berhenti menangis, sekalipun aku mau namun kelenjar air mata ku seolah tidak mau mengikuti perintah kepalaku. Ia terus saja menghasilkan air mata sehingga wajah ku sekarang telah basah sepenuhnya.
"Ah?"
Mama?
__ADS_1
Mengapa Mas Vano membawa Mama- astagfirullah, apakah yang Mas Vano maksud selama ini adalah Mama?
Cinta pertama Mas Vano dan wanita yang tidak akan pernah menghilang dari hatinya adalah Mama seorang. Ya Allah, bagaimana mungkin aku bisa melupakan kemungkinan ini?
"Hahahah..." Mas Vano tertawa rendah, kedua tangan besarnya kini sedang mengusap wajahku dengan gerakan hati-hati.
Mas Vano dengan tekun menghapus air mata di wajahku tapi kelenjar air mata ku tidak mau berhenti mengeluarkan air bening itu. Mataku tidak bisa mengering, mengalirkan air mata tanpa jeda.
"Mas Vano tidak mengatakan bila wanita yang Mas Vano bicarakan adalah Mama." Kataku dilanda perasaan malu.
Dia tersenyum,"Tanpa mengatakannya pun kamu harusnya tahu bahwa di dunia ini hanya kamu dan Mama lah yang menempati posisi hati terdalam ku. Mama adalah wanita pertama yang aku cintai di dunia ini dan kamu adalah cinta pertama maupun terakhir di dalam hidupku. Aishi, maafkan aku telah membuatmu ketakutan tadi. Aku awalnya tidak bermaksud membuat menangis apalagi terluka."
Aku percaya,
__ADS_1
Aku percaya apa yang Mas Vano katakan semuanya adalah sebuah kejujuran. Mas Vano tidak akan berpaling dariku ataupun sampai memendam rasa kepada wanita lain. Jika memang seperti itu, maka penantian 12 tahun di antara mereka berdua tidak akan pernah sampai pada titik ini.