
"Itu tidak lucu Gio!" balas Yasmin yang menganggap ucapan Gio adalah sebuah lelucon.
Namun sayup-sayup terdengar suara sirene ambulans.
"Apakah itu benar-benar suara ambulans?" Yasmin seketika khawatir.
Luna meminta baby sitter mengambil Alioth dari pangkuan Yasmin karena ia bisa menduga hal buruk sedang terjadi.
"Ya baik, aku akan segera kesana" Yasmin menutup telponnya, ia mengambil tas kecilnya.
"Ada apa Yasmin?" Luna ikut khawatir.
"Sam kecelakaan di tempat syuting dan saat ini ia pingsan" ucap Yasmin yang terlihat sangat kalut.
"Aku akan mengantarmu ke sana" ujar Luna.
Yasmin mengangguk dan berjalan mendahului Luna keluar dari ruangannya. Armando sudah bersiap dimobil dan dengan arahan dari Yasmin, mereka segera melaju menuju rumah sakit.
"Luna, kau tak perlu menemaniku. Banyak wartawan disini, aku takut hal itu akan mengganggumu dan si kembar"ujar Yasmin saat tiba di rumah sakit, Luna mengangguk paham.
Sebelum keluar dari mobil, Yasmin menggunakan kacamata hitam dan selendang untuk menutupi wajahnya. Namun para wartawan sudah tahu bahwa ia adalah istri Samuel. Gio yang sudah menunggu Yasmin segera membantunya untuk dapat keluar dengan mudah dari kerumunan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yasmin pada Gio.
"Dokter masih memeriksanya" ucap Gio sambil berjalan beriringan dengan Yasmin menuju ruangan Samuel.
"Apakah kepalanya terbentur dengan keras hingga dia kehilangan banyak darah?" tanya Yasmin lagi.
Gio menggeleng.
"Kakinya terkilir dengan cukup fatal, ia histeris dan merasa tak berguna lalu ia menangis hingga pingsan" ucap Gio membuat Yasmin menepuk keningnya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Yasmin masih terlihat sedikit khawatir.
"Kau akan melihatnya, ini ruangannya"
Gio berhenti disebuah ruangan dimana ada dua orang bodyguard tepat di depan pintu. Mereka membuka pintu untuk Yasmin dan Gio mempersilahkan Yasmin masuk seorang diri. Saat masuk dilihatnya Samuel masih tertidur dengan posisi kaki dibalut dan dinaikan ke atas. Yasmin menghela nafasnya.
"Sam.." panggil Yasmin sambil melipat kedua tangan didepan.
Perlahan Samuel membuka matanya.
__ADS_1
"Istriku..." Samuel merajuk dengan wajah sedih.
"Lihat tubuhku yang sempurna.." ucap Samuel.
Yasmin memutar matanya karena kesal dengan kenarsisan Samuel yang tak luntur walaupun kondisinya sedang lemah.
"Kakimu hanya terkilir Sam.." kata Yasmin sambil mendekat ke arah ranjang Samuel.
Samuel langsung memeluk tubuh Yasmin saat istrinya itu sudah cukup dekat dengan tubuhnya.
"Kau akan segera sembuh Sam.." ucap Yasmin sambil menepuk lengan Samuel yang besar.
"Kau harus merawatku dengan baik" ucap Samuel dengan tatapan memohon.
Yasmin menghela nafas lagi, ia tahu suaminya akan meminta untuk dimanjakan selama sakit.
"Asal kakimu benar-benar sakit dan bukan bagian dari dramamu maka aku akan merawatmu sungguh-sungguh. Tapi jika ternyata semua ini hanya kebohongan persiapkan dirimu untuk kemarahanku yang sesungguhnya" kata Yasmin dengan nada mengancam.
Samuel menelan ludahnya pelan, mata Yasmin yang menatap lurus padanya dan kata-kata yang penuh penekanan itu membuat bulu kuduknya berdiri.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya kakiku ini benar-benar sakit?" tanya Samuel sambil melepaskan pelukkannya.
"Aku ingin bertemu dokter dan menanyakan kondisimu saat ini" ucap Yasmin sambil melangkah pergi.
Yasmin menoleh dan mengangguk paham. Diluar Gio masih menunggu Yasmin sembari duduk.
"Kau sudah melihatnya?" tanya Gio.
"Apa kau pikir Sam sudah menjadi hantu sehingga aku sudah tak bisa melihatnya?" jawab Yasmin ketus karena kesal dengan pertanyaan Gio yang ia rasa menyebalkan.
"Oh ya.." Gio menggarukk leher belakangnya sambil menunduk malu.
"Aku ingin bertemu dengan dokter yang merawat Sam" kata Yasmin sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Gio mengantarkan Yasmin ke ruangan dokter lalu ia masuk.
"Kondisi Samuel cukup memprihatinkan nyonya, bagian yang terkilir menyebabkan retak pada tulang pergelangan kakinya. Setelah operasi butuh waktu cukup lama untuk penyembuhan dan berjalan normal kembali" ucap dokter.
Yasmin menutup matanya menahan kesedihan, Samuel akan terpukul bila ia tahu yang sesungguhnya.
"Bisakah operasi ditunda besok? Aku ingin ia dalam kondisi yang benar-benar stabil sebelum operasi dilakukan" pinta Yasmin.
__ADS_1
"Ya tentu saja, kondisi mental pasien juga menjadi pertimbangan untuk kami" kata dokter sambil tersenyum.
"Terima kasih dokter" Yasmin tersenyum miris.
Setelah beberapa lama Yasmin berbicara dengan dokter ia keluar. Matanya agak memerah.
"Sepertinya Sam harus istirahat agak lama Gio" ucap Yasmin lesu.
"Tenanglah Yasmin, Sam tidak akan mendapat masalah apapun dengan syuting dan kontrak. Pihak produksi akan bertanggung jawab penuh" kata Gio.
Yasmin menatap heran pada Gio, ia marah dengan apa yang Gio ucapkan.
"Apa hanya itu yang ada dipikiranmu Gio? Sam terluka dan kontrak yang kau pikirkan?" Air mata Yasmin mulai menetes, yang ada dipikiran Yasmin adalah cara memberitahu Samuel kenyataan sebenarnya.
Yasmin takut Samual akan down dan hal itu membuat Samuel menjadi putus asa.
"Bu.. bukan itu maksudku Yas.."
Belum selesai Gio menyelesaikan kata-katanya, Yasmin sudah berjalan cepat meninggalkan Gio dan masuk ke ruang rawat Samuel. Samuel terlihat santai sambil memainkan ponselnya, sepertinya aktor terkenal itu belum tahu kondisinya.
"Sam.. apakah kau merasa baikan?" tanya Yasmin dengan nada khawatir, ia pun sudah menyeka air matanya.
"Ya aku baik, namun kaki terasa sangat nyeri. Kapan aku akan dioperasi?" Jawab Samuel membuat Yasmin menggigit bibirnya menahan sedih.
"Besok, saat ini semuanya sedang dipersiapkan. Kau ingin makan sesuatu?" Yasmin membuka sebuah parsel buah yang ada di meja kecil dekat ranjang Samuel.
"Aku ingin makan steak" kata Samuel asal.
"Baiklah.." Yasmin bergegas memesannya via online untuk Samuel.
"Aku ingin jus jeruk, tenggorokanku terasa panas" kata Samuel lagi.
"Aku akan meminta Gio membelikannya untukmu" kata Yasmin bergegas keluar dari ruangan dan meminta Gio membelinya untuk Samuel karena ia lupa membelinya untuk Samuel tadi.
Setelahnya Yasmin kembali menemui Samuel dengan senyum palsu untuk menutupi keresahannya.
"Sepertinya buah apel itu enak, bisakah kau memotongnya untukku?" kata Samuel sambil melirik ke arah parsel buah yang sudah dibuka sebagian oleh Yasmin.
Yasmin mengangguk dengan cepat, ia mengambil pisau yang ada di laci meja dan memotongnya agak kecil agar Samuel dengan mudah bisa memakannya. Saat suapan kedua, Samuel memegang tangan Yasmin dan menatapnya dalam.
"Kau sangat cantik hari ini, boleh aku menciummu?" ucap Samuel, Yasmin tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Samuel mendekati wajah Yasmin, Yasmin menutup matanya terlihat ada sedikit air mata yang hampir menetes diujung matanya. Samuel tidak mencium Yasmin namun ia menyelipkan rambut Yasmin ke belakang telinganya.
"Apa aku akan mati? Sehingga kau menuruti semua permintaanku?"