
Luna dan Erika saling pandang dan tertawa.
"Apa nama anakmu itu berasal dari nama Cherry? Buah yang sangat kau suka saat mengandungnya?" tanya Luna penasaran.
"Aku malas bertanya pada Sam" ucap Yasmin sambil menjulurkan lidah.
"Kau sudah menikah dengan Sam hampir 8 bulan dan kau belum merasakan apapun padanya?" Erika bertanya penuh rasa ingin tahu.
Yasmin menggeleng sambil bergidik.
"Setiap melihatnya aku merasa kesal, aku hanya mengizinkannya menyentuh perutku saat anak ini terasa ingin dekat dengan papanya" kata Yasmin tak bersemangat.
"Semoga saja rasa bencimu itu tak membuat Sheryl menjadi sangat mirip dengan papanya" kata Luna sambil tertawa lepas, Yasmin memanyunkan bibirnya tanda tak sudi.
"Sheryl sangat cantik... bila anakku laki-laki jodohkan Sheryl dengannya ya nona Yasmin" ujar Erika sambil menyentuh pipi bayi mungil itu.
"Apa kau mau mendahuluiku? Anakku yang akan dijodohkan dengannya" tukas Luna tak mau kalah.
"Tapi aku yang punya ide duluan nona, ayolah..." Erika seperti tak ingin melepaskan kesempatan emas itu.
"Aku baru mau mengatakannya namun kau mendahuluiku!"
"Mengalah padaku kali ini saja"
"Tidak! Yasmin.. tentukan siapa yang akan kau pilih sebagai besanmu nanti?" desak Luna.
Yasmin menepuk keningnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tak tahu apakah itu keb***han yang menular antara kalian berdua atau hal lainnya. Lihatlah.. anakku belum genap berumur sehari dan bayi dalam kandungan kalian baru akan memasuki 3 bulan lalu kalian meributkan hal yang masih sangat jauuuuuh untuk dipikirkan. Ini sangat konyol"
♥️♥️♥️
Luna dan Erika seperti perang dingin, semenjak keluar dari ruangan Yasmin keduanya tidak saling bicara. Jiraiya hanya melihat heran kepada mereka berdua.
"Apakah ada yang buruk terjadi?" tanya Jiraiya saat perjalanan pulang ke apartemen.
"Tidak!" Erika dan Luna menjawab bersamaan dengan nada ketus, mereka saling pandang dengan tatapan sebal.
__ADS_1
Jiraiya makin tidak paham dengan situasi yang terjadi. Namun wajah Luna dan Erika terlihat kesal satu sama lain membuat Jiraiya memilih untuk diam.
"Hari ini cukup panas, bagaimana bila kita makan ice cream" Jiraiya berusaha menghangatkan suasana.
Luna dan Erika ingin makan ice cream namun mereka menjaga gengsi dan hanya diam saja. Jiraiya membawa mereka ke sebuah kedai ice cream tanpa persetujuan keduanya karena Jiraiya mengenal keduanya dengan baik.
"Mau pesan ice cream apa?" tanya pelayan yang ada disana.
Erika dan Luna masih enggan berbicara satu sama lain. Mereka hanya menunjuk menu yang diberikan oleh pelayan itu, menu yang sama yaitu ice cream strawberry dengan waffel coklat.
Pelayan itu menahan senyumnya saat melihat Erika dan Luna yang saling tatap dengan wajah sangar namun memiliki pilihan yang sama.
"Kau bisa memilih ice cream yang lain" Luna membuka pembicaraan dengan nada ketus.
"Nona saja yang merubah pilihan" Erika membalas dengan tidak kalah ketusnya.
"Beraninya kau menyuruhku!" seru Luna kesal.
"Iya aku berani, lalu nona mau apa?"
Mereka saling tatap dengan marah, seperti ada aliran listrik didalam tatapan itu. Jiraiya hanya menepuk keningnya melihat dua wanita keras kepala itu.
Pelayan memberikan ice cream pesanan mereka, namun Erika dan Luna masih saja saling tatap dengan aura hitam yang terpancar kesegala arah membuat semua orang yang melihatnya merinding.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Pikir Jiraiya dalam hati melihat perselisihan yang terjadi makin memanas.
"Ayah, apakah menurutmu anakku ini akan menjadi pria yang tampan?" tanya Erika manja membuat Luna mencibirnya.
"Tampan?" Jiraiya berpikir sejenak.
"Ya tentu saja, cucuku pasti tampan atau cantik" jawab Jiraiya sambil tersenyum, Erika menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya.
"Lalu apa menurutmu anakku tak akan menjadi anak yang tampan Jiraiya?" Luna bertanya sambil memicingkan matanya.
"Tentu saja anak nyonya akan menjadi anak-anak yang cantik dan tampan seperti mama dan papanya" Jiraiya juga menjawab pertanyaan Luna sambil tersenyum.
Entah mengapa Jiraiya sangat lembut kepada kedua wanita hamil itu semenjak Erika menikah. Ketegasannya hanya ia tunjukan pada pengawal-pengawal Luna lainnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa ayah memuji calon rival dari anakku?" rengek Erika membuat Luna melotot.
"Apa kau benar-benar ingin bersaing denganku Erika?" tanya Luna geram.
"Bila nona berbicara seperti itu aku tidak menolaknya" tantang Erika sambil tersenyum manis.
Jiraiya semakin tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Namun diam-diam ia mengirim pesan kepada Bobby dan Rey agar segera datang ke kedai itu..
"Tunggu... rival? saingan? Apa maksud semua ini?"
"Anak nona Yasmin sangat cantik, aku akan menjodohkan anakku dengan anaknya. Namun nona muda yang kejam ini seenaknya mengambil ideku dan ingin juga menjodohkan anaknya dengan anak nona Yasmin" ujar Erika sambil melirik Luna tak suka.
"Kau bilang apa? Aku kejam? Coba katakan sekali lagi!" bentak Luna yang semakin hilang kesabaran.
"Kau kejam.. kau kejam.. kau kejam...!!" Erika semakin menantang.
"Ya Tuhaaaan...." Luna mendengus kesal.
Ia mulai menjambak rambut Erika.
"Auu sakiit.. jangan kau pikir aku tak bisa membalasmu!!"
Erika juga menjambak rambut Luna, Jiraiya terkejut dengan apa yang terjadi. Ia berusaha melerai keduanya. Tak lama Bobby dan Rey datang memegangi istri mereka masing-masing.
"Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba bertengkar?" seru Bobby sambil memegang erat Erika.
"Bagaimana bisa kalian berjanji untuk pergi bersama dan pulang dengan suasana yang tidak menyenangkan seperti ini?" Rey ikut heran.
Mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya. Jiraiya sibuk meminta maaf ke sana kemari. Setelah mulai tenang mereka duduk bersama-sama, Jiraiya pelan-pelan menjelaskan apa yang terjadi. Rey dan Bobby menahan tawa dengan tingkah istri mereka.
"Sweety.. dengarkan aku. Bagaimana bila si kembar adalah perempuan dua-duanya? Apa kau tak merasa pertengkaran ini menjadi sia-sia?" ucap Rey sambil menatap mata Luna, Luna mengangguk dengan wajah malu.
"Dan kau darling, aku tak habis pikir. Bagaimana bisa kau bertengkar dengan nona hanya karena hal yang belum tentu seperti ini? Bila anak kita laki-laki dan anak nona perempuan, apakah kau tak mau menjodohkannya dengan anak nona?" Bobby ikut menimpali, Erika memanyunkan bibirnya sambil melihat ke bawah lalu ia mengangguk.
"Ya Tuhan, ini sungguh diluar nalar ku" Bobby menghela napas panjang.
"Saat ini yang perlu menjadi fokus kau dan Erika adalah menjaga kesehatan diri sendiri dan si kecil yang ada didalam kandungan. Bukan mempermasalahkan siapa jodohnya nanti" Rey bersikeras menahan tawanya.
__ADS_1
Jiraiya ikut bernapas lega melihat Erika dan Luna mulai melunak.
"Lagipula aku heran, apakah kalian benar-benar ingin berbesan dengan Samuel?"