
Papi Anne menghela nafas lagi, ia melihat putrinya belum siap untuk menikah. Namun bila ia menantang keinginan Anne maka ia takut Anne akan memusuhinya.
"Baiklah papi setuju, tapi kalian bertunangan saja dulu. Sambil menunggu kau sudah memiliki nilai yang baik saat belajar berumah tangga dengan mami, bagaimana?" ucap papi.
Anne melirik ke James yang masih mematung sambil memegang bucket bunga yang dibawanya.
"Yaa baiklah, tapi papi harus janji akan menyetujui pernikahanku dengan James" tukas Anne memberi peringatan pada papinya.
"Bila ini hanya rencana papi untuk memisahkan aku dengan James maka aku akan pergi dari rumah ini" sambung Anne dengan wajah serius.
Papinya tercengang mendengar kata-kata Anne, Yasmin tersenyum usil melihat tingkah Anne.
"Jika kau memang sudah yakin papi tak akan mencegahnya" papi terlihat sedih, ia hanya belum rela putrinya menikah karena ia ingin Anne menikmati masa mudanya dahulu.
"Papi tak perlu khawatir, masa mudaku akan menyenangkan karena aku habiskan bersama pria yang aku cintai" Anne bisa menebak isi hati papinya.
Papi mengaku kalah dan menyetujui keinginan Anne walaupun dengan setengah hati.
"Baiklah James, aku menerima lamaranmu" ujar papi Anne, Anne tersenyum senang dan mencium pipi papinya sebagai ucapan terima kasih.
"Karena acara utama sudah selesai, ayo kita makan malam bersama" ujar Yasmin menghangatkan suasana beku di rumah Anne.
James hanya mengangguk, Anne menggandeng tangan James untuk menuju meja makan.
"Apakah bunga itu kau bawa hanya untuk dipegang terus?" bisik Anne meledek James.
James terkejut, ia langsung memberikan bucket bunga itu pada mami Anne.
"Ohh.. terima kasih James" ucap mami sambil tersenyum menahan tawa.
Dimeja makan, Yasmin menyiapkan berbagai jenis makanan yang harus dipanggang terlebih dahulu.
"Duduklah, kita akan memanggangnya bersama" ucap mami mempersilahkan James duduk disebelah Anne.
Yasmin menyalakan kompor, namun ia takut-takut menaruh daging karena banyak percikan minyak. Dengan sigap James mengambil alih panggangan, ia menunjukan kelihaiannya memasak. Hal itu adalah salah satu bagian dari rencana Anne dan Yasmin.
Papi terkesima melihat James memanggang dan menyajikannya, ia terlihat seperti orang lain dimata papi. Sangat berbeda dengan pria gugup yang baru saja melamar anaknya.
♥️♥️♥️
Pagi itu, Luna bertemu dengan Ben. Dengan usia kandungan Luna yang baru memasuki usia 8 bulan, ia masih senang mengurus bisnisnya. Rey selalu mewanti-wanti pada istrinya agar bergerak seperlunya.
"Calon keponakanku sudah semakin besar ternyata" ujar Ben sambil menunjuk perut Luna.
__ADS_1
"Ya begitulah, dan sudah terasa sangat berat. Mereka juga aktif sekali" kata Luna sambil memegang perutnya.
"Haii jagoan, ini uncle Ben.. Paman kalian yang paling tampan" Ben berkata sambil membungkuk ke arah perut Luna.
"Ya paling tampan dan masih single" ledek Luna sambil tertawa puas.
Ben melirik sebal kepada Luna dan menegakkan badannya.
"Jangan membuatku malu Luna" tukas Ben.
"Kau terlalu sensitif Ben" Luna menahan tawa sambil memegang perutnya bagian bawah.
Luna duduk disebuah kursi, Ia meluruskan kakinya dan bersandar.
"Kau merasa lelah?" Ben terlihat khawatir.
Luna menggeleng.
"Bukan karena itu Ben, namun akhir-akhir ini aku sering merasakan kontraksi palsu yang membuat perutku sedikit begah dan tak nyaman" Luna memegang pinggangnya.
"Apa kau mau aku antar ke dokter?"
Luna menggeleng lagi.
Ben mengangguk, ia menyalakan proyektor yang sudah ia siapkan lalu mulai mempresentasikan rencananya. Luna terus menerus merasakan kontraksi, ia menggigit bibirnya sampai merasakan kontraksi itu hilang.
"Ben..." panggil Luna sambil merintih.
Ben melihat wajah Luna sudah pucat dan bercucuran keringat. Ia langsung menghampiri Luna.
"Kau baik-baik saja Luna?" tanya Ben sambil memperhatikan seluruh tubuh Luna.
Luna menunjuk ke bawah, ada air yang mengalir dari bagian bawahnya.
"Ya Tuhan Luna..." Ben langsung menggendong Luna keluar dari gedung tempat pertemuan mereka.
Jiraiya terkejut melihat Ben menggendong Luna, dengan sigap ia membukakan pintu mobil untuk Luna dan Ben dan segera melajukan mobil ke rumah sakit.
Setelah sampai dirumah sakit, Luna langsung dibawa ke ruang bersalin. Bianca secara langsung menangani Luna. Luna dibawa menggunakan brankar. Tak lama Rey datang dengan tergopoh-gopoh.
"Luna harus segera dioperasi, air ketubannya sudah hampir habis" ujar Bianca, Rey mengangguk paham.
Perawat meminta Rey menggunakan baju khusus untuk menemani istrinya operasi caesar.
__ADS_1
"Hubby..." panggil Luna saat Rey baru memasuki ruang bersalin.
Rey langsung menggenggam jemari Luna.
"Anak kita akan lahir hari ini" ucap Luna, Rey mengangguk ia berusaha menenangkan istrinya.
Bianca masuk ke ruangan, dan operasi dilakukan. Jiraiya dan Ben menunggu diluar dengan was-was. Setelah beberapa saat lampu ruang operasi padam, Bianca keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan nona muda?" tanya Jiraiya dengan nada khawatir.
"Keadaannya stabil dan baik-baik saja, syukurlah anaknya tidak lahir prematur" ujar Bianca sambil tersenyum.
Ben memperhatikan dokter muda nan cantik yang ada dihadapannya. Bianca menoleh ke Ben karena risih diperhatikan terus-menerus. Ben tersenyum dengan senang, Bianca mengulum senyumnya dan berlalu pergi.
"Siapa dokter cantik itu?" tanya Ben kepada Jiraiya.
"Itu dokter Bianca tuan, maaf saya harus menelpon nyonya besar untuk memberi tahu cucunya sudah lahir" Jiraiya membungkukkan badannya dan pergi.
Luna dan Rey dalam keadaan bahagia, Luna terus tersenyum melihat kedu bayinya. Perawat mengajarkan Luna cara menyusui bayi kembar, namun sayang ASI Luna belum keluar saat itu.
"Bagaimana ini? Bayiku bisa kelaparan bila ASI ku belum keluar" Luna menjadi frustasi.
"Tenanglah sweety, jangan panik. Suster akan membantumu agar ASI mu segera keluar"Rey berusaha menenangkan Luna.
Luna melihat kepada kedua bayi, ia menangis tersedu-sedu.
"Aku bukan mama yang baik untuk mereka, aku tak berguna.." tangis Luna menyayat hati.
Perawat mengambil kedua bayi Luna, dan menaruhnya diruang bayi. Luna dipindahkan ke ruang rawat inap dalam keadaan menyalahkan diri sendiri terus menerus dan Ia kerap marah pada Rey tanpa alasan yang jelas.
"Kau tenang saja Rey, ini merupakan gangguan suasana hati yang dirasakan 80% wanita yang baru melahirkan. Kita harus bersabar, hal ini akan hilang dengan sendirinya" ungkap dr Bianca kepad Rey, saat Rey menanyakan kondisi istrinya.
Rey menghela nafas berat, ia melihat Luna seperti wanita yang pertama ia kenal. Sangat emosional dan tak terkendali.
"Tenanglah, Luna akan baik-baik saja. Beri nama kepada kedua bayimu, agar mereka dapat dengan mudah dikenali satu sama lain" pesan dr Bianca, Rey mengangguk paham.
Setelah keluar dari ruangan dr Bianca, ia sudah memiliki nama untuk kedua putranya. Rey memasuki ruang rawat Luna, istrinya sedang termenung.
"Sweety, aku akan memberi nama anak kita" kata Rey dengan semangat.
Luna menoleh ke arah Rey dengan wajah datar.
"Mereka akan ku berinama Avior dan Alioth"
__ADS_1
Kedua nama anak Rey dan Luna diambil dari nama rasi bintang ya readers 😘😘😘😘