Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Membalas Dendam #2


__ADS_3

Pukul 10 pagi, Bobby mulai bergerak bersama lima orang pengawal lainnya, ia terus dalam keadaan waspada. Para penghadang itu masih tertidur ditempat persembunyiannya. Perlahan namun pasti Bobby dan rekan-rekannya menyekap mereka, mereka dibagi menjadi tiga bagian. Dua orang memegang satu.


"Apa ini?" mereka terkejut, wajah mereka ditutup dengan kain berwarna hitam.


Tangan dan kaki mereka diikat kebelakang, mereka melakukan tugasnya dengan cepat dan hati-hati karena bila terlambat satu detik saja para penghadang itu bisa melawan dan terjadi pertarungan sengit. Bobby mau meminimalisir terjadinya bentrokan.


Bobby memasukan para penghadang itu kedalam mobil Van yang dikendarainya. Mereka dijaga dengan ketat oleh rekan-rekan Bobby yang siap kapan saja melumpuhkan mereka.


"Tuan Jiraiya, para penghadang itu sudah bersama saya. Saya akan membawanya ke gudang belakang hotel"


"Baik, kita bertemu disana!"


Jiraiya bergegas ke lokasi yang telah ditentukan oleh Bobby, Bobby sudah sampai terlebih dahulu disana. Ketiga pria itu duduk dengan lututnya berjajar, kaki dan tangan mereka masih diikat dengan kuat.


Bobby membuka tutup kepala mereka. Jiraiya berdiri didepan mereka dengan tatapan marah.


"Aku akan bertanya baik-baik pada kalian jadi bekerja samalah dengan baik juga" ucap Jiraiya dengan datar.


Para pria itu seperti menyeringai ke arah Jiraiya.


Plak...


Tamparan Jiraiya mendarat di pipi salah satu pria itu, dan ia langsung tersungkur. Kedua pria yang menjadi temannya seketika berubah mimik wajahnya karena terkejut Jiraiya yang berusia lebih dari setengah abad memiliki kekuatan yang luar biasa.


"Apa kalian masih berani menertawakan ku!" Teriak Jiraiya dengan nada emosi.


Dua orang yang masih terkejut itu menggelengkan kepalanya.


"Katakan siapa yang menyuruh kalian!" seru Jiraiya yang mulai kehabisan kesabaran.


Mereka berdua saling menatap, keduanya nampak ragu untuk menjawab. Mereka menoleh ke arah Bobby, Bobby melihat aneh kepada kedua orang itu.


"Pria itu yang menyuruh kami" mereka seperti menyalahkan Bobby, Jiraiya melihat ke arah Bobby.


"Beraninya kalian menyalahkan ku!" bentak Bobby.


Bobby hendak maju untuk menghajar kedua orang itu, rekannya menahan Bobby.


"Tenanglah, jangan terbawa emosi" ujar salah seorang rekannya yang menahan Bobby.


Rekannya itu memutarkan sebuah video yang Jiraiya suruh untuk membuatnya tadi pagi.

__ADS_1


Ayah, cepat pulang. Aku sayang ayah.... I love you ayah...


Wajah seorang gadis kecil nan imut terpampang disana, itu adalah anak dari salah satu dari penghadang Bobby dan Rey.


"Anakku.. Jangan lakukan apapun padanya!" Teriak pria yang duduk disebelah kanan.


"Jangan membuat kami kehabisan kesabaran dengan tingkahmu ini. Kami hanya ingin tahu siapa yang membayar mu, dan kami akan melepaskan anakmu itu. Saat ini dia sedang bermain bersama orang suruhan kami" ujar Jiraiya tersenyum.


Pria itu tampak menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Teman disebelahnya bersikeras menggeleng, ia tak menyetujui temannya itu menjawab siapa yang membayar mereka.


"Bila kalian ragu, kami masih memiliki panggilan video yang bisa meyakinkan kalian" ujar Jiraiya menjentikkan jarinya.


Salah satu pengawal mendekati mereka dengan sebuah ponsel.


"Anakku? Apa itu kau?" Seorang pria tua yang duduk dikursi kayu berbicara diujung telpon.


"Ayah... ayah..." pria disebelah kiri sekarang mulai menangis melihat ayahnya.


"Kami tidak menyentuh mereka, namun bila kalian tidak bisa bekerja sama apapun bisa terjadi" Jiraiya kini menyeringai.


Bobby masih diam saja, mereka benar-benar membuatnya marah. Namun rekan-rekannya masih menahannya.


Para pria itu mulai tenang..


"Mobil?" Jiraiya menerka-nerka.


Jiraiya mendekati pria itu dan membuka ponselnya.


"Apakah seperti ini mobilnya dan ini plat nomornya?" tanya Jiraiya sambil berjongkok.


Pria itu terbelalak, Jiraiya bisa tahu hanya dengan menyebutkan mobil. Mereka jadi paham sehebat apa Jiraiya.


"Ya benar!"


"Baiklah, kami akan mengembalikan kalian ke tempat asal kalian masing-masing. Pulanglah ke rumah kalian dan jangan kembali ke dunia seperti itu. Keluarga kalian menunggu!" ucap Jiraiya, lalu ia keluar dari ruangan itu dan bergegas pergi.


Bobby masih menatap heran ke arah Jiraiya. Dia masih harus banyak belajar dari Jiraiya, melihat kehebatan Jiraiya dia merasa sangat kecil.


"Bobby ayo ikut aku!" perintah Jiraiya, Bobby segera berlari mengikuti Jiraiya.


Diperjalanan menuju rumah sakit, Bobby lebih banyak diam. Bobby dan Jiraiya duduk dikursi depan mobil.

__ADS_1


"Semuanya sudah selesai, jadikan ini pelajaran berharga untukmu" pesan Jiraiya.


"Saya sudah membahayakan nyawa tuan Rey, saya pantas dipecat" ucap Bobby lirih.


"Kau hanya diberikan peringatkan oleh Tuhan, lain kali kau harus lebih waspada"


Bobby mengangguk, ia menundukkan sedikit wajahnya. Jiraiya menepuk-nepuk bahu Bobby untuk menguatkannya. Tak lama mereka sampai di rumah sakit dan langsung menuju kamar Rey di rawat.


"Mana mereka?!" tanya Luna dengan geram.


"Aku sudah mengurusnya nona, kau tak perlu ikut turun tangan dengan masalah seperti itu. Bobby menyelesaikannya dengan baik" ujar Jiraiya membuat Luna terduduk lemas.


"Katakan padaku, siapa dibalik ini semua?" tanya Luna dengan nada yang mulai tenang, ia menatap tajam ke arah Jiraiya.


Bobby juga belum bisa membaca siapa dibalik semua ini karena Jiraiya belum memberitahunya.


"Nona Yasmin.."


Luna terbelalak, begitupun dengan Bobby. Mereka tak menyangka Yasmin bisa dengan jahatnya mencelakakan Rey.


"Mereka salah sasaran nona, Bobby adalah incaran mereka namun tuan Rey menolongnya dan dia yang terkena pisau beracun itu"


"Ya Tuhan Yasmin...." Luna mendesah dengan kasar.


"Apa tujuannya mengincar Bobby?" Luna tidak habis pikir.


"Dugaan sementara itu karena Bobby selalu menggagalkan rencana tuan Samuel. Dari informasi yang aku temukan mereka sedang melakukan kerja sama dalam dunia fashion jadi tidak menutup kemungkinan mereka berkomunikasi satu sama lain untuk merencanakan hal yang lainnya"


"Aku akan membuat perhitungan dengannya! Bobby cepat suruh orang untuk menahan Yasmin, dia pasti akan kabur keluar negeri!"


Bobby membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan. Ia memberitahu rekannya untuk segera menangkap Yasmin.


"Nona Yasmin menuju bandara untuk pergi" seru salah satu rekan Bobby melalui telpon.


"Aku sudah dekat dengan bandara aku akan menangkapnya disana" ujar Bobby melajukan mobilnya lebih cepat.


Ia sampai di bandara tepat waktu, Yasmin juga baru sampai disana. Yasmin berlari saat melihat Bobby, dengan cepat Bobby mengejarnya. Bobby menarik tangan Yasmin dengan cepat. Yasmin berusaha melepaskan genggaman dari Bobby.


"Lepaskan aku!!!" teriaknya, Yasmin menggigit tangan Bobby.


Tangan Yasmin namun Bobby menangkap Yasmin dengan tangan lainnya dan memutar tangan Yasmin menjadi kebelakang badannya.

__ADS_1


"Kau harus mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan nona!"


__ADS_2