Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
S2 - Salah Duga


__ADS_3

"Gaun pengantin? Untuk apa?" tanya Yasmin heran.


"Nanti aku akan menceritakannya padamu, ini sedikit g*la" ucap Luna sambil tertawa kecil.


"Aku sedang syuting saat ini" kata Yasmin dengan suara pelan.


"Hahaha Oia aku baru ingat kau sudah memulai program keluarga kecilmu dengan Sam" Luna terkekeh.


"Diamlah! Bagaimana dengan pemotretan si kembar? Aku tak sabar melihat hasilnya"


"Sedikit lagi pemotretan akan selesai, aku dan Rey juga mengambil bagian kecil" kata Luna dengan bangga.


"Kau benar-benar tak mau kalah dariku" Yasmin juga terkekeh.


"Hahaha aku hanya tak ingin melewatkan kebersamaanku dengan Rey dan putra-putra ku. Baiklah, aku harus menutup telponnya. Nanti aku aku akan mengunjungimu, kabarkan aku saat kau tak sibuk" kata Luna lagi.


"Aku akan meluangkan waktuku untukmu besok, datanglah" ucap Yasmin.


"Oke, bye.."


"bye.."


♥️♥️♥️


Keesokan harinya, Luna datang ke galeri Yasmin. Wajahnya terlihat menahan senyum terus menerus. Yasmin sangat penasaran dengan wajah Luna tersebut, Luna datang bersama Rara.


Yasmin langsung berdiri, ia memutari tubuh Rara.


"Hmm.. gaun seperti apa yang kau inginkan Rara?" tanya Yasmin.


"Aku hanya ingin gaun sederhana yang cocok dengan jas yang akan dipakai oleh Armando" jawab Rara agak gugup karena Yasmin menatapnya dengan wajah heran.


"Apakah kekasihmu ikut kesini?" tanya Yasmin lagi.


Rara mengangguk pelan.


"Kenapa kau tidak mengajaknya masuk bersamamu?" Yasmin memukul kepalanya pelan.


Luna hanya duduk sambil sibuk dengan ponselnya. Ia membiarkan Yasmin mengerjakan tugasnya dengan baik.


"Baiklah aku akan memanggilnya" ucap Rara sambil berjalan keluar.


Yasmin menghela nafas sambil tersenyum.


"Kau tidak ingin membuat gaun juga Luna?" tanya Yasmin.


"Nanti saja, urus Rara dulu. Ini pertama kalinya ia membuat sebuah gaun" ujar Luna santai.


"Mereka masih muda namun sudah berani memutuskan untuk menikah" kata Yasmin dengan wajah senang.

__ADS_1


Baru saja Luna akan membuka mulutnya, Rara sudah kembali bersama Armando.


"Kemarilah" ujar Yasmin, ia mengambil catatannya dan mulai mengukur.


Yasmin selalu turun tangan sendiri dalam membuat gaun atau pun baju pesanan orang-orang terdekat, hanya pesanan khusus dari pelanggan lain yang ia kerjakan sendiri. Selain itu ia hanya mendesign saja.


"Ukuran tubuhnya tak berbeda jauh denganku sebelum menikah" puji Yasmin.


Rara memperhatikan tubuh Yasmin yang nampak masih bagus.


"Jangan melihatku seperti itu, berat badanku bertambah setelah melahirkan Sheryl" kata Yasmin sambil tertawa.


Yasmin kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah mengukur tubuh Rara, ia memanggil Armando untuk mendekat.


"Apakah boleh aku menyentuh kekasihmu Rara?" tanya Yasmin dengan nada usil.


Rara menunduk malu dan mengangguk.


"Hati-hati bila menyentuhnya, dia bisa garang seperti Bobby jika kau salah menyentuh bagian tubuhnya" Luna ikut berbicara dengan enteng.


Yasmin tertawa, ia paham semua pengawal Luna adalah pria kaku dan serius bila bekerja.


"Baiklah, kau hanya ikuti arahanku dan aku tak akan menyentuh bagian yang dilarang" kata Yasmin.


Armando mengangguk paham. Namun Armando bergerak sangat kaku membuat Yasmin menjadi gemas.


"Bisakah kau pinjamkan aku remote agar dia bisa bergerak lebih santai untuk mempermudah pekerjaanku Luna?" gerutu Yasmin sambil berkacak pinggang.


"Kau saja yang mengarahkannya, aku takut kesabaranku hilang dan akhirnya aku menyentuh bagian terlarang" ujar Yasmin lagi.


"Aku tidak mau, itu pekerjaanmu. Armando, cobalah bertindak luwes seperti kau memperlakukan Rara. Atau nona kejam itu akan memakanmu" ledek Luna, ia kembali sibuk dengan ponselnya.


Yasmin mendengus kesal dan menoleh ke Armando.


"Kali ini lakukan dengan benar atau setelan jas mu akan tidak pas saat kau gunakan" ucap Yasmin dengan nada sebal.


"Baik nona" Armando membungkukkan badannya tanda meminta maaf.


Rara menahan senyumnya, memang Armando pria yang sangat kaku bila berhadapan dengan Luna, mami juga Yasmin. Entah apa yang membuatnya begitu.


"Baik, rentangkan kedua. tanganmu" ucap Yasmin.


Armando merentangkan tangannya dengan sigap.


"Bagus.." Yasmin mulai mengukur tubuh Armando.


Perlahan-lahan Yasmin mengarahkan pria berbadan tinggi itu hingga pekerjaannya mengukur selesai.


"Fiuuuhh.. selesai"

__ADS_1


Yasmin duduk di kursinya, menyenderkan tubuhnya sambil menghela nafas.


"Yasmin, bagaimana dengan syuting perdana mu kemarin?" tanya Luna, saat Armando dan Rara sudah keluar dari ruangan Yasmin.


"Ya begitulah, sangat melelahkan dan memusingkan. Aku harus banyak tersenyum virtual membuat wajahku menjadi kesemutan"


"Hahaha kau terlalu berlebihan"


"Itu tidak berlebihan Luna, entah apa yang Sam lakukan hingga ia bisa bekerja bertahun-tahun dalam dunia itu. Sehari saja rasanya aku seperti tersiksa" keluh Yasmin.


"Tidak sesulit itu Yasmin, cobalah untuk santai. Jadi dirinya sendiri" pesan Luna.


"Aku tidak mungkin melakukannya. Bisa-bisa aku terus memukul Samuel didepan kamera" ujar Yasmin sambil cemberut.


"Bukankah kau mencintainya? Kenapa harus selalu marah?" Luna terlihat heran.


"Entahlah, aku tak tahan untuk selalu mengomel padanya. Apapun yang ia lakukan terasa salah dimataku, ya walaupun aku memang mencintainya" kata Yasmin seraya berpikir.


"Apa ada hal yang mengganjal pikiranmu?" tanya Luna penasaran.


"Aku tidak tahu, hanya saja aku seperti belum bisa menerima aku harus menikah dengannya karena kecelakaan. Perasaan bersalah selalu terbayang dan aku tak bisa berhenti menyalahkannya"


"Kalian melakukannya berdua, itu sangat tak adil untuk Sam jika kau hanya menyalahkannya"


"Tapi Luna.. bukankah lebih baik jika aku dan Sam jatuh cinta lalu menikah dulu. Pernikahanku dan Sam sangat menyedihkan, bahkan dia sempat menolakku saat itu"


"Yasmin... lihat mataku. Sheryl adalah bukti nyata kisah cinta kalian. Tuhan yang menggariskan pernikahanmu dan Sam dimulai dari sebuah kesalahan, jangan terpaku dengan masa lalu. Kau memiliki masa depan yang baik bersamanya" nasihat Luna, ia menggenggam jemari Yasmin untuk meyakinkan sahabatnya itu.


Yasmin mengangkat kedua bahunya, ia masih belum yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya.


"Cobalah untuk bersikap lembut padanya, cinta kalian baru dimulai" Luna menatap Yasmin dalam-dalam.


"Ya baiklah, aku akan mencobanya. Namun aku tak yakin ia bisa langsung menerima sikap baikku padanya. Sam pasti mengira aku sakit dan mengajakku ke psikiater" Yasmin terbahak, Luna pun mengangguk setuju sambil tertawa.


"Hmm... kira-kira gaun seperti apa yang bagus untuk Rara?" Yasmin terlihat mulai memikirkan hal lain.


"Buatlah gaun dengan rok diatas lutut, ia akan terlihat manis. Oia berikan juga warna merah muda lembut untuk memperlihatkan keanggunannya" kata Luna.


Yasmin mengernyitkan dahinya.


"Apa kau serius Luna? Bukankah sebaiknya Rara menggunakan gaun berwarna putih untuk pernikahannya?"


"Pernikahannya? Oh ya.. sepertinya kau salah paham Yasmin"


"Maksudmu?"


"Aku mengajak Rara dan Armando untuk membuat gaun juga setelan jas untuk pernikahan Anne. Gaun pernikahan yang aku minta padamu bukan untuknya"


"Lalu untuk siapa?" Yasmin menjadi penasaran kembali.

__ADS_1


Luna mengulum senyumnya.


"Untuk mami"


__ADS_2