Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Merasa Berdosa


__ADS_3

Rey bangkit perlahan dari tempat tidur Luna, ia memungut celananya dan memakainya. Kaos Rey ada didekat Luna, karena semalam Luna melemparnya asal.


Perlahan-lahan Rey mendekati Luna, hendak mengambil kaosnya. Kaosnya berada di lampu duduk didekat Luna, pelan-pelan ia mengambil kaosnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Luna yang sudah terbangun kaget melihat Rey bertelanjang dada.


Rey segera mengambil kaos dan memakainya cepat. Luna sadar ia hanya memakai bra dan celana dalam, ia menyelimuti tubuhnya sampai leher. Luna melihat ke sekitar kamarnya, pakaiannya berserakan menandakan ada sesuatu yang terjadi semalam.


"Apa semalam....?" Luna membelalakkan matanya.


Rey terlihat agak frustasi, ia menarik rambutnya kuat menyesali apa yang terjadi. Rey seperti ingin menangis meratapi kebodohannya semalam, ia berpikir telah menodai Luna.


"Apa yang aku lakukan!!" Luna mendengus kesal, ia berusaha mengingat kejadian semalam namun yang ia ingat adalah tautan mesranya dengan Rey. Wajahnya memerah.


"Maafkan saya nona" ucap Rey lirih, menyesali perbuatannya.


Luna terdiam, dia tak bisa mengingat apapun. Bahkan dia lupa mengapa dia mengajak Rey masuk kedalam kamar.


Apa yang membuatku membiarkan dia masuk ke kamar dan tidur bersama ku?


Luna tidak dapat berpikir, kepalanya agak pusing. Rey hanya tertunduk, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Arghhhhhh kenapa aku tak bisa mengingat apapun!!!" teriak Luna kesal, Rey semakin tersudut.


"Nona aku... aku juga tak dapat mengingat apa yang terjadi" Rey masih bersuara lirih, ia menahan tangisnya.


Luna sangat bingung, ia menggunakan menutupi dirinya dengan selimut lalu bangkit dari tempat tidur berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Rey terduduk lesu, ia merasa berdosa atas apa yang menimpa Luna.


"Keluar dari kamarku!!!" teriak Luna dari dalam kamar mandi, dengan langkah gontai Rey berjalan keluar dari kamar Luna.


Rey duduk di sofa termenung masih berpikir apa yang terjadi, lalu ia melihat jam dinding.


"Ya Tuhan sudah pukul setengah 8, aku terlambat!!" ucap Rey, ia berlari ke kamar mandi.


Tak lama Rey sudah siap, ia tak sempat membuatkan Luna sarapan. Seperti biasa Bobby sudah menunggunya depan pintu sambil berjongkok memainkan ponselnya. Bobby menoleh ke Rey yang baru saja keluar dari apartemen Luna, ia tersenyum lebar.


"Apa kau sudah siap?"


"Maafkan aku Bobby, apa kau sudah lama menungguku?"


"Ya... tidak lama hanya 1 jam 15 menit 34 detik" ucap Bobby sambil tertawa kecil, ia lalu merangkul Rey untuk naik lift bersama dan turun ke lantai bawah.

__ADS_1


Perjalanan menuju restauran sekitar 15 menit, Rey dan Bobby agak terlambat datang karna jam masuk adalah pukul 8 pagi. Biasanya mereka sudah sampai jam 7 pagi untuk bersih-bersih.


"Kau terlambat kacamata" ujar Erika sambil melirik kesal, saat Rey mulai memotong sayuran disebelahnya.


"Ya maafkan aku, aku terlambat bangun pagi ini" jawab Rey.


"Apa kau mabuk semalam?" tanya Erika, Rey menoleh ia berpikir Erika seperti paranormal yang dapat menebak apa yang dia lakukan.


"Kenapa kau berpikir demikian?" Rey penasaran.


"Mungkin saja semalam kau mabuk dan melakukan sesuatu yang membuatmu lelah lalu terlambat bangun pagi ini" Erika menjawab santai, Rey gugup ia merasa Erika benar-benar paranormal sejati.


"Hahaha kau terlalu banyak berkhayal, aku hanya lupa memasang alarm semalam" ujar Rey memaksakan tawanya sambil sesekali melirik Erika memastikan gayanya meyakinkan.


Erika hanya diam saja dan mengangkat bahunya tanda tidak ingin tahu lebih banyak. Bobby mendekati mereka.


"Aku lapar, adakah yang bisa aku makan?" tanyanya sambil merangkul Rey, Erika hanya melirik ke arah Bobby.


"Makanlah dibelakang sana" Ucap Rey sambil menaikan bahunya ingin Bobby melepaskan rangkulannya.


"Hei cantik, tunjukan aku dimana aku bisa mendapatkan makanan" Bobby menoleh ke Erika, Erika mengangguk dan meminta Bobby mengikutinya. Bobby senang dan mengedipkan matanya ke Rey, Rey tersenyum.


Semoga aja mereka bisa jadi sepasang kekasih


Dia Rey dalam hati.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Ya aku baik-baik saja, hanya..." Rey menggantung ucapannya, Bobby melihat ke arah Rey menunggu kata-katanya dilanjutkan.


"Sudahlah ayo kita pulang" ajak Rey.


"Apa kau mau minum dulu?" tanya Bobby sambil tertawa kecil.


Rey menggeleng, ia mengajak Bobby untuk segera pulang. Hati Rey was-was sepanjang hari karna kejadian tadi malam. Bobby mengantar Rey sampai apartemen dan langsung pulang.


"Aku lelah sekali" ujar Rey sambil menutup pintu apartemen, ia terkejut ada Luna sedang duduk disofa melihat tajam kepadanya.


Rey merasa takut dan malu bertemu Luna, sangat malu bahkan ia tak berani melihatnya.


"Kemana saja kau? Ini sudah pukul 9 lewat"


"Restauran tutup pukul 9 nona, saya harus membersihkan dapur dahulu" ucap Rey sambil menunduk.

__ADS_1


"Sini, aku mau bicara denganmu" perintah Luna, Rey berjalan menuju sofa ia berdiri disebelah Luna duduk. Ia masih menunduk.


"Aku ingin meluruskan soal semalam. Apa yang kau ingat?" tanya Luna.


"Aku tak ingat apapun nona" Rey masih menunduk.


"Jangan berbohong!" bentak Luna, Rey terkejut.


"Aku hanya ingat kita berciuman begitu lama lalu aku tidak tahu lagi" Rey melihat ke arah Luna takut.


Wajah Luna memerah, itu adalah ingatan yang sama dengannya. Namun mengapa setelah itu mereka sama-sama tidak ingat.


"Maafkan aku nona, maafkan aku tidak memiliki keberanian untuk menyentuh nona" ujar Rey sambil memegang tangan Luna.


Luna melepaskan pegangan tangan Rey kasar.


"Baiklah aku percaya" Luna berdiri dan berjalan menuju kamarnya, ia merasa tak ada gunanya memaksa Rey karna ia tahu Rey adalah pria baik yang tidak mungkin berbohong.


"Buatkan aku makanan, aku lapar" ucap Luna.


Rey mengangguk, lalu ia segera mencuci tangannya dan bersiap memasak. Tak tahu apa yang ada dihatinya, setiap memasak untuk Luna hatinya selalu berbunga-bunga dan senang.


"Mana makananku?" Luna sudah mengganti pakaian dan duduk dimeja makan.


"Sebentar lagi nona" ujar Rey.


"Coba icipi ini" Rey menyuapkan sepotong daging kepada Luna, Luna menerima siapa. Rey.


"Waaah ini enak, cepat berikan padaku" kata Luna senang.


Rey menyelesaikan masakannya, Luna makan dengan lahap sambil terus memuji masakan Rey. Entah mengapa suasana hati Luna selalu baik saat makan masakan Rey.


"Huweeek.." Luna sedikit mual, ada jahe yang merasuk di tenggorokannya dan menyengat ke hidung.


Rey khawatir, ia memegang tengkuk Luna dan memijatnya pelan.


"Apa kau baik-baik saja?" Rey khawatir.


"Ambilkan aku minum"


Rey segera mengambil minuman hangat untuk Luna. Luna dengan cepat meminumnya, lalu ia mengusap perutnya yang kenyang.


"Astaga!!!" teriak Rey, wajahnya memucat.

__ADS_1


"Ada apa?" Luna bertanya heran.


"Apakah kau hamil nona???"


__ADS_2