
Pagi hari, Luna berencana membawa Avior dan Alioth untuk melakukan perawatan untuk bayi. Ia sudah janjian dengan Yasmin dan Erika. Sudah lama mereka tidak bertemu.
Armando yang mengantar Luna, tentu saja Rara sang kekasih ikut juga. Setelah sampai di sebuah baby spa di sebuah tempat dengan warna pastel dan wangi vanilla, Luna turun bersama kedua bayinya dan baby sitter.
"Apa kau mau turun juga Rara? Erika dan Yasmin sudah sampai sejak 5 menit yang lalu" tanya Luna pada Rara yang duduk dikursi bagian depan bersama Armando.
Rara mengangguk, ia ingin menyapa Yasmin dan Erika. Rara menoleh ke arah Armando dan tersenyum.
"Kau tunggulah disini sebentar, aku akan segera kembali" ucap Rara, Armando membalas senyuman Rara dan mengangguk.
Rara mengaitkan tangannya di lengan Luna, ia memang sangat dekat dengan kakak iparnya itu.
"Haii..." sapa Luna sambil cipika cipiki dengan kedua sahabatnya.
Yasmin dan Erika membalas sapaan Luna. Erika menatap Rara dengan heran, ini pertama kalinya Erika bertemu dengan Rara.
"Siapa dia?" tanya Erika sambil menatap Rara penuh tanda tanya.
"Dia adik Rey" jawab Luna santai.
"Adik Rey? Sejak kapan si kacamata punya adik yang manis sepertinya?" puji Erika sambil menggoda Rara.
"Sejak Bobby menemukannya" Yasmin menjawab terkekeh.
"Bobby?" Erika semakin heran.
"Nanti kita akan lanjutkan ceritanya didalam" ujar Luna.
Rara menahan tangan Luna untuk masuk.
"Kak, aku sampai disini saja. Yang penting aku sudah bertemu kak Yasmin dan Kak Erika" ucap Rara.
"Hemm.. kau mau berkencan dengan Armando ya?" goda Luna sambil tersenyum usil.
Rara menunduk malu, ia mengangguk pelan.
"Ya sudah pergilah, jangan sampai pangeranmu menunggu terlalu lama putri Rara" Luna menggoda lagi.
"Kakak..." Rara merengek manja saambil tersipu.
Luna mengusap rambut Rara dan masuk ke dalam mengikuti kedua sahabatnya. Sedangkan Rara keluar dari tempat baby spa itu menuju mobil Luna.
Armando menunggu Rara, ia berada di depan mobil Luna dan menoleh ke arah Rara yang sedang berjalan dengan senyuman manis ke arahnya.
"Apa kita jadi pergi?" tanya Rara pada Armando, Armando mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, semoga kencan kali ini tak akan ada masalah" ucap Rara sambil tersipu.
Armando juga terlihat malu-malu, ia membukakan pintu mobil untuk Rara. Dengan senang hati Rara masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, say.. emmm Armando" Rara masih malu memanggil 'sayang' pada kekasihnya itu.
Armando tersenyum dan memakaikan sabuk pengaman pada Rara lalu ia masuk ke dalam mobil dari pintu sisi lainnya.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Armando.
Rara mengangguk, ia berpikir sejenak.
"Aku ingin ice cream dengan topping buah" ucap Rara antusias.
"Baiklah tuan putri" kata Armando sambil menahan senyumnya.
Rara melirik ke arah Armando, ia melihat kekasihnya itu menaruh siku kanannya di dekat jendela mobil. Armando terlihat sangat cool dan tampan.
"Apa kau selalu terlihat tampan?" ucap Rara lalu ia menutup mulutnya yang keceplosan.
Kenapa aku harus mengatakan hal seperti itu? Aku terlihat sedang merayunya kalau begitu...
Gerutu Rara dalam hati, ia melirik perlahan ke arah Armando yang sedang memegang bibirnya sambil tersenyum malu.
"Apa kau juga suka?" tanya Rara, ia mencoba menoleh ke arah Armando dengan wajah riang.
"Emmm.. ya aku suka. Aku suka kau" jawab Armando, membuat wajah Rara memerah dan memanas.
Rara menutup wajahnya karena malu. Armando juga menahan senyumnya sambil sesekali melirik ke arah Rara yang masih menutup wajahnya.
"Apa kau tahu letak tempat makan ice cream yang enak?" tanya Rara setelah beberapa saat bisa mengendalikan dirinya.
"Ya aku tahu.. tak jauh dari sini. Lagi pula kita juga tak bisa pergi terlalu jauh karena aku harus menjemput nona lagi" ucap Armando, Rara mengangguk paham.
Suasana menjadi hening kembali, sesekali Rara teringat gombalan Armando tadi yang membuatnya tersenyum sendiri.
"Apa kau tak mau membagi senyuman itu padaku?" tanya Armando yang dari tadi memperhatikan Rara.
Rara terlihat gugup, ia ketahuan sedang memikirkan sesuatu oleh Armando. Rara memegang kedua pipinya yang mulai memanas lagi.
"Kita sampai, kau bisa mendinginkan wajahmu yang merah sejak tadi" ujar Armando dengan nada usil.
Rara hanya bisa menahan senyumnya, ia keluar dari mobil setelah Armando membukakan pintunya. Mereka berjalan beriringan, namun Armando tak memegang tangan Rara. Rara mengepal tangannya, ia terlalu malu untuk memulainya.
Setelah masuk kedalam kedai ice cream, Rara memesan ice cream, sedangkan Armando hanya memesan secangkir coklat hangat. Tak lama ice cream yang mereka pesan datang, Rara sangat senang. Ia langsung memakan ice creamnya.
__ADS_1
"Ini sangat enak.." ucap Rara.
Armando suka melihat ekspresi bahagia kekasihnya.
"Kau mau?" Rara menyodorkan ice cream yang sudah disendoknya.
Armando diam saja, ia hanya menatap mata bulat Rara yang memandang lurus padanya. Tiba-tiba Rara menarik kembali sendok ice creamnya.
Bila Armando mau, ini akan menjadi ciuman tidak langsung antara aku dan dia... Kyaaa....
Batin Rara melonjak, namun ia mengurungkan niatnya menyuapkan ice cream pada Armando.
"Kenapa? Apa kau tak jadi membaginya denganku?" tantang Armando yang sepertinya sudah bisa membaca apa yang ada dipikiran Rara.
"Emm... " Rara bingung menjawabnya, ia tersenyum kecut.
"Apa ini tentang ciuman tak langsung?" tebak Armando, sekali lagi wajah Rara memerah.
Armando tertawa kecil dengan ekspresi Rara yang sangat mudah ditebak olehnya.
"I..itu akan menjadi ciuman pertama untukku" ucap Rara pelan, Armando hampir tak mendengarnya.
Armando meraih tangan Rara yang masih memegang sendok yang berisi ice cream dan memasukannya ke mulutnya. Rara terkejut.
"Bagaimana ciuman pertamamu? Apakah cukup terasa?" goda Armando.
Rara menunduk malu, tentu saja ia tak merasakan apapun. Armando menatap lurus Rara, namun gadis itu menggigit bibirnya karena terlalu malu.
"Apakah itu bisa dihitung ciuman?" tanya Armando lagi, Rara menggeleng pelan.
"Tentu saja itu bukan apa-apa" sekali lagi Rara berkata dengan suara pelan.
Rara ingin meneruskan makan ice cream, ia mengambil tissue dan mengelap sendoknya. Armando terkekeh melihat tingkah Rara.
"Kenapa kau mengelapnya?" tanya Armando penasaran.
"I.. itu karena aku jadi membayangkan yang tidak-tidak bila makan ice cream dari bekas mulutmu" kata Rara malu.
"Membayangkan apa?" Armando bertanya lagi.
Rara menoleh ke Armando dengan ragu, ia menunjuk bibir Armando dari jauh. Armando menyentuh bibirnya.
"Apa bibirku terlihat buruk untuk dibayangkan?" ujar Armando dengan nada bingung.
"Bu..bukan begitu.. namun aku jadi memikirkan tentang sebuah ciuman langsung"
__ADS_1