
"Apa kalian sedang membicarakan ku?" Samuel tiba-tiba masuk dari arah pintu.
Seketika Yasmin gugup, Erika terdiam sedangkan Luna hanya menatap malas kepada mantan kekasihnya itu.
"Apa penyakit narsismu itu tak kunjung sembuh Sam?" sahut Luna kesal.
"Ckckck.. senang sekali melihat istri dan mantan kekasihku akur. Kalian tidak sedang memperebutkan ku kan?" Samuel terlalu percaya diri.
"Hentikan kata-kata mu itu Sam! Membicarakan mu hanya membuat kepala ku pusing" Yasmin ikut berbicara.
"Aku mendengar sayup-sayup mengenai ciuman, apa kau sedang menceritakan ciuman kita waktu itu" Samuel menggoda Yasmin, mata Yasmin melotot kesal ke arah Samuel.
Luna dan Erika saling pandang dan menahan tawa. Yasmin menutup mulut Samuel dengan tangannya.
"Diamlah" bisik Yasmin sambil memberi kode dengan matanya.
"Kenapa? Kita suami istri sudah semestinya kita bercumbu" Samuel menjawab dengan enteng, Yasmin memukul lengan Samuel.
"Diam Sam..." bisik Yasmin lagi, kali ini dengan nada mengancam.
"Apa kau keberatan Luna jika aku mencium Yasmin?" Samuel menoleh ke arah Luna, Luna menggeleng.
"Tentu saja aku sangat mendukung hal itu, bahkan jika kalian berencana membuat adik untuk Sheryl pun aku sangat senang" jawab Luna sambil melirik usil ke arah Yasmin yang berada di samping Samuel.
"Nah lihat.. Luna mendukung kita!" Seru Samuel bersemangat.
"Mendukung apa hah? Apa kau tak bisa membedakan antara diledek dan didukung? Cih.. kau benar-benar payah" ujar Yasmin kesal, ia melotot ke arah Luna.
Erika dan Luna menjadi segan berlama-lama disana, sepertinya Yasmin dan Samuel sudah menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya.
"Ehm.. karena tuan Samuel sudah datang dan makan siang sudah selesai, sepertinya aku harus kembali ke toko" ucap Erika sambil tersenyum usil.
"Kau benar Erika, ahh iya suamiku mengirim pesan dan memberitahu dia sangat merindukanku aku akan berkunjung ke kedai sebelum kembali ke hotel" Luna ikut menimpali.
"Tidak... Apa kalian berusaha mencari alasan untuk pergi?" Yasmin melirik dengan curiga kepada Luna dan Erika.
"Emm bukan begitu kak Yasmin, tapi ini sudah mau sore sebaiknya aku mengecek toko ku" kata Erika senyum yang dipaksakan.
"Benar Yasmin, jangan curiga seperti itu" Luna kembali menimpali kata-kata Erika.
Yasmin tak bisa menerima alasan mereka, ia masih menatap curiga kepada Erika dan Luna.
__ADS_1
"Melisa..." panggil Luna.
Melisa yang sedang menjaga Sheryl dikamar Yasmin keluar sambil menggendong Sheryl.
"Iya nona.." sahutnya.
"Sebaiknya kau pulang, tidak enak kau berada dikamar bersama Samuel bukan?" ajak Luna dengan nada iseng.
Melisa mengangguk, ia paham maksud Luna.
"Berikan Sheryl pada maminya, kau pulang bersamaku" ajak Luna.
Melisa mengikuti arahan Luna, ia langsung memberikan Sheryl kepada Yasmin. Yasmin menerima Sheryl dengan terpaksa. Erika dan Luna melambaikan tangan, bersama dengan Melisa mereka keluar dari apartemen Yasmin.
"Ini semua gara-gara kau!" hardik Yasmin kepada Samuel, ia berjalan masuk ke kamar.
"Bereskan bekas makan siangku dengan teman-teman tadi" perintah Yasmin, Samuel hanya menghela napas.
Ia malah mengikuti Yasmin masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Yasmin heran melihat Samuel ikut masuk kamar bersamanya.
"Aku ingin mengganti pakaian dulu, kau sepertinya ingin sekali aku dekati" ujar Samuel senyum menggoda, Yasmin memalingkan wajahnya dari Samuel.
"Apa kau ingin menyentuh tubuhku dalam keadaan sadar Yasmin?" Samuel menyadari Yasmin memperhatikannya.
"Ehm... Aku mau ke kamar mandi, badanku lengket semua" ujar Yasmin, ia meletakan Sheryl yang sudah tertidur pulas di boxnya dan berjalan cepat ke kamar mandi tanpa menoleh ke Samuel.
Samuel tersenyum melihat Yasmin yang terlihat malu karena kepergok olehnya. Ia mendekati box Sheryl.
"Apa kau sudah siap untuk punya adik Sheryl?" ucap Samuel, ia mengusap kepala Sheryl dan mencium keningnya.
Setelah itu Samuel keluar dari kamar untuk membereskan apa yang Yasmin perintahkan. Yasmin yang sedang berada dikamar mandi menenangkan dirinya.
"Ada apa dengan mataku ini? Kenapa aku malah memperhatikan Samuel dan ketahuan olehnya?" Yasmin memaki dirinya sendiri sambil bercermin di dalam kamar mandi.
"Tidaakkk, dia pria b***h yang tak punya malu! Sangat menjijikan bila aku jatuh cinta padanya!" Gumam Yasmin, ia membasuh wajahnya berkali-kali untuk menyadarkan dirinya.
♥️♥️♥️
Luna berencana menemui Rey, namun ia berkunjung ke restauran terlebih dahulu. Ia menemui James lalu James memberikan laporan mengenai restauran. Luna membaca laporan itu dengan seksama.
__ADS_1
"Bagus James, kau memang bisa aku andalkan" ucap Luna sambil tersenyum, James hanya mengangguk.
"Terima kasih nona"
Luna menatap James dari kaki sampai kepala, James ikut melihat dirinya sendiri dari bawah hingga ke atas. Namun James malas bertanya apa yang sedang Luna perhatikan.
"Emm James, berapa usiamu sekarang?" tanya Luna tiba-tiba.
"Usiaku? 30 tahun nona.." jawab James singkat.
"Menurutku kau sudah cukup pantas untuk menikah, apa kau belum berpikir untuk menikah?" tanya Luna penasaran.
"Apa ini ada hubungannya dengan Anne?" James langsung curiga.
"Tidak juga, aku hanya penasaran saja. Apa yang membuatmu belum menikah hingga saat ini?"
"Apakah itu sebuah pertanyaan yang harus aku jawab?" James balik bertanya.
"Ah.. tidak. Itu hanya rasa penasaran ku saja. Namun aku ingin bertanya langsung padamu. Bila kau keberatan untuk menjawabnya tak masalah James" ujar Luna sambil mengalihkan pandangannya dari James.
"Baiklah" James menjawab enteng lalu memutar badannya hendak keluar dari ruangannya.
"Tunggu James.." Luna menghentikan langkah James, James menoleh ke arah Luna kembali.
"Apa kau serius dengan hubunganmu dengan Anne?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna, ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya.
James menghela napasnya.
"Kau bertanya begitu karena saat ini Anne sedang dekat dengan pria lain?" James bertanya tanpa ragu, Luna tersentak namun ia tak heran karena James bukan pria b***h yang mudah dikelabui oleh siapa pun.
"Aku tak bicara begitu James, hanya saja..." Luna menggantung kata-katanya.
"Hanya saja Anne sangat mencintaiku dan berpikir cintanya bertepuk sebelah tangan?" Sekali lagi James bisa menebak apa yang terjadi.
"Hemm.." Luna menjawab sesingkat mungkin.
James menghela napas lagi. Ia duduk dikursi yang didepan mejanya.
"Apakah menurut nona pria seusiaku masih pantas bermain-main dengan sebuah perasaan dan hubungan?" James menatap tajam ke arah Luna.
Luna menggeleng.
__ADS_1
"Kau sudah cukup matang James, aku yakin Bob juga ingin kau segera menikah dan memberikannya cucu" kata Luna santai.
"Aku mencintai Anne, tapi aku tak bisa memaksa Anne melakukan suatu hal yang menyeramkan bagi dirinya"