
Pagi hari Rey ikut Armando ke dermaga untuk mencari hasil pencarian Bobby. Namun Bobby belum juga ditemukan.
"Kemungkinan korban terbawa badai semalam, karena setelah kapal berlabuh saya mendapat kabar bahwa ada badai yang datang" ujar pihak kepolisian kepada Rey dan Armando.
"Ya Tuhan... Bobby dimana kau?" ujar Rey pelan, ia menghela napas sambil mengedarkan pandangannya.
"Terima kasih atas kerja samanya Kap.." ucap Armando.
"Namun kami akan terus melakukan pencarian sampai sore ini, jika belum ditemukan maka..." polisi itu menghela napas panjang.
"...bisa dikatakan korban hilang dan tewas terbawa air laut"
Rey menunduk menahan tangis mendengar keterangan dari kepolisian itu. Tetapi Rey tetap berpikir positif, ia memutuskan untuk menunggu kabar dari pihak kepolisian di dermaga bersama Armando.
♥️♥️♥️
Kabar hilangnya Bobby sampai ke telinga Yasmin, ia pun memaksa Samuel mengantarnya ke apartemen Erika agar bisa menghiburnya.
"Bobby? Hilang?" Samuel setengah tertawa mendengar kabar itu.
"Tidak mungkin kera g**a sepertinya kalah dengan air laut" seringainya tak percaya.
"Jangan banyak bicara Sam, cepat mandi dan bersiap lalu antar aku ke tempat Erika. Aku ingin menemaninya" ujar Yasmin gusar, ia membayangkan kondisi Erika yang sedang hamil dan harus mendapat kabar buruk tentang suaminya.
"Kau pergilah sendiri, aku akan menjaga Sheryl disini" Samuel berkata dengan santai sambil menggoda anaknya yang berada dalam box bayi.
"Aku akan membawa Sheryl, Erika pasti akan terhibur dengan kedatangan kami" Erika menarik tangan Samuel dengan kasar dan menyuruhnya masuk kamar mandi.
"Kau memaksaku masuk ke kamar mandi dengan kancing bajumu yang terbuka itu, apakah kau berusaha menggodaku Yasmin?" kata Samuel sambil melihat pakaian Yasmin yang habis menyusui Sheryl.
Yasmin terkejut, ia lupa mengancingkan lagi bajunya. Ia menutup dadanya dan memukul kepala Samuel.
"Bila aku sudah g**a baru aku mau mandi bersamamu" maki Yasmin dengan kesal.
"Cepat mandi atau aku akan mengguyur mu!" sambung Yasmin mengancam.
"Ya ya yaaa.. tapi jika kau mau sekarang mandi bersamaku aku tak akan menolaknya..." Samuel masuk ke kamar mandi sambil terkekeh, Yasmin mendengus kesal melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
Yasmin menyiapkan semua keperluan Sheryl, dua buah tas besar sepertinya belum cukup untuk memuat semua keperluan bayinya.
"Ya Tuhan, ternyata benar saat memiliki bayi untuk pergi sebentar saja aku seperti seseorang yang akan berpergian berminggu-minggu" kata Yasmin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Samuel keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk karena ia lupa membawa pakaian ganti. Tak sengaja Yasmin memperhatikan badan Samuel yang sixpack dan mulus.
Memang untuk menjaga kebugaran tubuhnya Samuel sering berolah raga dan merawat tubuhnya dengan baik, karena saat ini Samuel sedang berakting dalam drama action.
"Jangan melihatku seperti itu, kau akan jatuh cinta padaku dan memintaku menghasilkan adik untuk Sheryl" ujar Samuel yang sadar Yasmin memperhatikannya.
"Cih... kau terlalu besar kepala" Yasmin memalingkan wajahnya dari Samuel.
Bukannya masuk kembali ke kamar mandi, Samuel malah mendekati Yasmin dan menyentuh rambut Yasmin yang panjang lalu menciumnya.
"Hei.. apa yang kau lakukan!!" Yasmin terkejut dan langsung menarik rambutnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin sesekali merasakan menggoda istriku sendiri" ujar Samuel tersenyum usil.
"Apa kau terbentur saat mandi tadi Sam?" tanya Yasmin heran, Samuel menggeleng.
"Berharap lah dalam mimpi Sam!" Yasmin malas menanggapi Samuel.
Samuel tersenyum menyeringai dan masuk kembali ke kamar mandi lalu mengenakan pakaiannya.
"Ayo kita berangkat.." ujar Yasmin saat Samuel sudah terlihat siap.
Samuel heran dengan dua tas besar yang sudah disiapkan oleh Yasmin.
"Tas yang mana yang akan dibawa?" tanya Samuel heran.
"Semuanya...." jawab Yasmin santai lalu keluar dari kamar sambil menggendong Sheryl.
Samuel merana melihat dua tas besar yang harus ia bawa, Ia menghela napas dan dengan terpaksa menggendong dua tas itu.
"Jangan mengeluh Sam, kau pasti tidak mau kan ada keperluan Sheryl yang tertinggal?" ujar Yasmin sambil melirik sinis ke Samuel.
"Aku tidak mengeluh, hanya saja tas ini cukup berat" kata Samuel sambil meringis.
__ADS_1
"Itu sama saja"
Yasmin keluar dari apartemen bersma Samuel, lalu mereka segera menuju apartemen Erika. Sesampainya disana, Erika ditemani oleh Luna dan Jiraiya namun Jiraiya tertidur di sofa yang ada dikamar Erika karena lelah. Kondisi Erika sangat memprihatikan, ia terus mengigau memanggil Bobby dan saat sadar ia teringat Bobby lalu pingsan lagi.
Akhirnya Luna memutuskan untuk memanggil dokter dan menginfus Erika dikamarnya. Yasmin masuk ke dalam kamar Erika, Sheryl ia tinggalkan di ruang tamu dan digendong oleh Samuel.
"Bagaimana keadaannya?" bisik Yasmin pada Luna, Luna hanya menggeleng lemah.
"Bila aku jadi Erika mungkin aku akan lebih parah darinya" ujar Luna dengan wajah sedih, ia selalu membayangkan jika Rey yang tiba-tiba menghilang seperti Bobby.
"Aku belum bisa merasakannya karena aku lebih senang jika suamiku terbawa badai" Yasmin mengatakannya tanpa bersalah sedikit pun.
Luna tersenyum pahit mendengar kata-kata Yasmin, ia memfokuskan dirinya kepada Erika yang masih tak sadarkan diri.
"Ia belum makan apapun dari tadi pagi" ucap Luna sedih.
"Dia harus makan sesuatu, kasihan bayi yang ada dalam kandungannya" Yasmin keluar dari kamar Erika, ia menuju dapur dan membuat susu untuk Erika.
Yasmin membawa dua gelas susu dan ia taruh disamping meja tempat tidur Erika lalu yang satunya diberikan pada Luna.
"Saat ia sadar kita harus bisa membuatnya meminum susu ini. Dia butuh asupan yang cukup untuk diri sendiri dan bayinya. Dan kau jangan ikut-ikutan tidak makan, minum ini" Yasmin yang lebih berpengalaman dalam hal kehamilan memberi wejangan.
Luna menurut saja, ia minum susu yang diberikan oleh Yasmin.
"Bobby... Bobby... kembalilah honey..." Erika mengigau lagi dalam tidurnya.
Yasmin dan Luna saling menatap iba pada Erika. Tak lama Erika tersadar, ia menangis terisak-isak.
"Erika... sadarlah.. jangan seperti ini. Kau harus tetap menjaga kesehatan diri dan bayimu. Jangan egois dengan kesedihanmu itu!" kata Yasmin tegas.
Erika memandang nanar pada Yasmin, Yasmin memeluknya dengan erat.
"Minum ini, bayimu harus sehat. Bobby akan senang melihat bayinya sehat saat lahir" ujar Yasmin sambil menyodorkan susu kepada Erika.
"Aku rasanya ingin menyusul Bobby ke sana nona" Isak Erika.
"Jangan berkata b***h!!! Bukan saatnya menunjukan betapa besarnya kesedihanmu sekarang tapi kau harus menunjukan kekuatanmu pada bayimu. Dia adalah hal yang paling berharga yang Bobby berikan padamu! Jadi minum ini dan bangkitlah!"
__ADS_1