
Luna sangat sedih dengan vonis dokter, namun segala kemungkinan masih ada selama ia menjalankan hidup sehat dan tidak stress
"Aku tidak merasa stress akhir-akhir ini" keluh Luna kesal saat perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Orang yang stress tidak merasakan stress yang sebenarnya sweety. Yang penting bila ada yang mengganggu pikiranmu, kau harus menceritakannya padaku agar kita bisa mencari solusi bersama" kata Rey menghibur Luna.
Luna mengangguk namun wajahnya masih cemberut.
"Kita kencan malam ini, sepertinya sudah lama sekali kita tidak pergi berdua menghabiskan waktu" kata Rey sambil tersenyum.
Luna diam saja, ia menatap Rey dengan tatapan sedih.
"Kau tak mau kencan denganku sweety?"
"Tentu saja aku mau, tapi suasana hatiku sedang tidak baik" ucap Luna manja.
"Kita akan berjalan-jalan sebentar sampai suasana hatimu mulai membaik"
Luna mengangguk namun senyum belum terlihat diwajahnya. Rey menghentikan mobil di taman yang ada didekat apartemen, ia mengajak Luna mengelilingi danau yang ada disana.
"Kau tahu hubby, aku sangat takut tak bisa memberikanmu keturunan dan kau akan berpaling dariku" Luna terdengar sangat sedih dan stress.
"Beritahu padaku, bagaimana cara agar kau percaya padaku bahwa aku sangat mencintaimu dan tak ada sedikitpun terpikirkan dikepalaku untuk jauh darimu"
Luna menatap Rey dalam, ia benar-benar dalam situasi yang tidak menyenangkan.
"Tapi aku bukan wanita yang sempurna hubby, bisa jadi kau tak akan pernah memiliki keturunan dariku" ucap Luna frustasi.
"Itu semua yang membuatmu stress sweety. Cobalah berpikir positif agar nanti hasil testpack mu akan positif juga" hibur Rey membuat Luna menahan senyumnya.
Luna menghela napasnya.
"Ini ujian terberat dalam hidupku. Sebelumnya aku tak pernah merasa setakut ini"
Rey merangkul pundak Luna.
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, bahkan orang yang lahir dengan buta bisa melihat dengan kekuasaan Tuhan. Kau harus percaya itu"
Luna mengangguk paham, ia menaruh kepalany di dada Rey. Malam itu terasa sangat syahdu dan Luna mulai merasa bebannya berkurang sedikit demi sedikit.
♥️♥️♥️
Bobby menunggu Samuel di lokasi syuting, namun Samuel tak terlihat disana. Para crew mengatakan Samuel kabur dari lokasi sejak siang.
"Kau mencari Sam?" tanya Gio yang heran melihat Bobby terus mondar mandir disana.
Bobby menoleh ke Gio dan mengangguk.
"Bila sedang kalut dia akan pergi ke bar yang ada di jalan xx. Temui dia disana dan bawa dia kembali untuk syuting, aku sedang malas mengurusnya" ujar Gio lalu menaiki taxi untuk pulang.
Tanpa pikir panjang Bobby langsung menuju bar yang dimaksud oleh Gio. Ternyata benar, Samuel sedang disana, ia termenung didepannya ada sebuah gelas bir besar yang belum tersentuh.
"Apa kau butuh teman untuk minum?" Bobby mengagetkan Samuel, melihat Bobby Samuel hendak lari namun Bobby menarik kerah leher Samuel dan menyuruhnya duduk kembali.
"Kau mau apa?" ujar Samuel dengan suara pelan, ia melihat sekelilingnya.
"Aku hanya ingin menemani kau minum tuan" kata Bobby sambil memesan bir yang sama dengan Samuel.
"Kau ke sini untuk mengerjaiku lagi!" seru Samuel kesal.
Bobby menggeleng sambil tersenyum menyeringai.
"Aku sudah cukup mengerjaimu dua hari ini, sekarang saatnya aku membuka matamu lebar-lebar agar kau bisa membuat keputusan yang benar dalam hidupmu"
Bobby meneguk bir yang baru saja datang didepannya.
"Kau membicarakan Yasmin?" Samuel menjadi heran, Bobby mengangguk.
"Berpikirlah dengan jernih, kau harus tahu kepopuleran dan pencitraan yang kau junjung tinggi saat ini tak akan ada artinya dimasa tuamu nanti"
"Saat ini aku sedang membangun karirku dan aku berada dipuncak kepopuleran" jawab Samuel dengan nada sedikit sewot.
__ADS_1
"Puncak? Hahaha bila kau tahu seorang pendaki, ia akan naik ke puncak dan pada waktunya ia harus turun. Saat turun apa yang akan kau lakukan? Berusaha naik lagi? Itu akan menjadi sulit tuan" ledek Bobby, hal itu membuat Samuel mulai berpikir.
"Bila suatu saat karir yang kau banggakan itu sudah turun, tak akan ada satupun orang yang akan menoleh padamu dan kau tahu siapa yang akan tetap bersamamu?"
Samuel menggeleng.
"Anakmu! Dia akan tetap menjadi anakmu apapun yang terjadi! Bila istrimu pergi ia akan menjadi bekas istri namun bila anakmu pergi dia akan tetap menjadi anakmu. Kau harus sadar itu sebelum semua terlambat"
"Saat ini aku bisa menikah dengan siapapun yang aku mau dan bisa memiliki anak dengan siapapun" Samuel tetap membuat alasan.
"Ya mungkin saja kau bisa melakukannya saat ini, silakan mencoba. Namun tidak ada yang tahu jika Tuhan menghendaki kau hanya memiliki anak dari nona Yasmin" Bobby menyeringai, ia meneguk lagi birnya.
"Bila aku jadi kau, aku tak mau mengambil resiko. Lagipula apa jeleknya nona Yasmin? Ia wanita berbakat, designer terbaik dikota ini. Kau bayangkan bila ia menjadi istrimu, semua pria dikota ini akan iri padamu sepanjang sisa hidupmu" sambung Bobby membuat Samuel berpikir lagi.
"Apa untungnya kau menjelaskan semua ini padaku?!" ujar Samuel penasaran.
"Nona Yasmin berjasa dalam pernikahanku, ia membuat istriku bahagia dengan gaun yang ia buatkan khusus untuknya. Aku tak tega melihatnya menangis memimpikan sebuah pernikahan indah untuk dirinya sendiri. Dan aku merasa kau harus menikahinya lalu jadilah pria sungguhan dengan bekerja sepenuh hati untuk keluargamu nanti" Bobby berkaca-kaca mengatakannya, ia ingat semua jasa kedua orang tuanya.
"Apa Yasmin yang memintanya?"
"Hahhaa tidak, dia bahkan sangat jijik padamu"
Samuel mendengus kesal, ia melirik kesal ke arah Bobby dan meminum birnya.
"Aku sudah mengajaknya menikah tadi siang namun ia menolakku" kata Samuel membuat Bobby terkejut.
"Itu baru percobaan di awal, buatlah kejutan manis untuknya. Semua wanita suka kejutan namun jangan buat kejutan murah untuknya karena nona Yasmin bukan type wanita yang mudah ditaklukan. Mungkin kau bisa diskusi dengan Rey, karena nona Yasmin hanya pernah bertekuk lutut padanya"
Samuel mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pria itu! Aku tak sudi melakukannya!" bantah Samuel.
"Itu semua terserah padamu, namun di masa depan aku yakin kau akan menyesal setelah menikah dengan wanita selain nona Yasmin!" ujar Bobby menghabiskan bir lalu membayar billnya.
"Aku harus pergi, kau jangan terlalu lama berpikir karena pria mapan dan tampan yang suka pada nona Yasmin akan mendahuluimu" Bobby tertawa puas dan berjalan keluar bar.
__ADS_1
Samuel menatap Bobby yang sudah menghilang keluar dari bar, ia mulai berpikir.
"Bagaimana bisa orang yang paling ku benci bisa mempengaruhi pikiranku sampai sejauh ini?"