
Dua hari setelah pernikahan, Bobby berkunjung ke apartemen sebelah yaitu apartemen Rey dan Luna. Ada yang ingin Bobby ceritakan pada Luna dan Rey.
"Apa kau yakin dengan rencana itu Bobby?" tanya Luna ragu.
Bobby mengangguk yakin.
"Bukankah semua orang memiliki kesempatan kedua dalam hidupnya? Aku ingin nona Yasmin juga merasa bahagia. Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh tuan Samuel" ujar Bobby yakin.
"Eemm kau benar, bagaimana menurutmu hubby?" Luna bertanya pada Rey.
"Sebaiknya kita memberikan Samuel pemahaman mengenai kehamilan terlebih dahulu agar dia paham sulitnya melewati masa kehamilan tanpa suami" kata Rey, Luna dan Bobby mengangguk-angguk setuju.
"Aku akan menyewa seorang wanita hamil untuk menceritakan pengalaman kehamilannya pada tuan Samuel dan juga aku akan membuat sutradaranya mengganti naskah drama sesuai keinginan kita namun itu hanya gimmick yang tidak dimasukan dalam drama sesungguhnya. Bagaimana?" Bobby memberi Ide.
"Lebih bagus bila kita bisa membuat Samuel menolong seorang ibu yang hendak melahirkan" usul Rey disambut anggukan setuju lagi dari Bobby dan Luna.
"Baiklah kita sepakat untuk melakukannya, dan aku juga akan meminta bantuan Anne. Dia akan menaruh rekaman suara tangisan bayi dikamar Samuel untuk menakut-nakutinya" Bobby terkekeh.
Rey hanya geleng-geleng kepala mendengar ide gila Bobby, namun Luna sangat sepakat dengan ide terakhir Bobby karena Luna tahu Samuel adalah pria pengecut yang takut dengan hantu.
"Baiklah kita semua sudah sepakat, besok pagi aku akan mulai rencana ini"
Keesokan paginya Bobby melajukan mobilnya ketempat yang ia tuju. Ia bertemu seorang wanita hamil, wanita itu adalah orang yang minta Bobby untuk menemui Samuel nanti, wanita itu juga penggemar berat Samuel. Wanita itu setuju karena Bobby berjanji akan mempertemukan wanita itu dengan Samuel.
"Kita akan bertemu dengannya dimana?" tanya wanita bernama Diana.
"Di tempatnya sedang syuting nyonya" kata Bobby, ia tersenyum membayangkan hal yang akan terjadi.
Tak lama mereka sampai di tempat lokasi syuting Samuel, terlihat Samuel baru saja menyelesaikan scene-nya dan duduk.
"Samuel, aku adalah penggemar beratmu" kata Diana mendekati Samuel.
Samuel memandang heran kepada wanita yang sedang hamil besar itu.
Bagaimana bisa wanita ini masuk dan langsung menemuiku?
Pikir Samuel, karena tak sembarangan orang biasa yang bisa masuk ke dalam lokasi syuting.
"Boleh kah aku ber-selfie denganmu?" kata wanita itu lagi.
Samuel mengangguk ragu, wanita itu dengan cepat mendekatkan dirinya dengan Samuel dan mengambil beberapa gambar bersama Samuel dengan ponselnya.
__ADS_1
"Terima kasih Samuel, ini ada hadiah untukmu" kata Diana sambil memberikan sebuah bingkisan pada Samuel.
"Apa ini?" tanya Samuel.
"Buah cherry, aku mendengar kabar tentangmu yang sangat suka buah itu" kata Diana bersemangat.
"Bolehkah aku duduk disebelahmu? Rasanya pegal lama-lama berdiri dengan kondisiku hamil besar seperti ini" Diana duduk disebelah Samuel.
Samuel memperhatikan Diana dengan tatapan aneh.
"Aku senang sekali bisa melihatmu Samuel, aku berharap anakku bisa sepertimu. Baik hati dan terkenal" ujar Diana sambil tersenyum.
"Apakah bayimu itu terasa berat?" tanya Samuel polos.
"Tidak juga, yang paling berat dari sebuah kehamilan adalah trimester pertama. Aku merasakan ngidam dan mual yang sangat parah, untunglah aku memiliki suami yang baik dan mau menjagaku setiap saat" Diana bercerita dengan wajah bahagia.
"Ngidam? Mual?" Samuel bertanya dengan rasa penasaran.
"Ya.. aku mengidam banyak hal mulai dari makanan yang sulit dicari sampai buah yang sedang tidak pada musimnya. Suamiku dengan susah payah mencarikannya untukku. Saat mual aku akan memuntahkan semua makananku" kata Diana dengan bangga.
"Kenapa suamimu berusaha sekeras itu untuk mengabulkan keinginanmu?" Samuel makin penasaran, ia teringat akan Yasmin yang sangat suka cherry.
"Kata orang tua dulu, bila tidak terkabul maka anakku akan banyak mengeluarkan air liur" ujar Diana yakin, tiba-tiba saja Samuel makin tertarik dengan ocehan Diana.
Diana mengangguk dengan tegas.
"Kau pegang ini.." Diana memegang tangan Samuel dan meletakkannya diatas perut besarnya, Samuel terkejut merasakan gerakan perut Diana.
"Ya Tuhan, apa itu? Apa kau lapar?" kata Samuel bingung.
Diana terkekeh mendengar perkataan Samuel.
"Itu adalah gerakan bayiku, sangat indah kan?" kata Diana tersenyum gembira, Samuel mengangguk ragu.
"Apakah tidak sakit saat bayi itu bergerak diperutmu?"
"Tidak, ini sangat menyenangkan. Suamiku sering sekali menempelkan wajahnya diperutmu saat malam hari, ia merasa sangat dekat dengan anaknya" Diana menerawang jauh.
Samuel seperti berpikir panjang setelah mendengar semua penjelasan Diana. Syuting akan dimulai kembali.
"Terima kasih Samuel, aku pamit" Diana berjabat tangan dengan Samuel dan meminta Samuel mengelus perutnya untuk terakhir kali lalu pergi meninggalkan Samuel.
__ADS_1
Samuel berjalan santai menuju tempat syuting akan dimulai.
"Ada sedikit perubahan naskah, kau bacalah sebentar kita akan mulai 5 menit lagi" ujar asisten sutradara menjelaskan pada Samuel.
"Dengan cepat aku akan bisa menguasainya" kata Samuel dengan sombong, ia membuka naskah itu dan matanya terbelalak.
"Apa ini?" pekiknya.
Gio yang berada disebelah Samuel penasaran dengan isi naskah itu. Ia mencoba melihat isi naskahnya dengan mengintip dari belakang Samuel.
"Bagaimana ini?" Samuel terlihat frustasi.
Dalam naskah perubahan itu, Samuel diminta untuk berakting bahagia saat tahu lawan mainnya positif hamil. Ia menggaruk kepalanya.
"Baik Sam, kita mulai syutingnya. Kau sudah siap"
Samuel menarik napas panjang, ia harus bersikap profesional walaupun sebenarnya ada yang aneh dengan naskah itu karena sebelumnya tidak ada adegan yang membuat lawan mainnya bisa hamil karena mereka masih tahap saling jatuh cinta.
"Ya... ya aku siap" ujar Samuel ragu.
Syuting dimulai, dari jauh Bobby menahan tawa melihat wajah Samuel yang frustasi.
"Cut!!!!! Ada apa denganmu Sam?" tanya Sutradara yang terlihat kesal dengan Samuel yang tidak dapat menghayati perannya.
"A...aku..Agrhhhh aku tak bisa melakukannya!!" Samuel akhirnya menjadi berteriak karena kesal.
Semua crew yang ada disana heran melihat sikap Samuel, biasanya Samuel selalu ramah karena pencitraan yang dibuatnya.
"Sam, kau tak boleh bersikap begitu" bisik Gio yang berlari mendekati Samuel.
Mata Samuel terbelalak ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya, ia langsung membungkukkan badannya dan meminta maaf.
"Ya sudah kau istirahat dulu, kami akan membicarakan naskahnya kembali" ujar sang sutradara, Samuel berjalan ke tempat duduknya dengan lunglai.
Bobby tertawa dengan puas, wajah Samuel yang seperti itu adalah favoritnya. Ia mendekati sutradara dan mengatakan sudah cukup dengan naskah pura-pura itu. Bobby memberikan amplop berisi uang kepada sutradara lalu pergi.
"Kejutan selanjutnya masih menunggumu wahai tuan aktor" Bobby menyeringai.
Bobby mampir ke restauran dan memberikan sebuah speaker kepada Anne, Anne bingung melihatnya. Speaker itu sudah di setel Bobby akan menyala pada pukul 12 malam selama 1 menit.
"Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Kau hanya perlu menyalakan speaker ini dan menaruhnya ditempat tersembunyi yang ada di kamar tuan Samuel"