Nona Muda Kejam Kesayangan Ku

Nona Muda Kejam Kesayangan Ku
Tipu Muslihat #1


__ADS_3

"Istri?" Wanita itu menarik tangannya yang dipegang kasar oleh Luna.


"Ya dia suamiku! Dan kau sudah menyentuhnya tanpa izinku!" seru Luna sepertinya sangat marah, Rey memandang heran kepada Luna.


Apakah saat ini nona sedang cemburu padaku?


Pikir Rey dalam hati, ia merasa senang bila hal itu benar.


"Benarkah wanita galak ini istrimu pria tampan?" tanya wanita itu seolah tak percaya.


Rey hanya mengangguk sambil menahan tawa. Luna melirik sinis kepada Rey.


"Baiklah, aku tak jadi meminta nomor ponselmu. Istrimu sangat galak!" ucap wanita itu lalu pergi.


Ingin sekali Luna memukul wanita yang menyebalkan itu, namun Rey menahannya.


"Sudah sudah ayo kita pulang" Rey memegang kedua tangan Luna dan mengajaknya ke kasir.


Luna pulang berbelanja dengan wajah kesal, ia meruntuki dirinya sendiri karna ketika hendak membayar belanjaannya ia bertengkar lagi dengan pengunjung lain karna menatap Rey terlalu lama.


Padahal selama di pasar swalayan hampir semua pria yang melihat ke arah Luna tanpa berkedip di sana namun Luna tidak menggubrisnya.


"Aku akan melaporkan wanita itu ke polisi" Seru Luna saat mobil sudah berjalan menuju apartemennya.


"Jangan marah lagi nona, suamimu ini tidak akan berpaling kemana pun" goda Rey membuat wajah Luna menjadi merah.


"Aku menyesal ikut ke sini!" serunya dengan nada kesal.


Rey menahan tawanya, ia melihat ke arah Luna dengan tatapan sayangnya.


"Nona sudahlah jangan marah terus, aku tak paham apa yang membuatmu berteriak terus menerus selama di dalam tadi" ucap Rey polos.


"Ya tentu saja aku tak suka milikku disentuh dan dilihat oleh orang lain!" Luna menutup mulutnya, ia memalingkan wajahnya dari Rey sambil sekali lagi mengutuk dirinya.


"Milikmu?" Rey berpikir sejenak.


"Maksudnya kau tak suka aku disentuh dan dilihat wanita para wanita itu?" wajah Rey memerah dan menjadi sedikit malu.


"Ya tentu saja, dalam kontrak kau masih suamiku! Jadi mulai besok gunakan masker dan kacamata hitam, agar mereka tidak dapat melihatmu. Dan kurangi sikap baikmu yang dapat membuat orang lain salah paham!" ujar Luna ketus.


"Baik nona jika itu perintahmu" jawab Rey sambil tertawa kecil.


"Jangan menertawakan ku!! Itu membuatku bertambah kesal" wajah Luna memerah lagi.


"Ya ya ya baiklah istriku yang cantik"


"Kau benar-benar ingin aku memukulmu ya!"


Rey tersenyum senang, ia merasa Luna mulai memperhatikannya. Ia sangat bersyukur dan berharap bisa terus diperhatikan oleh nona mudanya itu.

__ADS_1


"Aku kesal dan menjadi sangat lapar" ucap Luna lagi, ia melirik sinis kepada Rey.


"Ba... baik nona, aku akan mempercepat laju mobil ini agar bisa memasak yang enak untukmu"


"Ya itu lebih baik, kau hanya boleh perhatian dan baik padaku! Paham??!" Rey mengangguk setuju, ia melirik Luna sambil tersenyum.


♥️♥️♥️


Rey dan Luna sedang memasak bersama, Luna meminta Rey mengajarinya memasak walaupun prakteknya Luna selalu marah karena membuat kesalahan lalu melimpahkannya kepada Rey.


"Beritahu aku yang benar! Lihat ini, kentang yang aku kupas kenapa dagingnya kecil sekali?" protes Luna, Rey tertawa melihat Luna memegang kentang kecil yang habis dikupasnya.


"Nona terlalu tebal mengupas kulit kentang itu, dagingnya jd banyak ikut terbawa"


"Kalau aku mengupasnya terlalu tipis itu akan mengenai tanganku!"


"Gunakan ini" Rey memberikan alat pengupas wortel.


"Bagaimana caranya?" Luna memandang aneh ke arah pengupas itu.


Rey mengambil satu buah kentang, ia mengupasnya perlahan-lahan agar Luna mudah memahaminya.


"Aaah jika hanya seperti itu aku bisa" ujar Luna mengambil paksa kentang dan mengupasnya dari tangan Rey.


"Aduuuuh" tangan Luna berdarah.


Rey terkejut langsung mengambil tangan Luna dan mengemut jari Luna yang terluka. Luna melihat ke arah Rey dengan tatapan kagum, ia membiarkan Rey mengemut tangannya.


Rey memegang tangan Luna lalu mengajaknya duduk di sofa.


"Kau duduk disini, aku akan mengambilkan kotak obat untukmu" ucap Rey lalu berlari ke lemarinya.


Semakin lama Luna semakin tahu sikap Rey yang lembut dan penyayang, ia ingin disayangi lebih banyak oleh Rey.


Apa boleh aku serakah untuk memiliki Rey lebih lama?


Ucap Luna dalam hati, rasanya ia ingin meneriakkan isi hatinya.


"Baiklah sudah selesai" Rey memperban jemari Luna.


"Sudah?" Luna terkejut.


Rey mengangguk lalu tersenyum.


"Nona duduk saja, aku tak mau kau terluka lagi"


"Aku mau memasak" Luna merengek.


"Jika kau memaksa, lama-lama darahmu bisa habis karna luka itu" ucap Rey menakut-nakuti Luna.

__ADS_1


"Biarkan aku melakukan sesuatu, bila hanya duduk itu sangat membosankan!"


"Ini.." Rey memberikan remote televisi pada Luna, Luna menggeleng.


"Aku mau membantumu didapur, apa kau mau menolak bantuanku!" ujar Luna kesal.


Rey memikirkan hal apa yang bisa Luna lakukan didapur, ia pun mendapatkan ide.


"Nona bisa mencuci sayuran kalau begitu"


Luna sangat bersemangat ia mendahului Rey berjakan menuju dapur.


"Sayuran apa yang harus aku cuci?" tanyanya antusias.


Rey menunjuk sayuran yang sudah ia potong dan ditaruh didalam tempat penyaring. Luna berjalan mendekati sayuran yang akan dicucinya dengan wajah sombong.


"Baiklah, kau lihat ini. Aku sangat pandai dalam hal ini" ucap Luna yakin.


Rey melihat Luna bersemangat, wajah Luna terlihat sangat berseri dan polos membuat Rey menjadi merasa tak salah jatuh hati padanya. Rey mendekati Luna dan memeluknya dari belakang, Luna terhenyak.


"Nona izinkan aku sebentar saja memelukmu" ucap Rey sambil mencium rambut Luna.


Luna terdiam, ia juga menginginkan hal yang sama namun ia tidak mau memulainya.


"Apa kau benar-benar ingin ku pukul!?" Luna menjaga gengsinya"


"Kau boleh memukulku nanti" Rey mempererat pelukannya, membuat Luna mulai menikmati pelukan Rey.


Tanpa Rey duga, Luna merenggangkan pelukannya dan memutar badannya. Luna mengalungkan tangannya di leher Rey, ia menatap Rey dengan mata sendu.


"Maafkan aku nona" Rey mendekati wajahnya kepada Luna, Luna seperti tidak ingin menolaknya.


Rey mendekatkan bibirnya ke bibir Luna, Luna mulai menutup matanya.


Tulalit... tulalit...


Ponsel Rey berbunyi dengan kencang, mereka berdua terkejut. Luna melepaskan pelukannya, ia tersadar dari sebuah khayalan yang hampir saja menjadi kenyataan.


"Ponselmu sangat berisik!!" seru Luna ketus.


Rey segera mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja ruang tamu, tertulis nama Yasmin disana.


"Halo nona Yasmin?"


Luna ingin sekali mengambil ponsel itu dan melemparnya ke jendela.


"Apa kau sedang sibuk?" tanya Yasmin diujung telpon.


Rey melihat ke arah Luna, Luna pura-pura tidak peduli dan memalingkan wajahnya ke sayuran yang harus dicucinya.

__ADS_1


"Aku sedang memasak saat ini, ada apa nona?"


"Aku butuh bantuanmu, Rey. Bisakah kau datang ke galeriku segera?"


__ADS_2