Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
39. Konyol


__ADS_3

Biarlah, tidak apa-apa memberikan sedikit pelajaran kepada mereka.


Toh ia juga kasihan melihat adik-adiknya diperlakukan salah.


"Terimakasih, Mas Azam." Ai dan Asri kompak berterimakasih.


Mereka tidak menolak kebaikan Ustad Azam. Udang besar yang ada di piring masing-masing tidak dibiarkan menganggur begitu saja, mereka mulai memotongnya dan membawa makanan itu ke dalam mulut.


Raut kepuasan langsung tercetak di wajah Ai dan Asri, mereka mengakui bahwa udang ini sangat lezat. 


Terutama untuk Ai sendiri, dia merasa jika udang ini adalah satu-satunya makanan yang berhasil menghidupkan kembali selera makannya.


Akan tetapi wajah kepuasan mereka berdua berbanding terbalik dengan ekspresi masam di wajah Ustad Vano dan Arka.


Mereka heran mengapa Ai dan Asri mau memakan pemberian Ustad Azam, padahal sebelumnya mereka telah beberapa kali menawarkan hidangan yang sama tapi langsung ditolak begitu saja.


"Ai, makanlah ini." Ustad Vano mengambil dua udang besar dari atas piringnya.


Namun lagi-lagi ditolak oleh Ai,"Tidak perlu, Mas. Aku sudah kenyang."


Ai benar-benar enek melihat udang itu. Ini adalah reaksi penolakan alami dari tubuhnya, sungguh.


Sementara itu di kursi sebelah Arka dengan cekatan menyingkirkan kulit-kulit udang yang ada di atas piringnya dan dengan semangat tinggi mengirimnya ke atas piring Asri.

__ADS_1


"Makanlah udang gemuk-gemuk ini--"


"Mas Arka saja yang memakannya karena aku sudah kenyang." Dia menolak dengan alasan sama yang Ai utarakan.


Asri menolak murni karena ia ingin menjaga jarak dari Arka dulu, ia harus mempersiapkan hatinya sampai mereka benar-benar berpisah nanti.


Speechless, Ustad Vano dan Arka untuk sejenak kesulitan mengatakan kata-kata mereka karena penolakan dari istri masing-masing.


Mega dan Ustad Azam tersenyum lebar, mereka menikmati dalam diam ekspresi sembelit di wajah Ustad Vano dan Arka.


Aksi kedua, Ustad Azam semakin menambah kayu bakar kecemburuan di hati Ustad Vano dan Arka.


"Bagaimana mungkin kalian berdua bisa kenyang? Tidak, kalian hari ini telah berpuasa seharian jadi aku tidak yakin kalian sudah kenyang hanya dengan beberapa sendok makanan." Ustad Azam mengambil beberapa sayuran tumis lalu menaruhnya di atas piring Ai dan Asri.


Ustad Vano dan Arka yang kesulitan mengucapkan kata-kata,"...." Apakah Istriku sedang marah kepadaku? Batin Ustad Vano dan Arka kompak.


Ustad Vano sudah menyadari keengganan Ai tapi ia tidak tahu itu karena apa, sedangkan Arka baru benar-benar menyadari sikap menjaga-jarak Asri saat ini. Di dalam hati ia bertanya-tanya apa yang telah ia lakukan sehingga membuat Asri marah kepadanya?


"Kamu juga harus makan ini." Ustad Vano mengambil tumisan sayur di atas piringnya tapi lagi-lagi ditolak oleh Ai.


"Ini sudah cukup, Mas." Ai makan dengan lahap semua makanan yang diberikan oleh Ustad Azam.


Ustad Vano terdiam, ia menatap bingung udang besar yang telah ia kupas dengan hati-hati untuk Ai dan tumisan sayur yang ada di atas piringnya. Ai tidak mau memakannya, Ai menolak semua pemberiannya tapi kenapa Ai tidak melakukan hal yang sama kepada Ustad Azam?

__ADS_1


Ustad Vano kecewa.


Di sampingnya, nasib sama juga dirasakan oleh Arka. Ia bahkan lebih tragis karena penolakan Asri langsung jatuh bahkan sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya.


"Asri, kamu-"


"Ini sudah cukup, Mas. Perutku sudah tidak bisa menampung banyak makanan lagi." Dia menolak tanpa ampun.


Dalam waktu singkat, suasana yang sebelumnya menyenangkan dan cair segera menjadi tidak menyenangkan. Ustad Vano tidak lagi tertarik merespon apapun yang dikatakan Rani dan begitupula Arka.


Mereka berdua menunduk dalam perasaan gelisah, sesekali memandangi istri masing-masing yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, dan sesekali menatap piring tanpa niat untuk melanjutkan makan.


Mereka gelisah dan merasakan cemas, khawatir bila Ustad Azam menyimpan maksud tertentu kepada isteri mereka.


Rani dan Riani saling memandang tampak tidak puas. Mereka benar-benar kesal karena acara makan malam yang seharusnya menyenangkan ini dirusak dengan sangat mudah oleh Ai dan Asri.


"Em.." Rani meletakkan alat makannya.


"Aku pikir sebagai seorang istri kalian tidak-"


"Aku pikir akan sangat menyenangkan bila Ai dan Asri menjadi maduku, bukankah begitu, Mas?" Suara ceria Mega memotong ucapan Rani, membuat suasana beku menjadi kian beku dan kaku.


Beberapa detik kemudian, muncul suara batuk keras dari Ustad Vano dan Arka. Mereka tersedak air liur mereka sendiri. Tangan mereka memukul meja untuk meredakan batuk namun kedua mata mereka menatap tajam Ustad Azam yang kini tengah balas menatap mereka santai.

__ADS_1


Mereka berdua adalah laki-laki yang konyol, pikirnya.


__ADS_2