
Dia bosan duduk di dalam rumah dan tidak bisa masuk ke pembicaraan orang tua. Tahu sendiri kalau sesama orang tua kumpul pembicaraan mereka berputar membicarakan hal-hal yang nyeleneh atau jorok, misalnya seperti masalah pengantin baru.
Asri tidak kuasa mendengar pembicaraan mereka. Dia merasa bahwa usianya masih belum cukup matang untuk mendengarkan.
Rasanya sangat memalukan.
"Asri, kamu akhirnya keluar. Bibi bilang kamu lagi kurang enak badan dari kemarin. Gimana kondisi kamu sekarang? Apa udah baikan?" Seorang wanita paruh baya langsung mengenali Asri begitu keluar.
Dia tersenyum ramah dan menyapa Asri dengan nada ramah nan akrab pula.
Asri tidak tahu siapa orang ini tapi dia tetap membalas sapaan wanita paruh baya itu dengan ramah pula.
"Iya, Bu. Kemarin aku sempat kurang enak badan, mungkin masuk angin. Tapi alhamdulillah sekarang keadaan aku baik-baik saja dan bisa beraktivitas kembali."
Wanita paruh baya itu melihat wajah Asri agak pucat tapi baik-baik saja. Dia percaya jika Asri jauh lebih baik dari kemarin.
__ADS_1
"Kamu di sini sendirian? Kemana suami kamu?" Tanya wanita paruh baya itu sambil melihat ke pintu rumah, tapi dia tidak menemukan siluet Arka yang legendaris.
Ngomong-ngomong Arka langsung menjadi buah bibir banyak orang di desa ini. Mereka berlomba-lomba menampilkan putri mereka secantik mungkin untuk menarik perhatian Arka, laki-laki tampan dan kaya raya yang sangat menarik perhatian.
Mungkin banyak Ibu-ibu yang cemburu melihat kebahagiaan Asri dan menganggap bila putri mereka jauh lebih baik daripada Asri, maka dari itu mereka tanpa malu-malu menyeret putri mereka yang telah berdandan cantik dan menggunakan pakaian bagus untuk menarik perhatian Arka.
Lihat saja diluar pagar. Asri bisa melihat beberapa gadis tampak lalu lalang beberapa kali di depan. Kalau cuma satu atau dua kali enggak apa-apa, dia tidak akan curiga. Tapi masalahnya dalam waktu yang sangat singkat Asri memperhatikan beberapa orang sudah lalu lalang hampir empat atau lima kali. Belum lagi penampilan mereka yang menor dengan baju baru, Asri tidak bodoh. Dia tahu bahwa para gadis ini memiliki motif tersembunyi kepada suaminya.
Cek, hatinya langsung terasa masam.
Mas Arka membuat ulah lagi! Batinnya menyalahkan sang suami yang tidak tahu apa-apa.
Mobilnya sangat mencolok di jalan bergelombang desa.
"Mas Arka!" Asri berjalan cepat ke depan untuk menyambut suaminya pulang.
__ADS_1
Melihat Asri turun tanpa menggunakan alas kaki, Arka sangat marah!
Dia buru-buru turun dari mobil dan langsung menangkap pelukan manja istrinya. Mengangkat salah satu alisnya heran, tumben istrinya bertingkah manja di depan banyak orang?
Biasanya dia pemalu. Pikir Arka merasa gemas.
"Kamu ngapain sih turun ke tanah tanpa alas kaki? Tunggu saja aku di atas sebentar!" Arka merendahkan badannya menyentuh lutut Asri dan langsung mengangkatnya dengan gaya pengantin.
Asri langsung merasa tenang setelah mencium wanginya khas suaminya. Belum lagi pelukan hangat suaminya, ugh... matanya menatap angkuh para gadis di luar yang sedang mengintipnya cemburu!
"Aku kangen sama mas Arka...." Kata Asri manja.
Hati Arka terasa diaduk-aduk saat mendengar suara manis istrinya.
"Tadi siapa yang minta aku pergi ke kota buat beli buah?"
__ADS_1
Asri malu.
"Aku, mas. Tapi aku juga mau ikut, cuman mas Arka enggak kasih izin!"