
Rey mulai berpikir setelah mengetahui latar belakang James dan dia menduga bahwa James adalah mata-mata yang dimaksud oleh Bobby.
"Apa yang kau pikirkan hubby?" tanya Luna saat melihat Rey seperti sedang berpikir.
"Tidak apa-apa sweety, waktu makan siangku sudah hampir habis. Aku harus kembali ke restauran"
Luna memeluk erat Rey seperti tak mau ditinggalkan.
"Nanti kita akan bertemu lagi di apartemen" Luna enggan melepaskan pelukannya, ia menggeleng.
"Ulang tahunmu dua bulan lagi sweety, aku harus bisa mengumpulkan uang agar bisa memberikan hadiah yang bagus untukmu" ucap Rey sambil tersenyum.
"Baiklah jika itu alasanmu" Luna melepaskan pelukannya sambil cemberut.
"Kau akan terlihat lebih cantik saat tersenyum" goda Rey, Luna tak dapat menahan senyumannya.
Luna memajukan wajahnya, Rey mencium hidung Luna dengan lembut.
"Sampai bertemu nanti malam sweety"
Luna melambaikan tangannya.
"Aku akan menelponmu nanti" ucap Luna.
"Oke aku menunggumu"
Rey kembali ke restauran, hanya butuh beberapa menit untuk kembali. Bobby sudah menunggunya.
"Ada apa Bobby?" tanya Rey heran, tidak biasanya Bobby menunggunya didepan pintu belakang dapur.
"Sepertinya aku harus segera membuka kedok mata-mata itu" ujar Bobby terlihat gusar.
"Kenapa?" Rey menjadi khawatir.
"Aku takut membahayakanmu bila malam ini mata-mata itu bertemu dengan nyonya besar"
Rey menatap mata Bobby, lalu keduanya mengangguk. Bobby membisikan sebuah nama kepada Rey, mata Rey membulat.
"Apa kau yakin dengan itu?"
"Ya aku yakin, serahkan semuanya kepadaku. Semuanya akan baik-baik saja, ini sudah menjadi pekerjaan ku untuk selalu melindungimu Rey"
"Baiklah, aku percaya padamu"
Mereka berdua masuk kedalam restaruran bersama-sama seakan tidak ada yang terjadi.
♥️♥️♥️
Sudah waktunya pulang, Luna menunggu Rey diapartemen ia mencoba memasak untuk makan malam.
"Aku akan membuat kejutan untuknya, pasti dia akan terkejut dan langsung menciumku penuh cinta" harap Luna sambil tersenyum manis.
Luna membuka beberapa resep masakan yang ada di internet, Ia mengumpulkan bahan-bahan di atas meja dapur dan mulai memasak.
__ADS_1
"Sepertinya ini tidak sulit" pikir Luna.
Saat akan memecahkan telur ke dalam mangkok, hampir semua kulit telur itu masuk dan saat memasukan gorengan ke wajan Luna seperti tentara yang sedang berperang.
"Ya Tuhan, apa ini??!! Mengapa sulit sekali mengontrol minyak panas yang ada di wajan? Itu terus menerus menyiprat padaku. Heii apa masalahmu!!" Luna terus menerus mengomel pada wajan.
Dan hasilnya semua masakannya gosong dan tidak ada rasanya. Luna menatap masakannya dengan wajah yang sedih.
"Aku pulang.."
Tak ada jawaban apapun dari Luna, Rey melihat Luna yang sedang duduk bersedih di meja makan. Rey berdiri sebelah Luna.
"Kenapa kau sedih?" tanya Rey sambil mencium rambut Luna.
"Lihat ini, masakanku gagal semua" keluh Luna sambil memeluk Rey masih dalam keadaan duduk dikursinya.
Rey mencoba salah satu masakan Luna, rasanya getir karna gosong.
"Tidak terlalu buruk" hibur Rey.
"Benarkah? Tetapi aku sudah mencobanya dan rasanya sangat tidak enak" Luna menaruh kepalanya dimeja makan.
"Aku akan tetap memakannya" kata Rey.
Namun Rey bingung, lemarinya sudah tidak ada didekat kamar mandi belakang.
"Dimana lemariku?" tanya Rey.
Luna menunjuk kamarnya, Rey menepuk keningnya karena lupa. Ia masuk ke kamar untuk menaruh tas dan mengganti pakaian.
"Kau bisa mati bila memakannya" Luna melarang Rey.
"Benarkah?" Rey memakan lagi masakan Luna yang lainnya.
"Uhuukk uhukk... Aaaaa..." Rey memegang lehernya dan tergeletak di lantai, Luna panik langsung memegang Rey.
"Hubyy kau kenapa? Huaaaa..." Luna menangis, ia menggoyangkan badan Rey dengan cepat.
Rey tidak membuka matanya, membuat Luna semakin risau.
"Buka matamu hubby... cepat buka...!!"
"Hemmp.. Hahhaha.." Rey tertawa, Luna memukul tangan Rey pelan.
Rey langsung memeluk Luna.
"Aku benar-benar bisa mati bila terjadi apa-apa denganmu" ucap Luna sambil memukul dada Rey pelan.
"Masakanmu hanya gosong dan tak ada rasanya, itu tidak akan membunuhku sweety" Rey mengusap air mata yang ada diujung mata Luna, Luna memanyunkan bibirnya.
"Jangan mengulanginya lagi! Buang saja makanan itu dan buatkan aku makanan yang enak"
"Baiklah nona muda" Rey tertawa.
__ADS_1
"Aku tidak suka kau memanggilku begitu, rasanya aku seperti majikan yang kejam!" Luna bersungut-sungut.
"Aku tak pernah berpikir seperti itu tentangmu nona eeeh sweety"
"Biasakan lah untuk tidak memanggilku nona, atau kau akan kembali tidur di sofa!"
"Bila kau mulai mengancamku, aku merasa masih tidur di sofa hahhaa" Rey menggoda Luna.
"Apa kau ingin membuak ku menjadi marah?!"
"Tiidak sweety, kalau kita masih berdebat terus aku tidak akan pernah mulai memasak" Rey memeluk Luna agar kemarahannya hilang, Luna menatap Rey lalu tersenyum.
"Oke hubby, berikan aku makanan yang enak"
Luna duduk manis di kursi meja makan sambil memperhatikan Rey yang sedang memasak, diam-diam ia mengambil foto Rey yang sedang fokus memasak. Sementara itu, Bobby menemui Erika untuk mengambil sepatunya dikosan Erika. Dengan mengendap-endap Bobby kembali berhasil masuk ke kamar kos Erika.
"Mana sepatuku?" tanya Bobby sambil duduk di tempat tidur Erika.
"Ada didalam goodie bag itu"
Erika menunjuk ke arah goodie bag berwarna merah yang digantung di dekat lemari pakaiannya.
"Syukurlah sepatuku sudah selesai dicuci" Bobby menghela napasnya.
"Tadi pagi ibu kos mengantarkannya, ada surat cinta untuk James didalamnya" Erika tertawa geli.
"Benarkah? Hahaha aku akan menyampaikannya" Bobby ikut tertawa, seketika ia diam dan terlihat berpikir.
"Ada apa? Sepertinya kau memikirkan sesuatu" tanya Erika lalu berjalan mendekati Bobby.
"Ya benar, aku sedang memikirkan seorang mata-mata nyonya besar yang sedang mengintai Rey"
"Owh ya? Apakah kau sudah mengetahui orangnya?"
"Ya aku sudah mencurigai seseorang dan aku yakin dialah mata-mata itu" Kata Bobby sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur Erika.
"Buat apa dia memata-matai si kacamata?"
"Ya pastinya untuk mengetahui dimana kelemahannya, aku yakin nyonya besar sangat ingin menyingkirkannya"
"Tidak mudah menjadi suami dari seorang bos besar seperti nona muda"
"Rey adalah orang yang baik, aku tak pernah berpikir ada orang yang berniat mencelakainya"
"Ya kau benar, aku pun berpikir demikian. Apakah orang itu ada di restauran?"
"Aku rasa begitu, nyonya besar memiliki banyak cara untuk mendapatkan mata-mata"
"Siapa yang menjadi mata-mata nyonya selama ini?" Erika terlihat penasaran.
"Bisa siapa saja.. kemarilah dan peluk aku" Bobby bangun dan membuka lebar tangannya.
Erika tersenyum lalu memeluk Bobby.
__ADS_1
"Sebaiknya kau jujur padaku darling, sebelum aku benar-benar membuka semua bukti yang aku miliki"