Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Kabur


__ADS_3

"Apa menurutmu aku sedang akting sekarang? Rasa sakit dihatiku ini nyata, coba kau pegang ini" Samuel menaruh tangan Yasmin di dadanya.


Yasmin menatap lekat Samuel.


"Ku mohon cintai aku sedikit saja" ucap Samuel memohon.


"Ehem.. aku akan lebih mempertimbangkannya nanti" Yasmin berkata dengan agak ketus.


"Baiklah, tapi aku minta imbalan ku dulu" Samuel menaruh tangan Yasmin melingkar di lehernya.


Pelan-pelan Samuel mencoba mendekat pada Yasmin, Yasmin memundurkan sedikit wajahnya. Samuel menahan tubuh Yasmin agar tidak menjauh.


"Ku mohon jangan menolakku terus" bisik Samuel.


Yasmin terdiam, ia membiarkan Samuel menciumnya. Namun saat bibir mereka baru bertemu..


Ooaakk.. Oooakkk..


Sheryl menangis, ia merasa sendirian dan terabaikan. Yasmin dan Samuel tersentak.


"Oh tidak Sheryl..." Yasmin langsung berjalan cepat menuju putri kecilnya lalu memeluknya.


Samuel merana, ia mengikuti langkah Yasmin dengan gontai. Ia melihat ke arah Sheryl dengan wajah kecewa.


"Harusnya kau mendukung usaha papi" ujar Samuel, Yasmin melotot pada Samuel.


"Tenanglah sayang, ada mami disini" Yasmin menenangkan Sheryl.


Samuel duduk dihadapan Yasmin yang sedang memeluk Sheryl. Ia memberi kode ciuman dengan bibirnya dengan wajah kecewa.


"Jangan seperti itu!" Yasmin mengancam dengan suara pelan.


Sheryl sudah terlihat tenang dipelukkan Yasmin dan tak lama tertidur, Samuel tak ingin kehilangan kesempatan. Ia langsung mendekati Yasmin dan menciumnya. Yasmin tak dapat menolak karena kedua tangannya yang digunakan untuk memeluk Sheryl dipegangi oleh Samuel.


♥️♥️♥️


Rey mendapatkan pesan singkat dari Rara.


Kak Rey..


Aku akan tinggal bersama mami Kak Luna. Maaf aku tidak mengikuti kata-kata Kakak, bukan karena aku tak nyaman tinggal bersama Kak Rey dan Kak Luna, tapi aku tak ingin merasakan tinggal bersama seorang ibu yang benar-benar memperhatikan ku. Mami kak Luna sangat baik, dia menjanjikan aku untuk bisa melakukan hal-hal yang aku suka dan membebaskan aku bertemu denganmu kapan saja..


Dari adikmu..

__ADS_1


Rara


Rey menghela nafasnya dalam-dalam. Baru saja ia bertemu dengan adiknya namun ia percaya mami akan menjaga adiknya dengan baik. Walaupun mami mempunyai sifat yang keras seperti Luna, tapi mami selalu baik padanya.


"Ada apa Rey?" Bobby mengagetkan Rey yang sedang duduk sambil menatap ponselnya.


Bobby baru saja melihat keadaan Erika, Jiraiya yang saat ini menjaga Erika didalam ruangan.


"Bagaimana keadaan Erika?" Rey balik bertanya.


"Erika belum siuman, butuh waktu yang lama agar ia bisa kembali sadar. Ia terkena stroke karena tekanan darahnya terlalu tinggi" ucap Bobby sambil menghela nafas.


"Aku tak menyangka ini akan terjadi pada Erika" Rey mencoba menguatkan Bobby.


"Tak pernah ada yang ingin hal seperti ini terjadi. Apalagi saat ini aku dan Erika baru saja memiliki seorang anak" Bobby terlihat frustasi.


"Kau harus kuat Bobby, Erika juga sedang berjuang saat ini. Tak mungkin ia menyerah sebelum melihat putri mungilnya"


Bobby menatap Rey, Rey mengangguk untuk meyakinkan Bobby.


"Aku sangat mengharapkan hal itu. Dokter mengatakan hanya keajaiban yang dapat membuat Erika sadar dengan cepat" kata-kata Bobby terdengar sangat pedih.


"Keajaiban itu ada Bobby, kau harus percaya pada Tuhan. Kau ingat saat tanganku terkena racun?" Bobby mengangguk.


"Ya kau benar, semua orang terkejut saat itu. Aku pun sangat bersyukur untukmu" Bobby tersenyum, peristiwa yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.


"Aku yakin keajaiban juga akan datang pada Erika. Yang terpenting kita harus yakin dan percaya hal itu ada dan mungkin terjadi"


Bobby menghela nafas lega, Rey memang teman yang baik dan bisa membuat hatinya lebih tenang.


"Oia, kenapa kau tadi terlihat berpikir cukup keras?" tanya Bobby.


"Itu karena siang ini mami membawa Rara untuk tinggal bersamanya. Aku sudah mengatakan keberatan ku pada mami namun ia bersikeras dan tetap membawa Rara" ujar Rey pasrah.


"Benarkah? Hahaha tidak ada yang bisa melawan nyonya besar. Bila dia menginginkan sesuatu hal itu kemungkinan bisa terjadi, hanya nona muda yang setidaknya bisa menahan tingkahnya. Apa nona tidak melarang nyonya?" Bobby penasaran karena ia tahu Luna bersama Rara diapartemen.


"Tentu saja dia sudah menahannya, namun kondisi Luna saat ini sedang hamil besar. Ia tak selincah dulu dan sangat menjaga kandungannya"


"Rara setuju tinggal bersama nyonya?"


Rey mengangguk sambil menghela napasnya lagi.


"Rara mengirimi aku pesan dan berkata ia ingin tinggal bersama mami. Dia ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, dan mungkin itu hal yang tak bisa aku berikan kepadanya karena aku akan sibuk dengan Luna dan anak-anakku nanti" Rey mulai memahami maksud mami dan Rara, mereka ingin mengurangi beban Luna dan dirinya.

__ADS_1


"Nyonya besar terkadang memang memiliki insting seorang ibu yang tepat. Tapi tak biasanya nyonya langsung cocok dengan seseorang" Bobby berpikir sejenak.


"Luna berkata mami suka pada Rara karena Rara memiliki sifat sepertiku. Ia sangat menginginkan seorang putri penurut, ya kau tahu Luna dan mami tak pernah cocok dalam hal apapun" ujar Rey sambil tertawa kecil.


"Ya kau benar, bahkan semua pengawal nona melihat nyonya besar sebagai ancaman besar Hahaha" Bobby tertawa, Rey senang melihat Bobby melupakan kesedihannya sejenak.


"Sesekali aku akan mengunjungi Rara dirumah mami"


"Ya.. sudah seharusnya begitu. Aku saja jarang mengunjungi ayah dan ibuku, mereka lebih membutuhkan uangku daripada kedatanganku ke sana" Bobby merasa kecil membandingkan dirinya dengan Rey.


"Apakah ayah dan ibumu tidak kesini untuk menjenguk Erika?" Rey heran.


Bobby menggeleng.


"Tak perlu mereka kesini, aku sudah cuku repot mengurus Erika dan anakku. Ibuku hanya akan membuat kepalaku bertambah pusing, aku meminta mereka mendoakan kesembuhan Erika saja" Bobby terkekeh miris.


"Setidaknya doa mereka akan sampai kepada Tuhan" Rey merangkul Bobby.


Bobby menoleh ke arah Rey dan tersenyum.


"Aku sangat merindukan senyuman Erika" ucap Bobby, ia menyenderkan tubuhnya didinding.


"Kau juga merindukan ocehan dan omelannya?" ledek Rey, membuat Bobby terkekeh.


"Ocehan dan omelannya adalah hal berharga untukku, dibandingkan dengan saat ia marah karena cemburu"


"Cemburu karena pelukkan tak sengaja itu?" Rey ikut terkekeh.


"Ya begitulah.."


Ponsel Bobby berdering, Bobby langsung mengangkatnya. Wajah Bobby terlihat terkejut namun ia bisa mengendalikan dirinya. Rey melihat ekspresi Bobby penuh tanda tanya.


"Ada apa?" tanya Rey.


Bobby terlihat ragu memberi tahu Rey.


"Apa ini ada hubungan denganku?" Rey mendesak Bobby.


Bobby mengangguk dengan wajah agak kecewa.


"Apa itu? Apa ini ada hubungannya dengan Luna?"


Bobby menggeleng.

__ADS_1


"Ayahmu.. Ayahmu kabur dari penjara.."


__ADS_2