
Rey tak berani mengangkat wajahnya, ia tetap dalam posisinya. Erika juga keluar dan menutupi badan Rey.
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan anda tuan" Erika membungkukkan badannya, Rey segera pergi dari tempat itu.
Samuel hendak mengejar Rey, namun Erika menghadangnya.
"Maaf tuan ada yang bisa saya bantu?" Erika menghalangi setiap langkah Samuel ke kanan dan ke kiri.
Samuel menatap sebal kepada Erika, Erika masih dengan senyuman terbaiknya. Samuel kembali duduk menghabiskan makanannya, membayar dan keluar sambil bersungut-sungut.
"Syukurlah dia sudah pergi" Rey menghela napasnya sambil memegang dadanya.
"Ayok kembali masak, banyak tamu yang menunggu kita" ujar James membuyarkan lamunan Rey.
Dapur terasa ramai dengan semua kesibukan siang itu. Erika memandang curiga ke arah Rey, namun ia segera melupakan kecurigaannya dengan kesibukan memasak.
"Akhirnya..." Erika menghela napasnya.
"Aku sudah membersihkan peralatan dapur dan mencuci semua piring. Aku pulang" Rey mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu aku kacamata, aku akan pulang bersamamu!" teriak Erika.
Rey ingin sekali menolak, ia tahu Erika mendengar semua ucapan Samuel tadi siang.
"Jangan berani-berani kau kabur" Erika memberikan tatapan menyeramkan ke arah Rey, Rey hanya bisa pasrah.
Rey dan Erika berjalan menyusuri trotoar, suasana mulai sepi dikota itu karna jam sudah menunjukkan lewat dari pukul 10 malam. Erika berjalan sambil meminum mocca float yang ia beli ditoko minuman disebelah restauran.
"Dimana rumahmu?" tanya Erika santai, Rey gugup ia bingung harus menjawab apa.
"Aku tinggal disebuah tempat" jawabnya asal.
"Dimana itu?" Erika menoleh ke arah Rey dengan wajah polos.
"Di...... tempat temanku, ya ditempat temanku" ucap Rey puas sambil tertawa kecil.
"Temanmu itu siapa?" Erika menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti?" Rey balik bertanya.
"Apa temanmu bernama Laluna Atmadja?" Erika menatap lurus ke arah Rey, Rey langsung salah tingkah. Ia mulai menggaruk kepala dengan tangan kirinya.
"Apa kau mulai ingin mengarang cerita?" Rey menggeleng.
__ADS_1
"Hahaha mana mungkin aku berteman dengan nona Luna" Rey memaksakan tawanya sambil sesekali melirik memastikan aktingnya meyakinkan Erika.
Erika masih menatap Rey penuh curiga, namun ia segera bersikap biasa kembali.
"Baiklah anggap aku salah mendengar ucapan tuan muda tadi siang" ucapnya lalu berjalan mendahului Rey.
Rey menghela napasnya,
"Suatu saat bila aku sudah menemukan bukti yang cukup kuat kau harus mengakuinya padaku!" Erika membalikkan tubuhnya sambil menatap Rey penuh ancaman.
"Hahaha sudahlah jangan bercanda terus" Rey berusaha mengalihkan pembicaraan sambil berjalan menyeimbangkan langkah Erika.
Rey sampai di apartemen, setelah ia harus memutar karena Erika mengikutinya terus.
"Apa kau ingin membuatku mati kelaparan?" Rey melihat Luna yang sedang duduk di kursi meja makan dengan kepala direbahkan mejanya.
"Apa nona baik-baik saja?" Rey langsung menghampiri Luna dan mengecek keningnya, Luna menghempaskan tangan Rey.
"Aku belum akan mati, aku hanya kelaparan menunggu kau datang" Luna mengangkat kepalanya dan tangannya menunjuk ke dapur. Rey segera melepaskan tasnya dan menurutin perintah Luna.
Rey memasak brokoli dengan sosis, dengan bumbu bawang Bombay, bawang merah dan bawang putih. Diberikan saos tiram untuk mempertegas rasa. Ia juga menggoreng dada ayam yang dipotong dadu lalu dibalut dengan tepung dan diberikan saus asam manis. Tak lupa juga ia memasak nasi.
"Silahkan dimakan nona"
"Terima kasih atas makanannya" Luna berlalu masuk ke dalam kamar.
Rey sangat terbiasa dengan sikap Luna yang terkadang meledak-ledak dan terkadang anteng tanpa omelan sama sekali. Namun Rey merasa bahagia bisa selalu dekat dengan Luna.
Di restauran Erika selalu mengawasi Rey.
"Hentikan tingkahmu itu, nanti kau bisa jatuh cinta padanya" ujar James sambil memukul kepala Erika dengan jarinya.
"Aku hanya ingin tahu apa yang ia sembunyikan" Erika memicingkan matanya.
"Sudahlah, kau juga pasti tidak suka bila ada yang ingin tahu kehidupan pribadimu" kata James lagi, Erika memandang sebal kepada James.
Erika kembali dengan kesibukan memasaknya, Rey bersikap biasa.
"Nona Luna datang untuk inspeksi pegawai" salah satu pelayan berteriak ke arah dapur.
Karena sore itu restauran sedang sepi, Luna sengaja datang untuk memeriksa segala hal yang ada direstauran. Restauran itu adalah satu-satunya usaha yang dirintisnya sendiri.
Semua pegawai berbaris menyamping dengan rapih. Luna berjalan ditengah mereka, Erika sengaja membetulkan kerah kemeja Rey didepan Luna sambil tersenyum. Rey tidak curiga sedikit pun dengan tingkah Erika. Luna melihat mereka namun acuh saja.
__ADS_1
"Bagus, kalian berpakaian dengan baik dan aku mendengar pelayanan yang kalian berikan juga mendapat pengakuan dari para tamu. James, kau sangat pantas mendapatkan pujian" James membungkukkan badannya tanda terima kasih.
"Aku akan memberikan bonus untuk kalian semua bulan ini dan bila pendapatan restauran ini stabil meningkat setiap bulan, aku akan menaikan gaji kalian" Semua pegawai bertepuk tangan, Rey memandang Luna dengan tatapan bahagia. Ia tak sadar Erika memperhatikannya.
"Terima kasih banyak nona atas apresiasinya" ujar James seraya menjabat tangan Luna. Luna hanya tersenyum lalu berlalu keluar dari restauran.
"Bagaimana ada bidadari cantik sepertinya" ucap Rey sambil menatap Luna yang sudah berlalu pergi.
"Kau sakit?" Erika memeriksa kening Rey, Rey tersadar dan menepuk tangan Erika yang ada dikeningnya.
"Jangan banyak bicara, ayo kita bersiap untuk kembali memasak sebentar lagi malam" Rey berjalan ke dapur meninggalkan Erika, Erika menaikan pundaknya lalu mengikuti langkah Rey.
♥️♥️♥️
Malam itu Luna keluar dari hotel menuju mobilnya yang sudah berada didepan pintu hotel.
"Jangan bergerak!!!" beberapa orang pria menggunakan topeng menghadangnya, dan langsung menarik tangan Luna dan menjerat leher Luna dengan lengannya yang besar.
"Apa-apaan ini?!?" Luna berteriak.
Jiraiya dan pengawal Luna lainnya terkejut.
"Lepaskan nona kami!!!" teriak Jiraiya.
"Bila kalian bergerak satu langkah saja maka aku akan melukai nona muda ini" ucap pria bersenjata pisau sambil mencondongkan pisaunya ke wajah Luna.
"Jiraiya tolong aku!!" ucap Luna lirih, air matanya mulai mengalir, menahan sakit jeratan pria besar itu.
Luna sangat ketakutan, matanya menatap Jiraiya penuh harap. Namun Jiraiya dan pengawal lainnya tidak berani melawan karna tidak ingin mengambil resiko Luna terluka.
Para pria itu menggiring Luna masuk kedalam mobil. Jiraiya tak dapat berbuat apa-apa melihat Luna dibawa masuk dengan paksa. Namun ia memberikan kode kepada pengawal yang berada dibelakangnya untuk mempersiapkan pengawal bermotor yang selalu stand by didepan pintu gerbang hotel.
Sebelum pergi salah satu penculik menembak dua ban mobil Luna yang ada dihadapannya. Saat mobil mulai berjalan, Jiraiya dan semua pengawal lain segera berlari menuju mobil yang terparkir di baseman dan mengejar mobil penculik tersebut.
Rey menerima telpon dari Jiraiya segera berlari keluar restauran dan masuk kedalam mobil yang sudah menjemputnya, Jiraiya ada didalam mobil itu. Memang jarak hotel dan restauran tidak terlalu jauh.
"Terima kasih telah memberitahuku dan mengajakku mencarinya"
Nona tunggu aku, aku akan menyelamatkan mu
Oia buat yang penasaran sama babang James, kira-kira begini visualnya 😁😁😁
__ADS_1