Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 151


__ADS_3

Semua tindakan mesra mereka berdua tidak luput dari mata gadis itu. Bohong jika dia tidak merasa cemburu. Jika bisa, ingin sekali dia pergi menggantikan posisi Ai di samping Ustad Vano. Tapi malang, ini hanya mimpinya semata karena semenjak masuk ke dalam ruangan ini Ustad Vano tidak pernah meliriknya sedikitpun.


Dia kecewa dan marah.


"Jadi, maksud kedatangan kalian ke sini?" Tanya Ustad Vano tidak mau berbasa-basi.


Mendengar pertanyaan Ustad Vano, Ayah langsung meluruskan duduknya. Berdehem ringan untuk melonggarkan tenggorokannya, dia kemudian mulai berbicara.


"Begini, Pak. Ini... putriku telah membuat masalah untuk keluarga, Bapak. Aku tahu masalah yang dia timbulkan tidak kecil dan aku juga tahu bila masalah ini telah menyinggung hati istri, Bapak. Namun putriku masih kecil, Pak. Dia masih belum dewasa dan suka bertindak impulsif tanpa memikirkan resiko jangka panjang dari masalah yang dia buat. Aku takut jika masalah ini dibawa ke meja hukum mental putriku tidak akan baik-baik saja. Jadi bisakah masalah ini kita selesaikan secara damai saja, Pak? Sebagai seorang Ayah, aku berharap putriku masih bisa mengejar cita-citanya dan aku juga sudah memastikannya secara jelas, Pak, bila putriku sudah menyesali semua kesalahannya. Dia telah berjanji tidak akan mengulangi semua kesalahan ini dan mengganggu kehidupan rumah tangga Bapak, lagi." Ujar Ayah hati-hati sembari mengamati wajah datar Ustad Vano.

__ADS_1


Hatinya merasa panas dingin melihat Ustad Vano tidak kunjung memberikan reaksi apapun di wajahnya. Untuk posisi Ayah sendiri saat ini dia sangat sulit menghadapi wajah datar Ustad Vano karena dia tidak bisa menebak apa yang laki-laki dingin ini pikirkan di dalam hatinya.


Sambil menundukkan kepalanya Ai juga menyimak dengan baik apa yang Ayah katakan. Dia heran karena kata-kata Ayah seolah menyiratkan bila gadis itu akan dikirim ke penjara.


"Jalur damai, yah. Ide ini sangat bagus..." Ustad Vano melepaskan tangan Ai, dan beralih melingkari pinggang ramping Ai yang sudah agak berisi semenjak hamil.


Ai sangat malu. Wajahnya terasa terbakar dan dia yakin, pipinya pasti sudah semerah kepiting rebus saat ini.


"Tapi sayang, kuasa hukum keluargaku sudah mengirim berkas-berkas masalah ini ke pengadilan." Lanjut Ustad Vano tanpa melirik ekspresi batu mereka semua.

__ADS_1


Ai langsung kaget mendengarnya. Sejak kapan suaminya menyiapkan berkas-berkas masalah ini dan kenapa dia tidak tahu?


Ayah, Mama, dan gadis itu menjatuhkan rahang mereka karena shock. Mereka tidak pernah menduga bila Ustad Vano menganggap serius masalah ini. Terutama untuk gadis itu sendiri. Semua mimpi-mimpi dan kehidupan kampusnya segera hancur ketika memikirkan pagar besi yang akan membatasi ruang lingkup kehidupannya.


Memikirkannya saja sudah membuat gadis ini hampir gila apalagi jika dia benar-benar berakhir di sana.


"Pak... Bapak tidak bisa melakukan ini. Putriku masih kecil dan dia harus meraih mimpi-mimpinya-"


"Itulah yang kamu pikirkan sebagai seorang Ayah, tapi apakah kamu memikirkan apa yang aku pikirkan sebagai seorang suami dan Ayah untuk keluarga kecilku?" Potong Ustad Vano tanpa memberikan wajah kepada Ayah.

__ADS_1


Sambil berbicara dia mengelus ringan pinggang ramping istrinya untuk menenangkan tubuh istrinya yang tegang. Dia tahu bila masalah ini pasti telah menguras energi istrinya hari ini. Di tambah lagi kesedihan putrinya beberapa hari yang lalu karena masalah ini, jadi mana mungkin Ustad Vano rela melepaskannya setelah semua yang dia lakukan kepada istri dan anaknya, bermimpi lah!


__ADS_2