
Tidak terasa, doa ini kembali menyentuh hati terdalam mereka. Membuat wajah satu sama lain basah karena air mata tanpa bisa dicegah. Tidak, ini adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Maha Romantis atas rahmat yang mereka rasakan hari kemarin, sekarang, maupun hari esok.
Mengambil nafas panjang, Ustad Vano membalik tubuhnya menghadap sang istri dengan tangan kanan terulur.
"Assalamualaikum, istriku?"
Ai langsung menyambut tangan Ustad Vano dan menciumnya lembut.
"Waalaikumussalam, Mas."
Mereka lalu terdiam terjebak dalam perasaan canggung.
"Mas Vano," Ai memutuskan untuk berbicara lebih dulu.
"Hem?" Ustad Vano menyahut ringan.
Kedua matanya tidak pernah lepas dari wajah cantik sang istri.
"Mas, tidakkah kamu akan menyesal menikahi ku kelak?"
Ustad Vano mengernyit tidak suka mendengar pertanyaan ini.
"Kenapa aku harus menyesal menikahi mu, wahai Aishi Humaira?"
Ai meremat kedua tangannya menahan malu bercampur canggung. Sebab apa yang sedang ingin ia bicarakan adalah mengenai kekurangannya yang mungkin tidak akan bisa memberikan keturunan.
"Aku mungkin tidak akan bisa memberikan Mas Vano keturunan. Sampai hari itu tiba, tidakkah Mas Vano menyesal telah memilihku menjadi istri-"
"Ai," Potong Ustad Vano tidak marah. Ia memang tidak senang mendengar pertanyaan ini tapi untuk Ai hatinya selalu melembut.
Ia geser duduknya sedekat mungkin dengan istrinya, lalu ia raih kedua tangan sang istri untuk berbagi kehangatan.
"Aku mencintai, sungguh." Ungkap Ustad Vano dengan keseriusan yang belum pernah Ai lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Sejak bertahun-tahun yang lalu aku tahu konsekuensi apa yang akan aku dapatkan bila menikahi mu tapi aku tetap mencintaimu, Ai. Aku tetap mencintaimu sekalipun resiko itu ada dan aku bahkan tetap mencintaimu sekalipun kamu terlahir spesial. Bila benar yang aku harapkan darimu adalah seorang keturunan, maka mengapa aku masih saja melambungkan namamu di setiap doaku, Aishi? Bila memang sebuah aku menginginkan sebuah 'kesempurnaan' dari wanita pada umumnya, tapi kenapa Aishi, tapi kenapa aku masih saja melambungkan nama mu di setiap malam-malam tanpa tidur ku? Aishi, aku tulus menginginkan kamu menjadi pendamping hidupku. Menemaniku berjalan meraih ridho Allah, menemani melangkah dalam jalan yang Allah ridhoi, hanya ini...aku hanya menginginkan ini darimu. Bila kamu mengkhawatirkan sebuah keturunan maka kita bisa mengadopsi seorang anak lucu dan menggemaskan dari panti, dan aku ridho untuk mu wahai istriku. Aku tidak akan menuntut yang lain kecuali satu, apakah kamu tahu, istriku?" Ustad Vano meraih wajah basah Ai, mengusapnya lembut dengan penuh kasih sayang.
"Aku... tidak tahu, Mas.." Ai tidak bisa berhenti menangis sejak Ustad Vano mengingatkan perasaannya.
"Maka kamu harus tahu ini mulai dari malam ini," Kata Ustad Vano lembut.
"Aku tidak akan menuntut apapun kepadamu kecuali satu, kamu tidak diizinkan berpaling dariku, wahai istriku. Bila kamu sampai melakukan itu, ketahuilah...aku ini adalah laki-laki yang egois dan aku juga adalah laki-laki yang posesif. Aku akan melakukan cara apapun untuk merebut mu kembali, mengunci mu di dalam rumah kita dan tidak akan pernah membiarkan mu keluar. Aku... adalah orang yang seperti ini jadi aku mohon... jangan berpaling dariku, Aishi. Jangan kamu tinggalkan aku karena bila itu terjadi...aku mungkin bukan lagi aku yang sekarang." Mohon Ustad Vano membuat Ai panik.
Ia menggelengkan kepalanya, meraih dan menggenggam erat tangan sang suami yang ada di wajahnya.
"Aku...demi Allah, Mas...dihati ini hanya ada Mas seorang. Aku tidak mau berpaling dari Mas Vano dan aku berharap Allah menetapkan hatiku hanya kepada Mas Vano seorang. Aku... sungguh mencintaimu, Mas. Bertahun-tahun aku menunggu agar bisa bertemu dengan segala kemungkinan yang terjadi dengan Mas Vano. Bisa jadi Mas Vano telah memiliki gadis lain dihati-"
"Tidak, istriku." Ustad Vano menolak dengan tegas.
"Bisa jadi Mas Vano telah melupakan ku-" Ai masih berbicara meskipun Ustad Vano memotongnya lagi.
"Bagaimana mungkin, selama tahun-tahun perpisahan kita, aku tidak pernah melupakan dirimu. Bukannya melupakan hatiku malah semakin merindu ingin segera bertemu dengan dirimu." Potong Ustad Vano dengan nada tegas.
"Dan bisa jadi Mas Vano selama ini hanya mengenaliku sebagai anak laki-laki karena aku..."
Ia merengkuh Ai, memeluknya erat tanpa niat melepaskan.
"Aku sudah mengenalimu sebagai perempuan sejak kita pertama kali bertemu. Sekalipun rambut mu saat itu dipotong pendek seperti laki-laki, namun itu tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa kamu adalah seorang perempuan. Memangnya, laki-laki mana yang akan terlahir dengan sebuah keindahan? Aku tidak bodoh, Ai. Aku tahu kamu adalah seorang perempuan." Ulasnya memperjelas pikiran kalut sang istri.
Bahkan sebelum Papa dan Mama memperjelas siapa Ai dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, Ustad Vano sudah lebih dulu mengetahuinya dan malah semakin tertarik ingin dekat dengan Ai.
Ai terkejut,"Sungguh?"
Ustad Vano mengangguk serius,"Demi Allah, apa yang aku katakan ini benar adanya, sayang."
Ai menjadi malu. Ia lalu melepaskan diri dari dalam pelukan Ustad Vano.
"Lalu...lalu bagaimana dengan Mama dan Papa, apakah mereka tidak keberatan dengan kondisiku?" Ai masih ragu.
__ADS_1
Karena orang tua manapun pasti menginginkan anak-anak mereka memiliki sebuah keturunan apalagi Ustad Vano adalah anak tunggal.
Ustad tertawa kecil,"Bagaimana mungkin, Aishi? Mereka adalah seorang dokter jadi bagaimana mungkin mereka tidak mengetahui tentang itu dan Alhamdulillah, mereka tidak keberatan, istriku."
Ini adalah sebuah kabar penyejuk, membuat keragu-raguan Ai menguap entah kemana. Dia tidak pernah menyangka akan ada hari dimana begitu banyak orang menerima kekurangannya dengan tulus.
"Lalu, apakah kita sekarang bisa memulai ibadah kita?" Bisik Ustad Vano membuat rona merah kembali hidup di wajah Ai.
Malu, Ai menganggukkan kepalanya tidak menolak.
Jantung Ustad Vano berdebar, dia meraih tangan Ai dan dengan tangan yang lainnya ia meraih wajah Ai. Membawanya agar lebih dekat dengannya lagi.
"Ayo kita mulai sama-sama, istriku." Bisik Ustad Vano yang langsung di angguki oleh istrinya.
"Allahumma jannibnasy wa jannibisy syaithon maa rozaqtanaa." Bisik mereka bersama-sama.
Setelah mengucapkan doa, Ustad Vano merendahkan kepalanya mengecup lama puncak kepala istrinya sebelum beralih mengecup kening, kemudian turun beberapa senti mengecup lembut kedua mata persik Ai yang telah lama tertutup, lalu turun beberapa senti lagi mengecup pipi kanan dan pipi kiri Ai, dan terakhir mengecup puncak hidung Ai.
"Ai?" Panggil Ustad Vano pada sang istri.
Kedua mata Ai bergetar ringan sebelum terbuka sepenuhnya menatap wajah sang suami yang begitu dekat dengannya.
"Jangan tutup matamu, aku ingin pengalaman pertama ini kita lalui bersama-sama." Pinta sang suami membuat rona merah kembali terbentuk.
Ai mengangguk ringan.
Setelah mendapatkan persetujuan istrinya, Ustad Vano lalu merendahkan kembali kepalanya sembari menatap wajah cantik Ai, sebelum beralih menatap bibir merah nan ranum Ai yang tampak begitu candu.
Pelan, ia menyentuh benda lembut nan kenyal itu. Begitu lidahnya menyentuh tempat itu, Ustad Vano cukup terkejut karena ada rasa manis-manis dari buah strawberry di sana.
Ia senang bercampur tidak puas, membawa istrinya lebih dekat lagi dengannya sampai di antara mereka tidak memiliki jarak.
Mereka berbagi kasih, saling menumpahkan perasaan candu untuk satu sama lain sambil mengharapkan ridho Sang Maha Romantis. Berharap bila malam ini ibadah yang mereka lakukan bernilai kebaikan tanpa ada campur tangan setan dan berharap pula dari ibadah mereka malam ini hidup benih cinta di dalam rahim sang kekasih.
__ADS_1
Sekalipun dihati mereka sudah mengikhlaskan hidup berdampingan tanpa keturunan namun, di dalam hati masing-masing ada sebuah harapan Allah ridho mereka mendapatkan sebuah amanah.
Melahirkan dan membesarkan darah daging mereka sendiri, ini adalah doa rahasia yang diam-diam mereka lambung kan tanpa sepengetahuannya siapapun.