Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Mimpi Buruk


__ADS_3

"Aku harus menolongnya..." Jiraiya membuka jaketnya dan hendak terjun ke laut.


"Jangan tuan....!!!" Armando menghentikan Jiraiya.


"Air laut sedang pasang, sangat berbahaya..kita akan melakukan pencarian saat laut sudah tenang" sambungnya lagi.


Jiraiya mengusap wajahnya kasar, ia menahan tangis melihat Bobby yang sudah tak nampak ditelan ombak.


Kapal kembali ke dermaga, para polisi dan pengawal yang menunggu disana bersiap untuk pencarian Bobby.


"Apa yang harus aku katakan pada Erika?" Jiraiya mendesah kuat, ia tak mampu membendung air matanya.


Akhirnya Jiraiya menelpon Luna untuk memberitahukan apa yang terjadi.


"Ya Tuhan Bobby...." Luna berteriak histeris, Rey yang ikut mendengar kabar dari Jiraiya sangat terpukul dengan apa yang terjadi.


Rey dan Luna berpelukan, mereka harus menenangkan diri sebelum menemui Erika.


"Ayo kita segera bertemu Erika dan menemaninya sebelum Jiraiya datang"


Mereka bersiap untuk menemui Erika yang ada disebelah apartemen mereka.


Erika tertidur disofa saat menunggu Bobby pulang. Dalam mimpinya ia sedang bersama Bobby dan tiba-tiba Bobby hilang ditelan ombak.


"Bobby..!!!!!!" Erika berteriak, ia terjaga dari tidurnya.


Keringat membasahi tubuhnya, itu terasa sangat nyata. Erika mengatur napasnya lalu melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukan pukul 1 pagi namun belum ada tanda-tanda Bobby akan pulang.


Erika mencoba menelpon suaminya, tak ada jawaban bahkan ponsel suaminya tidak aktif. Rasa khawatir menjelajah diseluruh jiwanya, ia mencoba menelpon ayahnya namun tak ada jawaban jua.


Ting tong..


Ada yang menekan bel apartemennya, Erika berjalan cepat ke arah pintu ia berharap Bobby yang pulang. Yang ia dapati Luna dan Rey yang datang, Erika memandang mereka penuh tanda tanya karena wajah Luna dan Rey terlihat sedih.


"Erika... boleh kami masuk?" tanya Luna dengan suara lirih menahan tangis.


Erika mengangguk, Rey dan Luna berjalan masuk ke apartemen Erika. Rey memegangi bahu Luna dengan kuat, keduanya terlihat lemah.


"Ada apa nona? Tak biasanya kalian datang tengah malam begini.." Erika mulai curiga.

__ADS_1


Luna dan Rey saling menatap tak ada yang sanggup memberitahukan Erika tentang apa yang terjadi pada Bobby.


"Kami diberitahu Jiraiya untuk menemanimu disini" kata Rey pelan, ia benar-benar sangat kehilangan sahabatnya itu.


Bel berbunyi lagi saat rasa penasaran Erika belum terjawab. Erika membuka pintu, Jiraiya dan beberapa pengawal berada di depan pintu dengan wajah sedih. Erika mencari keberadaan suaminya diantara para pengawal yang berada di belakang ayahnya.


"Mana Bobby, ayah?" tanya Erika heran.


Matanya tertuju pada jaket bertuliskan nama Bobby yang dipegang Armando, Erika mulai paham apa yang terjadi. Air mata Erika mulai membanjiri pelupuk matanya.


"Ayah.. Apa Bobby masih di hotel? Kenapa dia tidak pulang bersamamu?" Erika berusaha mengendalikan dirinya, ia masih berusaha berpikir positif dan mengembangkan senyumannya.


Luna dan Rey menghampiri Erika, Luna memegang bahu Erika dengan kedua tangannya.


"Ada apa ini? Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku? Ayah..." suara Erika mulai serak ia menahan rasa takutnya, Luna mengusap lengan Erika.


"Erika.. kau harus kuat.." ucap Luna pelan.


Erika menoleh ke arah Luna dengan tatapan nanar, ia masih tak mau mempercayai apa yang ada dibenaknya.


"Apa maksudmu nona?" wajah Erika mulai berubah menjadi sangat ketakutan, ia sangat takut kehilangan Bobby.


Armando maju mendekati Erika, ia memberikan jaket Bobby pada Erika. Erika menerimanya dengan wajah tak percaya.


Erika mengedarkan pandangannya ke semua orang yang berada dibelakang ayahnya. Karena tak mendapat jawaban, iamenoleh ke arah ayahnya.


"Ayah.. katakan padaku Bobby masih dihotel dan masih mengerjakan tugasnya disana kan?? Ayah.... tolong jawab aku" Erika menatap Jiraiya penuh harap.


Jiraiya menatap putrinya dengan wajah penuh air mata, ia menggeleng pelan. Tubuh Erika lemas, ia menjatuhkan tubuhnya dilantai sambil memeluk jaket Bobby yang ada ditangannya.


"Tidak.... Bobby... jangan tinggalkan aku... aku tak bisa hidup tanpamu....Bobby...." Tangis Erika pecah membuat semua yang ada disana ikut menangis.


Jiraiya memeluk Erika dengan erat, ia ingin menenangkan putrinya yang kemungkinan akan kehilangan suami yang sangat dicintai.


"Maafkan ayah... Ayah tak bisa menjaganya dengan baik.." bisik Jiraiya membuat Erika bertambah sedih.


"Bobby.... jangan tinggalkan aku honey... ku mohon kembalilah.... kita sudah berjanji akan membesarkan anak kita bersama.. Bobby.. Bobby... kembalilah padaku..."


Erika terus memanggil nama suaminya sampai akhirnya dia pingsan karena terlalu sedih. Jiraiya mengangkat tubuh Erika dan membawanya ke kamar. Luna meminta pengawal lainnya untuk kembali bertugas dan memberi kabar mengenai perkembangan pencarian Bobby.

__ADS_1


"Maafkan ayah.. seharusnya ayah yang tertembak.." Jiraiya berkata dengan deraian air mata dipipinya.


"Bobby melakukan hal yang seharusnya, semuanya masih bisa terjadi. Kita harus selalu berdoa pada Tuhan agar mereka bisa segera menemukan Bobby" kata Luna berusaha menenangkan Jiraiya yang memandang Erika penuh kepedihan.


Rey juga sangat terpukul, ketegeran yang ia tunjukan seketika runtuh melihat Erika yang terus memanggil nama suaminya tadi. Ia terus menguatkan dirinya sendiri di sofa apartemen Erika. Ia terus menghembuskan napasnya agar bisa mengendalikan dirinya.


"Hubby..." Luna keluar dari kamar Erika dan melihat Rey yang sedang termenung di sofa seroang diri.


Rey menoleh ke arah Luna, ia memaksakan senyumnya dan mengusap air matanya. Luna menghampiri dan memeluk Rey.


"Percayalah, Bobby akan segera ditemukan dalam keadaan selamat. Dia adalah pria yang kuat" ucap Luna, dia kuat setegar karang karena ia tahu disekitarnya banyak yang tak bisa menerima peristiwa ini.


Luna paham Rey merasa terpukul karena ia adalah sahabat terdekat Bobby, keseharian Rey lebih banyak bersama Bobby di kedai kopi.


"Maafkan aku sweety... seharusnya aku bisa lebih kuat darimu.." ucap Rey sambil menangis dipelukan Luna.


"Lebih baik kita pulang, besok kita ke sini lagi. Erika butuh ketenangan saat ini" kata Luna, Rey mengangguk setuju.


Mereka pamit pada Jiraiya yang masih menemani Erika yang belum sadar sambil terus menciumi tangan putrinya.


"Erika.. ayah akan selalu menjagamu.. ayah janji.."


♥️♥️♥️


Disebuah Desa nelayan kecil bernama Desa Edelweis, seorang pria tengah baya bernama Louis sedang berjalan menuju perahunya. Hari sudah mulai terang, ia harus berlayar.


"Apa itu?" pikirnya saat melihat sesosok tubuh yang ada didekat perahunya.


Louis berpikir itu adalah mayat orang yang terdampar di pulau terpencil itu.


"Tolong aku..."


Mata Louis membulat, sosok itu masih hidup. Ia segera menghampiri orang yang tergeletak itu.


"Apa kau baik-baik saja?"


Pria yang ditemukannya mengangguk lemah.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


Dengan lemah pria ia menjawab.


"Bobby..."


__ADS_2